
"Indah namamu mengandung banyak makna. Nafa adalah bunga yang indah.. tapi Fasya adalah bunga terindah.. Jika tidak keberatan.. pakailah nama Fasya dalam hidupmu. Tinggalkan semua air matamu.. dan tersenyumlah dengan dunia barumu. Anggap saja pertemuan kita hanya sebuah bayangan, bayangan gadis kecil yang sedang menunggu pangeran sejatinya.. tapi apapun itu, Abang akan selalu mengembangkan sayap untuk melindungi kamu yang tersayang"
Nafa tak sanggup lagi tenang. Tangisnya meraung tak karuan. Disana hati Bang Pandu begitu sedih. Tanpa perintah, ia memeluk gadis berjilbab itu dengan erat.
"Dia pahlawan bangsa. Kamu beruntung memilikinya dalam hidupmu" kata Bang Pandu.
"Fasya sayang.. jika boleh Abang minta tolong. Temuilah ibu Abang yang sudah tua renta di kampung. Saudara Abang tak ada lagi, hanya Abang yang beliau punya.. beliau sudah sangat sepuh dan kadang tidak lupa mengingat sesuatu. Tolong katakan pada ibu, kalau Abang sedang berangkat tugas dalam waktu yang lama.. agar ibu tenang dan tidak menunggu Abang lagi. Dan untukmu gadis tercantik.. Abang akan selalu........ mencintaimu" terdengar suara gemuruh keributan bahkan sampai suara teriakan frustasi dari seseorang Disana.
Nafa ambruk di pelukan Bang Pandu. Ponsel itu pun terjatuh.
"Tolong antar saya ke rumah sakit..!!"
Mama Dinda lemas dan di bantu beberapa anggota sedangkan Papa Wira sibuk dengan urusan kematian Bang Acep. Tapi melihat Nafa masuk ke dalam mobil.. Papa Wira pun menjadi panik.
"Bagaimana Nafa?" tanya Papa Wira.
"Syok Dan..!!" jawab Bang Pandu cemas.
"Ya sudah.. om menyusul dengan mobil di belakang. Kamu sama Tante satu mobil..!!" perintah Papa Wira.
"Siap..!!"
...
"Jangan di tekan ya Asya.. ini masih bisa di selamatkan..!!" Bang As ikut bingung karena Asya terus mengejan.
Asya terus menggeliat menahan sakitnya.
"Ini belum waktunya untuk anak kita keluar sayang. Abang nggak tega, nggak sanggup lihat kamu seperti ini, tapi kasihan juga kalau si dedek harus lahir sekarang." bujuk Bang Rico melupakan seluruh rasa sakit di tubuhnya sendiri.
"Rasanya terlalu sakit Bang" jawab Asya lirih.
__ADS_1
Bang Rico menoleh menatap mata dokter As. Tangannya mengusap punggung Asya yang sedang berada dalam dekapannya.
"Ini wajar Ric, mengingat riwayat keadaan Asya sebelumnya. Bisa mencapai tahap ini tanpa hambatan.. ini sudah hal yang sangat baik, tapi.. kalau memang Asya sudah tidak mampu lagi, mau tidak mau anakmu harus di lahirkan juga hari ini. Menggunakan tindakan 'bedah'. Abang takut kelahiran normal akan beresiko" kata dokter As.
"Tapi Bang..!!" rasanya bibir Bang Rico kelu. Ada dua nyawa yang begitu berharga dalam hidupnya.
"Kami akan melakukan tindakan satu jam kedepan sesuai keputusan mu. Sementara obat untuk penguat paru sudah masuk ke tubuh istrimu." Bang As menepuk bahu Bang Rico kemudian meninggalkan juniornya itu bersama sang istri yang tengah berjuang demi si buah hati.
:
Bang Rico sudah memucat, rasanya ia sendiri sudah hampir pingsan merasakan tubuhnya. Dua peluru sudah keluar dari tubuhnya, satu tusukan tombak juga menembus tubuhnya. Teringat detik-detik perjuangan mereka.
flashback on..
"Awas Cep..!!"
"Nggak Bang..!!" Bang Acep menghalangi tubuh Bang Rico agar tidak terkena berondongan peluru hingga tembakan itu mengenai dada Bang Acep. Total tiga tembakan telak.
Abang janji akan pulang. Hanya Abang yang akan memperdengarkan adzan untuk pertama kalinya di telinga anak kita. Dan dengan tangan ini Abang akan perkenalkan dunia ini.
Bang Rico tumbang terkapar di tanah, sekujur tubuhnya memanas seakan mati rasa.
Terlihat Bang Pandu melempar granat hingga musuh mundur teratur dan menyerah bahkan pasukan mampu melucuti senjata musuh.
~
"Kenapa kamu bodoh Acep...!!!!!" bentak Bang Rico dengan sisa tenaganya. Saat itu adik iparnya usai merekam suara untuk sang istri.
"Ada istri yang menanti kepulangan Abang, Fasya ku wanita yang hebat.. dia pasti kuat kalau saya tinggal bertugas lama. Tapi berbeda keadaannya dengan istri Abang.. dia sedang membawa buah hatimu. Saya tidak tega jika dia bertanya bagaimana rupa bapaknya dan jika dia perempuan.. siapa yang akan mengantarnya ke pelaminan" ucap Bang Acep.
"Bang.. jika keponakanku sudah lahir. Titipkan salam saya untuknya. Saya sangat sayang padanya" Bang Acep menyerahkan sebuah kalung untuk Bang Rico.
__ADS_1
"SALAM SATU JIWA..!!!!" Bang Acep menutup mata dan sangat terasa nafas itu terputus untuk terakhir kalinya.
"B******n kamu Aceeeeeppp..!!! Ayo kita duel saja. Licik sekali caramu ini. Menang dengan cara seperti ini..!!" teriak Bang Rico sampai darah di dadanya kembali mengucur.
Nafas Bang Rico pun tersengal. Bang Yudha tidak bisa lagi menangani Bang Rico yang akhirnya tak sadarkan diri.
flashback off..
"Eeegggghhh.. Asya nggak kuat Bang..!!" ucapnya semakin menekan perut. Satu jam telah berlalu. Bang Rico mencoba mengintip di bawah sana.
"Ya Allah Tuhan.." Bang Rico menengadah memejamkan matanya tak sanggup melihat yang pemandangan yang membuatnya jantungan.
"Bang As..!!!!! Bu Bidan..!!" Bang Rico berteriak tak karuan sampai dokter As datang.
Bidan pun segera memeriksa kondisi Asya kemudian berbisik pada dokter As.
"Sudah yakin?" tanya dokter.
"Baiklah kalau begitu..!!"
Dokter As menatap mata Bang Rico.
"Bagaimana keputusanmu? Asya ..........."
.
.
.
.
__ADS_1