Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
50. Kenyataan pahit ( 2 ).


__ADS_3

"Asyaaaaaaa..!!!!!!" Bang Rico hampir pingsan melihat keadaan Asya.


"Bagaimana Ric?? Bang Yudha ikut panik me


Bang Rico jatuh bersimpuh merangkak mendekati Asya. Lelehan darah meluncur dari sela pahanya. Asya mengejang hebat.


Asya menyentuh pipi Bang Rico.


"Asya bukan ibu yang baik"


"Nggak.. Abang yang salah, Abang yang tidak becus jadi ayah"


...


"Asyaa.. sadar sayang..!!" Bang Rico sampai histeris melihat Asya, apalagi istrinya itu mengeluarkan banyak darah.


Asya sulit berkata-kata, hanya sakit luar biasa ia rasakan.


"Bang As.. tolong Bang..!!" Bang Rico menarik lengan Bang As yang berjaga UGD di rumah sakit saat itu.


"Ya Allah Ric, kenapa istrimu ini..????"


"Asyaa..!!" Bang Rico sampai lemas, kakinya gemetar.. tapi kemudian seseorang menopang tubuhnya. Bang Rico menoleh memastikan.


"Sabar.. biar istrimu di tangani dulu..!!" kata Bang Winata kemudian memeluk erat dan menepuk bahu Bang Rico memberi kekuatan.


"Bang.. aku......"


"Abang tau.. yang kuat Ric...!! Adik Abang nggak boleh lemah..!!" Bang Winata tau betul Bang Rico sedang sangat hancur.


Tak lama Bang As keluar dari ruang pemeriksaan UGD.


"Ric, aku butuh tanda tangan persetujuanmu.. bayimu harus di lahirkan, sudah 'jatuh' Ric, dan.....!!"


Dada Bang Rico terasa sesak. Sungguh pikirannya buntu.


...


Asya berteriak kesakitan saat tidak bisa mengejan.


"Jangan teriak dek, nanti tenagamu habis.. pukul saja Abang, atau kamu gigit tangan Abang juga nggak apa-apa" Bang Rico memegangi tangan Asya memberi kekuatan meskipun hatinya sendiri tidak kuat. Tangan kirinya mengusap rambut Asya.

__ADS_1


Asya hanya menangis menggigit bibir sekuatnya. Tenaganya sudah habis, bahkan bidan yang menolong menekan perutnya pun tak bisa berbuat banyak.


"Sekali lagi ya Bu Rico..!!" bujuk Bu Bidan.


Sayangnya.. saat Asya mencoba mengejan.. ia tak kuat lagi dan malah tidak sadarkan diri.


"Dek...Asyaa..!!" Bang Rico menepuk lembut pipi Asya.


"Rico.. kita harus cepat keluarkan bayinya.. tapi dengan tindakan khusus. Istrimu pendarahan, kamu tau khan bayimu sudah nggak ada"


"Iya.." Jawab Bang Rico dengan penuh penyesalan dan rasa sakit tak terlukiskan.


...


Dalam kain putih Bang Rico menerima sosok kecil yang hanya berbobot kurang lebih setengah kilogram. Kulitnya masih sangat tipis, bibir mungil, hidungnya mancung seperti dirinya. Bang Rico masih sempat menciumnya.


"Putri kesayangan ayah" awalnya ia berusaha kuat menahan diri untuk tidak menangis tapi hatinya terlalu sakit merasakan kehilangan, apalagi dirinya begitu menginginkan seorang anak dari rahim Asya tapi dirinya juga sakit melihat Asya, tak tega rasanya harus mengatakan semua ini.


Bang Rico terisak-isak, hancur lebur hatinya sampai ia mendekap bayinya kuat dan tak memperbolehkan siapapun menyentuhnya.


Bang Yudha pun terdiam karena dirinya amat sangat merasa bersalah dengan kejadian ini.


"Kita semua bicara setelah urusan bayinya Abangmu di makamkan..!!"


-_-_-_-_-


Bang Winata memapah Bang Rico di pemakaman, adiknya itu sudah terlalu lelah fisik dan batin. Saat melihat bayinya di makamkan pun Bang Rico begitu tidak tega.


Dengan kacamata hitam.. Bang Rico menutupi matanya yang sembab.


"Bang Win.. anakku Bang..!!" ucap sesak Bang Rico.


"Ini sudah ketentuan Yang Kuasa. Semoga setelah kejadian ini.. apapun itu.. bisa kita ambil pelajaran Ric"


-_-_-_-_-_-


"Abang nggak sanggup menghadapi semua ini dek. Abang yang sudah buat Asya kehilangan bayinya"


Netta terdiam seribu bahasa, tapi ia pun merasakan sakit yang sama dalam hatinya.


"Itu bayi dek, perempuan.. Rico pasti amat sangat menyayanginya. Abang tau dia sangat senang saat tau bayinya perempuan"

__ADS_1


Netta ikut menangis memeluk Bang Yudha.


-_-_-_-_-


Bang Rico masuk ke ruang rawat Asya. Dingin dan hanya terdengar bunyi peralatan medis. Istrinya itu belum juga sadar usai tindakan. Bang Rico mengusap perut Asya yang sudah sedikit lebih kempes.


Hanya ada dirinya dan Asya di dalam ruangan itu. Sepi, menambah rasa sesak Bang Rico. Teringat beberapa saat yang lalu..


flashback on..


"Kandungan Asya pecah Ric"


hhggg...


Seketika Bang Rico meremas dadanya. Ada tekanan yang teramat sangat memukul batinnya. Bang Rico di sandarkan di sofa ruang dokter As. Hatinya sungguh syok mendengar berita tentang Asya.


"Ric.. tenangkan dirimu..!!" Bang Winata menepuk bahu Bang Rico berkali-kali.


"Kenapa takdirku seperti ini Bang????? Apa salahku?? Aku terlahir dari bapak yang salah, mencintai adikku sendiri, kehilangan anak dan kandungan Asya pecah. Aku nggak sanggup lagi Bang.." ucap Bang Rico masih emosional.


"Iya Ric, Abang ngerti. Yang penting sekarang kamu harus tenang. Emosimu tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik" nasihat Bang Winata sebagai seorang kakak.


"Sekarang ini, Asya hanya punya satu rahim. Itupun tidak dalam keadaan baik. Kemungkinan hamil masih ada, tapi dalam keadaan seperti ini.. kamu yang harus berjuang keras, termasuk Asya tidak menginginkan 'kebersamaan' kalian karena Asya butuh waktu beradaptasi dengan tubuhnya kembali."


flashback off...


Melihat Asya terbaring lemah.. tangis Bang Rico kembali pecah. Satu-satunya hal yang membuat nya lemah di dunia ini adalah Asya.


Bang Rico lebih menggenggam erat tangan Asya.


"Jangan berkecil hati.. biarpun dunia ini runtuh, Abang akan tetap sayang kamu" gumamnya di samping telinga Asya.


"Jika takdir Abang tidak memiliki anak darimu.. Abang ikhlas, Abang juga akan tetap cinta kamu" Bang Rico menciumi tangan Asya dan terisak sendirian merasakan sakit yang teramat sangat.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2