
Pagi hari Bang Vian menggigil kedinginan. Badannya semakin demam dan itu membuat para anggota yang bertugas jaga di ruangan Bang Vian menjadi panik.
~
Ponsel Bang Rico berdering nyaring saat dirinya sedang menikmati sarapan paginya. Saking kagetnya, Bang Rico sampai tersedak makanan.
"Pelan-pelan Bang" Jihan menyambar air minum dan langsung mengangsurkan ke bibir suaminya. Pagi ini Bang Rico terlambat bangun karena ulahnya sendiri yang ingin terus bermanja-manja di atas ranjang.
"Apa sih ini, pagi-pagi sudah ada info group saja" gerutu Bang Rico.
"Aaa lagi Bang..!!" Jihan menyodorkan makanan ke mulut Bang Rico.
"Abang Gazha ngalah dulu sama ayah ya nak..!! Ayah keburu berangkat kerja nih" bujuk Jihan pada putranya karena belakangan ini Bang Rico jauh lebih rewel dan sangat manja padanya.
"Iya Mama. Ayah duluan saja. Kasihan ayah lapar" jawab Gazha sambil menyantap tahu goreng buatan Jihan.
"Ya ampun.. kenapa lagi ini si Vian????? Demam tinggi sampai menggigil. Di rumah sakit bukannya sehat.. malah tambah sakit" gumam Bang Rico sambil mengunyah makanan.
"Tambah lagi sayurnya dek, Abang masih lapar" pinta Bang Rico.
Gazha tertawa geli melihat ayahnya.
"Ayah sayang sama mama nggak?" tanya Gazha.
"Biasa aja" jawab Bang Rico enteng.
"Iihh ayah.. harus sayang Mama donk. Mama sudah masak buat kita, capek bersih-bersih rumah, masa ayah nggak sayang sama Mama. Kalau nanti Mama pergi.. ayah nggak sedih?" pertanyaan Gazha seketika merubah raut wajah Bang Rico. Terlintas wajah Asya dalam benaknya, ada rasa sakit tapi tidak sesakit saat kehilangan dulu.
"Sedih.. sedih sekali karena ayah sayang Mama, sayang Abang.. juga sayang dedek yang masih ada di dalam perut Mama" jawab jujur Bang Rico. Matanya mulai berkaca-kaca.
Disana malah Jihan tersenyum nakal.
"Ciyeeeee.. yang sudah jatuh cinta sama Jihan" godanya.
"Ini bumil satu minta di reset mode polos rupanya. Bisa-bisanya di saat seperti ini godain Abang" tegur Bang Rico.
"Tapi suka khan Abang kalau di godain?" tanya Jihan berkedip-kedip nakal.
__ADS_1
Bang Rico segera mengambil ponselnya.
"Tolong asuh anak saya, lalu antar anak saya ke sekolah ya..!! Apel di ambil alih piket jaga, saya dan istri masih ada perlu sebentar..!! tugas dadakan dari pusat..!!" ucap Bang Rico pada anggotanya sambil menatap mata Jihan dengan wajah gemas siap menerkam.
"Siap Komandan..!!" jawab anak buah Bang Rico.
Wajah Jihan seketika berubah cemas, kalau sudah seperti ini sudah bisa dipastikan Bang Rico tidak akan melepaskannya begitu saja.
"Jangankan tubuhmu.. suaramu saja sudah cukup menggoda Abang" ucap jujur Bang Rico.
//
Papa Garin melewati pintu gerbang Ksatrian asrama Bang Rico, entah kenapa sejak ada Gazha.. ia ingin selalu bertemu cucunya itu. Ia malas bekerja dan hanya ingin bermain dengan Gazha. Lamat ia melihat sang cucu sedang di asuh para anggota remaja. Papa Garin pun melajukan mobilnya dan parkir di samping pos lalu turun menghampiri Gazha.
"Lho.. Gazha kenapa disini? Ayah sama mama mana?" tanya Opa Garin.
"Di rumah opa.. Ayah tergoda suara Mama" jawab Gazha dengan polosnya.
Secepatnya tangan Papa Garin membungkam mulut Gazha dengan senyum salah tingkah.
"Rico ini kelewatan.. benar-benar sableng, anak sampai di asuh orang cuma perkara babat alas" gumam Papa Garin.
...
Opa Garin menemani Gazha sekolah di play group. Teman-teman Gazha sangat senang ada Opa Garin, tapi di sana.. para guru yayasan jadi salah tingkah karena Opa Garin juga merupakan Komandan tinggi di wilayah itu.
"Kalau begitu, opa saja yang jadi pohon di pojokan. Nanti opa nangis karena nggak mau di tebang" kata Gazha memberi ide untuk pembelajaran mereka hari ini dengan tema lingkungan hidup.
"Opa pakai daunnya di kepala..!!" pinta Gazha.
"Huuufftt.. untung saja sayang cucu" gumam Papa Garin.
...
Bang Rico menepuk p****t Jihan yang tidur dengan pulasnya. Tak lupa ia menciumi wajah Jihan berkali-kali.
"Terima kasih banyak dek." Bang Rico tak tau lagi bagaimana lagi mengungkapkan perasaan untuk Jihan. Istrinya itu sudah membuatnya sungguh tergila-gila. Jihan yang sedikit lebih berani mengekspresikan diri malah semakin melayangkan hasrattnya ke awang-awang.
__ADS_1
"Abang nggak akan sanggup memikirkan wanita lain. Kamu sudah membuat Abang hilang akal karena kamu memenuhi segala yang Abang butuhkan"
Jihan menggeliat karena ada sentuhan kecil di tangannya.
"Abaaang.. mau rambut goreng..!!" pinta Jihan.
Seketika pikiran Bang Rico langsung buntu. Ia melirik dan mengintip Jihan, memastikan istrinya itu sedang mengigau atau tidak.
"Dek, kamu ngelindur?" tanya Bang Rico.
"Iiihh.. mau rambut goreng" pinta Jihan lagi.
"Opo iku?"
"Abang nih nggak asyik. Taunya hanya ngokang senjata aja" ledek Jihan.
"Lah itu khan buat kamu juga" jawab Bang Rico.
"Pokoknya cari itu rambut goreng sampai dapat..!!"
...
Para anggota terdiam menerawang dengan pikiran masing-masing. Sudah setengah jam Bang Rico berkacak pinggang belum dapat menemukan jawaban tentang makanan yang di inginkan Jihan.
"Kenapa malah temu kangen disini?" tegur Dan Garin melihat Bang Rico dan para anggota hanya terdiam.
"Jihan minta rambut goreng. Itu apa ya Pa. Saya nggak paham sama maunya Jihan" swab jujur Bang Rico.
"Oohh.. telur gulung" jawab Papa Garin dengan entengnya.
Bang Rico menepuk dahinya.
"Haaahh.. astaga. Mikir sampai rambut rontok ternyata hanya telur gulung"
.
.
__ADS_1
.
.