
"Bagaimana ceritanya Ric? Kenapa bisa jadi seperti ini??" Bang Yudha akhirnya mengantar Bang Rico dan Dinda setelah mendengar keributan saat ia pulang kerja. Danton nya mengomel padahal sang istri sudah tidak sadarkan diri.
"Asya mengira Lingga anak ku Bang, dia cemburu banget sama Netta" jawab jujur Bang Rico.
"Kamu juga sih? Lain kali kalau urusan sensitif begini jangan sampai ceroboh Ric. Kalau sudah seperti ini.. rasanya kita nyemplung sumur pun nggak cukup" kata Bang Yudha.
"Kau tau.. Netta itu juga luar biasa cemburunya. Intinya semua perempuan sama saja. Kalau sudah urusan perempuan.. sudah sakral seperti letusan pistol"
"Iya Bang.. benar. Apalagi sampai begini ini. Duuhh.. atiku rasane ora karuan Bang" mata Bang Rico sudah berkaca-kaca karena cemas.
...
Bang Rico duduk lemas di samping Asya saat Bang As menangani istrinya. Sesuai perjanjian.. Bang As bersedia menangani istri littingnya asal Bang Rico diam, tenang dan tidak menggangu jalannya pemeriksaan, begitu juga Bang Rico yang meminta syarat agar di perbolehkan menemani Asya selama pemeriksaan berlangsung.
"Masih bisa di selamatkan Ric. Alhamdulillah kamu lumayan gerak cepat. Istilahnya.. kandungan ini hanya kaget saja, selain Asya stress juga karena obat-obatan yang bisa di bilang sangat keras sudah cukup membuat bayimu syok.
Tanpa kata Bang Rico menyandarkan kepalanya, berbaring di samping Asya. Tak hanya bayinya yang syok.. dirinya juga ikut syok dengan kejadian ini.
"Alhamdulillah Ya Allah.. jantungku rasanya mau lepas As. Hhffftt.." Bang Rico mengurai nafas kelegaan.
"Aku sudah memberinya tambahan obat penetral, mudah-mudahan Asya cepat sadar dan bisa segera pulih" kata Bang As.
"Iya As.. terima kasih bantuanmu..!!"
...
Asya setengah memalingkan wajahnya, ia baru sadar kelakuannya sudah membuat Bang Rico kelabakan setengah mati.
"Dek.. sudah bangun?" tanya Bang Rico.
"Hmm.." jawab Asya malas.
"Masih marah ya sama Abang?"
"Uda tau.. tanya" Asya malas sekali melihat wajah Bang Rico. Entah kenapa melihat wajah suaminya rasanya jadi ingin mual dan pingsan.
Bang Rico berdiri dan beranjak meninggalkan Asya.
"Mau kemana??" tanya Asya.
"Katanya masih marah sama Abang" Bang Rico bingung juga dengan sikap Asya.
"Abang mau tinggalin Asya gitu aja?? Ini anak siapa yang buat" ucap ketus Asya.
"Ya Abang..!!" jawab Bang Rico pelan.
"Terus kenapa Abang mau tinggalin Asya sendiri? Abang nggak mau tanggung jawab?????"
__ADS_1
"Astagfirullah dek.. ngomongnya kok gitu. Abang nih nggak lagi hamilin pacar terus Abang tinggal kabur. Abang hanya mau merokok sebentar di luar. Kamu juga lagi marah sama Abang" Bang Rico mencoba menenangkan Asya.
"Alasan..!!"
Bang Rico pun duduk kembali dan membuang nafasnya perlahan.
"Ya sudah, Abang nggak kemana-mana. Tidur lagi ya..!!"
"Tapi Asya nggak mau lihat wajah Abang"
"Astaga.. piye to iki. Terus Abang harus gimana??" tanya Bang Rico.
:
Bang Rico duduk memakai kacamata hitam dan masker wajah, tak lupa helm matan yang ia pinjam dari kantor.
