Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
111. SP 2. 14. Pasal merepotkan.


__ADS_3

"Jambuuuu.. kurang ajar..!!!!!!" Bang Rico terus mengumpat jengkel. Kepalanya sakit, badannya pun ngilu.


"Awas saja kamu dek. Abang juga punya batas sabar"


Ia menyambar ponselnya dan menghubungi Bang Pandu.


~


"Sabar Rico.. memangnya kantornya mbahmu, bisa cepat begitu"


"Duuuhh Abang.. kalau kelamaan bisa habis saya Bang. Satu atau dua hari sih saya tahan, tapi anak buah nih protes terus.. kalau sudah ngamuk.. terus bikin ulah, selesai saya di hajar Dan Garin" kata Bang Rico mengingatkan Bang Pandu.


"Sabar.. seminggu lagi lah" jawab Bang Pandu.


:


"Apa-apaan nih???" Bang Rico melihat sepanjang tembok rumah tertempel banyak kertas tertulis PASAL JIHAN.


"Mengetuk kamar tanpa ada kepentingan yang jelas, denda seratus ribu" Bang Rico membaca kertas pertama.


Bang Rico mengambil kertas yang kedua.


"Menyenggol Jihan.. denda dua ratus ribu"


"Apalagi sih ini" gumam Bang Rico.


"Berani punya pikiran kotor.. denda tiga ratus ribu" baca Bang Rico lagi.


"Sampai ada pelecehan di rumah ini, denda lima ratus ribu. Berani melanggar terang-terangan.. denda double dua kali lipat"


"Oohh.. begitu, di rumah ini saja khan... berarti di tempat lain boleh. Kalau denda hanya lima ratus ribu sih kecil.. jangankan lima ratus ribu, semua uang Abang juga boleh kamu rampok asalkan kamu mau Abang titipi adiknya Gazha" gumamnya kembali menempel kertas itu seolah tak peduli kemudian ia mengambil dompetnya di atas lemari hias.


"Kita lihat.. apa uang di dompet cukup untuk bayar denda" kata Bang Rico dengan tersenyum nakal. Ancaman receh seolah tak berlaku bagi Lettu Rico.


"Cukup lah, besok kita mulai selesaikan misi" Bang Rico meletakan dompet itu kembali di atas lemari.


***


tok..tok..tok..


Jihan terbangun dari tidurnya. Semalaman dirinya ketiduran di kamar Bang Rico. Jihan pun membuka pintu.


"Bangunkan orang nggak jelas. Ada apa?" tanya Jihan.


"Kamu mau lihat Abang berangkat kurve pakai kolor aja? Baju Abang ada di kamar" jawab Bang Rico kemudian masuk sambil sengaja menyenggol lengan Jihan bahkan sampai menyentuh perut langsing Jihan terang-terangan.


"Abang nggak baca pasal Jihan?"


"Baca." Jawab Bang Rico santai.


"Mana dendanya?" tanya Jihan dengan suara seakan menakuti.


"Nanti.. Abang mau ganti baju dulu" ucap Bang Rico dan Jihan masih tetap berdiri di kamar itu.


"Abang mau ganti baju. Kamu mau lihat??" Bang Rico membuka handuk yang terlilit di pinggang di hadapan Jihan.

__ADS_1


"Aaaaaa" Refleks Jihan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Kamu kenapa? Berharap lihat rudal nyasar? Enak saja.. di kasih gratis kamu nggak mau, sekarang Abang simpan baik-baik" ucap Bang Rico.


Jihan membuka tangannya.


"Hwaaaaa.. " Jihan menutup matanya sampai merosot lemas. Tak pernah terbayangkan dirinya melihat sesuatu yang tidak pernah di lihatnya selama ini. Bang Rico menipunya mentah-mentah.


"Hahahaha... tau rasa kamu sekarang..!! Biar sawan sekalian" Bang Rico kembali menutup badannya dengan handuk.


~


Bang Rico sudah rapi dan akan berangkat kurve bersama anggotanya. Ia merokok di temani segelas kopi di sampingnya karena dirinya tidak terlalu terbiasa sarapan pagi.


"Huuufftt.. penyakit jantungan laki-laki yang pertama itu asalnya dari wanita" gumamnya sambil mengusap dadanya merasakan juniornya yang belum juga tenang.


"Mana duitnya Bang? double.. plus biaya kaget" Jihan sudah menodongkan tangan di depan wajah Bang Rico. Wajahnya


"Ya di dompet.." jawab Bang Rico.


Jihan pun berlari ke tempat biasanya Bang Rico meletakan dompet dan segera mengambilnya, tapi karena dirinya tidak seberapa tinggi.. ia susah juga mengambilnya. Tak kurang akal, Jihan menyodoknya dengan kemoceng.. akhirnya dompet Bang Rico jatuh. Ia pun mengambilnya.


