
Bang Vian membuang nafas lega. Aira pun tersenyum malu-malu. Agaknya Bang Vian sudah membuat sang istri merasa nyaman hingga Aira luluh dan tenang dalam pelukan Bang Vian.
"Kenapa lihat Abang begitu?" tanya Bang Vian masih dengan nafas ngos-ngosan.
"Abang gagah sekali" puji Aira jujur, entah kenapa kata itu meluncur begitu saja dari bibir Aira.
"Jelas donk.. punya siapa dulu" kata Bang Vian sembari mencubit dagu Aira.
"Lagi??" tanya Bang Vian dengan nakal.
Aira pun mengangguk, wajahnya memerah.
***
Jihan bersandar di ruang kerjanya, tak berbeda jauh dengan Aira yakin duduk tanpa gairah di ruang Bang Vian.
"Aduuhh.. kamu kenapa lari-lari Vian??" tegur Bang Rico saat melihat Bang Vian membawa air mineral kemasan. Mereka berdua bertabrakan karena sama-sama berlari berbeda arah.
"Maaf Bang.. ini saya mau antar minum untuk Aira" kata Bang Vian.
"Memangnya Aira kenapa?" tanya Bang Rico.
"Sejak semalam lemas Bang, badannya demam." jawab Bang Vian.
"Oohh iya, semalam Abang dengar Aira muntah" kata Bang Rico.
"Itu saya Bang. Lihat ikan goreng rasanya mual, padahal saya suka sekali ikan"
"Waaahh.. suruh Aira pakai testpack.. jangan-jangan hamil tuh Vi" saran Bang Rico.
"Apa iya Bang. Saya menikah baru satu setengah bulan" Bang Vian menerka tapi hatinya pun penasaran.
"Abang saja sekali senggol langsung jadi Vi. Barangkali memang Aira hamil. Siap-siap saja kau jadi tempe" ucap Bang Rico terbahak kemudian berlalu pergi.
Apa iya Aira hamil?? Cepat sekali aku mau jadi bapak.
:
"Carikan Abaaaaang..!!" pinta Aira yang sejak semalam memang rewel.
"Abang mau cari dimana sate bekicot??" Bang Vian mulai merasa ada yang janggal dengan istrinya.
"Cari dimana saja yang penting dapat..!!"
"Iya.. iyaa.. tunggu sebentar" Bang Vian mengambil ponselnya dan mengirim berita di group kantor.
Mohon ijin Komandan dan rekan semua. Barangkali ada yang tau info sate bekicot.. Tolong minta segera infonya. Terima kasih.
//
__ADS_1
Bang Rico membaca informasi dari Bang Vian, Seketika tawanya pecah.
"Rasain lu, baru tau khan rasanya momong istri ngidam" celetuk Bang Rico yang akhirnya harus mendapatkan sorotan tajam dari Jihan.
"Jadi istri hamil itu menyusahkan ya Bang?? Abang pikir siapa yang buat Jihan jadi begini??" ucap Jihan sampai cemberut.
"Bukan begitu maksud Abang dek. Maksudnya tuh Abang........."
"Halaaahh.. alasan. Bilang saja kalau Jihan menyusahkan" omel Jihan kemudian berjalan cepat menuju pintu.
"Ya Salam.. repot nih urusannya." Gumam Bang Rico.
Baru akan membuka pintu, Jihan sudah oleng dan badannya kembali lemas.
"Tuh khan.. inilah kalau hanya marah saja yang di gedein..!! Bang Rico kembali mengomel melihat Jihan lemas.
"Abang.. Jihan mau pulang" pinta Jihan.
"Ya sudah ayo kita pulang" Bang Rico akhirnya membawa Jihan pulang ke rumah.
//
Aira terus saja muntah di wastafel ruang kerja Bang Vian tapi anehnya kali ini Bang Vian yang begitu lemas.
"Kamu jangan makan apa-apa lagi dek. Kamu yang muntah, Abang yang lemas" kata Bang Vian.
"Maksud Abang.. cari makanan yang tidak menimbulkan aroma tajam. Ini bakso, gulai, durian. Abang nggak tahan baunya dek" jawab Bang Vian.
"Tapi Aira mau makan itu semua Bang" kata Aira.
Bang Vian mengusap bibir Aira yang basah.
"Astaga Tuhan, ini khan kamu muntah.. jangan beli lagi dek. Mubadzir." Bang Vian menyangga tubuhnya pada wastafel, ia merasa kepalanya pening berputar-putar.
Bang Vian mencoba melangkahkan kaki tapi peningnya semakin terasa.
"Ya Allah.. rasanya Abang mau pingsan." gumam Bang Vian sambil memijat keningnya.
"Bang.. Abang nggak apa-apa??"
"lemes dek..!!" akhirnya Bang Vian merosot di samping wastafel.
"Abaaang..!!!"
:
"Jiangkriiiikk..!!!" Bang Rico langsung menutup pintu ruangan Bang Vian dengan kasar. Ia mengira juniornya itu sedang bermesraan dengan sang istri.
"Abaaang.. tunggu, kami nggak buat macam-macam. Bang Vian lemas, jadi Aira buka bajunya" kata Aira.
__ADS_1
Bang Rico pun kembali membuka pintu.
"Dia kenapa?"
"Ikutan mabuk seperti Aira Bang, tapi kebagian lemesnya aja" jawab Aira.
"Oalah...tau rasa khan lu sekarang" kata Bang Rico.
Bang Vian mengangguk tanpa daya. Rasanya tenaga nya habis terkuras sia-sia.
"Minta tolong antar Bang Vian ke rumah ya Bang.. Aira takut Bang Vian pingsan di jalan" pinta Aira.
"Iya, nanti Abang bantu antar"
...
Sesampainya Bang Rico dari mengantar Bang Vian.. ada seorang anggota Bang Rico mengantarkan paket yang lumayan besar dan kebetulan saat itu Jihan yang menerimanya.
"Ini dari siapa ya om?" tanya Jihan.
"Ijin ibu.. saya tidak tau. Kurir hanya mengantarkan paket ini untuk Pak Rico" jawab anggota pos jaga.
"Oiya om. Terima kasih banyak"
"Siap ibu. Sama-sama"
~
Bang Rico masih menggosok rambutnya. Udara sore itu terasa sangat panas.
"Siapa dek?" tanya Bang Rico.
"Nggak tau Bang. Nggak ada nama pengirimnya" jawab Jihan.
"Kok aneh? Coba buka..!!" perintah Bang Rico.
Jihan pun membuka kardus tersebut dan saat Jihan membukanya.....
"Abaaaaang.." pekik Jihan dan seketika itu juga pingsan. Kepalanya membentur pinggir lemari hingga mengeluarkan banyak darah.
"Jihaaan.. Astagfirullah..!!!!!!"
.
.
.
.
__ADS_1