"Gitu khan ganteng" Asya kemudian baru tenang dan memejamkan matanya.
Bang Rico tak sanggup membayangkan di setiap harinya harus memakai perlengkapan seperti ini karena Asya tidak ingin melihat wajahnya.
"Masa Abang mau lihat istri saja harus begini sih dek? Abang bukannya mau perang" kata Bang Rico.
"Tapi anak Abang kesal lihat ayahnya" jawab Asya.
"Tas kecilmu masih ada di mobil nggak?" tanya Bang Rico.
:
Asya tertawa terbahak melihat Bang Rico memakai maskara. Tangannya lumayan lentik apalagi saat mengoles blush on.
"Abang belajar darimana pakai make up begitu?"
"Ya ini.. lihat dari tutorial di video. Abang penasaran kenapa perempuan sekarang bisa cantik, tapi cantiknya tidak natural seperti wanita jaman dulu" kata Bang Rico kemudian memasang lipstik warna merah merona dan sedikit memonyongkan bibirnya.
"Cantik kok Bang.. cantik sekali" Asya masih tertawa melihat Bang Rico dengan wajah cantiknya.
"Yuukk cyiiinn" Bang Rico menirukan gaya bicara wanita gaul masa kini. Mata Bang Rico berkedip-kedip nakal.
tok..tok..tok..
"J****k, ngisin-ngisini.. sopo sih???" Bang Rico kelabakan saat ada suara ketukan pintu.
"Bu Rico.. apa kabar??" goda Bang Winata yang tiba-tiba masuk bersama Bang Yudha.
"Baik Abang-abang..!!" jawab Asya lembut tapi menahan tawanya.
"Selamat pagi Bang..!!" sapa Bang Rico.
__ADS_1
"Wadaaww.. siang bolong kenapa pakai masker, kacamata, topi..!!" Bang Yudha gemas sekali melihat tampilan juniornya yang tidak biasa.
"Masa ketemu Abang-abangmu begitu penampilannya.. tegur Bang Yudha.
"Siap salah..!!" Jawab Bang Rico.
Asya semakin tertawa terbahak tapi seniornya itu kebingungan tak tau apa yang terjadi.
"Kenapa sih? Buka maskernya..!!" Bang Winata mulai kesal.
"Nggak ada apa-apa Bang. Asya hanya mual lihat saya" kata Bang Rico berkilah.
"Pasti ada apa-apa nya nih.. jangan-jangan ini bukan Rico" Bang Yudha segera menyergap Bang Rico.
"Abaang.. ini saya Bang..!!" pekik Bang Rico berjingkat-jingkat.
"Buka topengnya Win..!!!" perintah Bang Yudha.
Topeng Bang Rico sudah terbuka.. Bang Rico dan Bang Yudha saling menatap.
"Haaahh.. Audzubillahiminasyaitonirojim...!!!!!"
Bang Rico memonyongkan bibirnya seolah berniat mencium Bang Yudha.
"Astagfirullah hal adzim..!!!!" geli sekali Bang Yudha melihat juniornya.
"Ya salam.. kesurupan dimana kamu ini??" gumam Bang Winata.
plaaaaakkk.. plaaakkk..
"Aduuuuuhh..!!" Bang Rico berusaha terus mengindari Bang Yudha yang menampari pipinya.
"Sadar kamu Ric, jangan sampai frustasi buat kamu pengen jadi perempuan..!!!" bentak Bang Yudha.
"Saya ini cari cara biar Asya nggak mual lihat wajah saya Bang" pekik Bang Rico memberontak.
"Sekarang ganti saya yang mual lihat wajahmu Ric. Bisa cantik begitu ya..!!" Bang Yudha heran melihat wajah Bang Rico.
"Lepas dah Bang.. atau saya cium nih" ancam Bang Rico.
"Ricoo..!! Gelii aahh..!!" ucap Bang Yudha gemas.
.
.
.
__ADS_1
.