Disana, Jihan cukup terkejut karena fotonya terpajang di depan. Rasa penasaran nya kembali mencuat. Ia menggeledah isinya. Jihan mengambil semua uang dan meletakkannya di meja, ia lalu membongkar apa saja yang ada disana. Tak satu pun ia melihat foto Mbak Asya.


"Ada nggak dek? Kenapa lama sekali?" tanya Bang Rico sambil berjalan menghampiri Jihan.


Saking kagetnya Jihan.. semua yang berserakan itu akhirnya berjatuhan di lantai. Bang Rico pun berjongkok dengan tenang lalu membereskan semua benda yang berjatuhan.


"Cari apa? Uangnya kurang?"


"Kenapa ada foto Jihan dan bukan foto Mbak Asya?" tanya Jihan ragu.


plaaaaakkk..


"Abang mau tumbalin Jihan??" Jihan menepak bahu Bang Rico.


"Iyalah.. rumah ini khan angker. Syarat biar lelembut itu pergi.. Abang harus setor perempuan yang usil dan banyak tingkah" bisik Bang Rico di telinga Jihan. Tangan itu menyambar uang yang Jihan pisahkan.


"Nih.. cepat belanjakan dan habiskan uang ini sebelum dia mengincar mu" Bang Rico menggenggam kan uang itu di tangan Jihan lalu pergi meninggalkan Jihan sendiri.


...


Jihan sampai tidak fokus menyiapkan perlengkapan kuliahnya juga perlengkapan Gazha yang besok akan sekolah paud.


"Mama.. salah, ini kotak pensil mama.. bukan punya Gazha" kata Gazha.


"Oiyaa.. salah ya Bang. Maaf ya..!!" Jihan kemudian membereskan lagi barang Gazha.


"Ayah jahat sama Mama ya? Ayah nggak sayang sama Mama?" tanya Gazha.


"Nggak kok Bang. Ayah nggak jahat. Ayah baik sekali sama Mama. Besok kita berangkat sekalian bayar uang sekolah Abang Gazha ya. Mama sudah di kasih uangnya nih sama Ayah" Jihan menunjukan uang dari hasil penjarahan di dompet Bang Rico.


Tanpa sepengetahuan Jihan. Bang Rico sudah lama berdiri di balik pintu dan melihat semuanya dengan jelas. Ia pun tersenyum getir melihat cara Jihan mendapatkan uang darinya.


***

__ADS_1


Suasana pagi begitu sibuk. Jihan akan pergi ke tempat kuliahnya yang baru sedangkan Gazha akan bersekolah di sekolah paudnya.


"Mama minta maaf ya Bang, nggak bisa temani Abang di hari pertama ini. Abang sama Ayah dulu ya. Besok Mama ambil kuliah siang biar bisa temani Abang sekolah" kata Jihan merasa sangat bersalah.


"Nggak apa-apa ma. Gazha berani kok. Yang penting Gazha punya Mama" jawab Gazha membuat hari Bang Rico dan Jihan begitu sakit.


"Nanti Abang jemput Gazha dulu baru jemput kamu di kampus" kata Bang Rico datar.


"Iya Bang" jawab Jihan.


...


Bang Rico tersenyum melihat putranya yang begitu pintar, berani dan mandiri.


"Coba Gazha.. siapa nama ayah?" tanya ibu guru.


"Ayah Rico"


"Nama ibu?"


"Gazha punya dua ibu. Bunda Gazha namanya Bunda Asya.. Bunda sudah tidur di surga, sekarang Gazha punya Mama.. namanya Mama Jihan.. tapi Gazha sayang semua" jawab Gazha.


Tanpa sadar hati Bang Rico tertusuk nyeri. Ia sampai bersangkutan di dinding sekuatnya menahan perasaan tak karuan.


"Iya nak, Mama Jihan mama mu.. dan selamanya akan menjadi Mamamu.


...


"Heeyy bodoh.. minggir..!!" teriak seorang wanita yang sedang mengendarai motor di pelataran trotoar parkir kampus.


"Maaf mbak" Jihan memilih mengalah dan memberi jalan meskipun pengendara itu salah.


"Mahasiswa tingkat berapa nih? Mahasiswa transferan ya" gumam gadis itu.


"Awas kau nanti"


Jihan tak peduli, ia melanjutkan kuliahnya karena ingin segera lulus, bukan untuk mencari musuh.


:


Dari jauh Bang Rico melihat Jihan sempat berdebat dengan seorang wanita.


"Kenapa dek? Ada masalah kamu sama dia?" tanya Bang Rico.


"Nggak ada Bang. Biasa lah, ada saja khan senior yang suka cari ribut" jawab Jihan.


"Kalau ada apa-apa, bilang sama Abang..!! Jangan sampai kamu sakit gara-gara orang lain" ucap Bang Rico.


"Waahh.. perhatian sekali" Jihan tersenyum lebar.


"Jelas saja. Siapa yang mau beres-beres rumah kalau kamu sakit. Rugi donk bayar denda banyak"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2