
Tiga tahun berlalu.
"Ayaaaahh.." seorang anak laki-laki berlari menghampiri Bang Rico yang baru pulang dari dinas luar selama enam bulan.
"Jagoan Ayah.. tambah gemuk aja nih Abang Gazha" Bang Rico langsung menggendong Gazha dan menciumi pipinya.
"Kangen ayah nggak?"
"Kangen yah" jawab Gazha dengan senyumnya tapi senyum itu mendadak pudar saat melihat temannya sedang berpelukan dengan ayah dan mamanya masing-masing.
"Mama Gazha mana Yah?" tanya Gazha.
"Ayah khan sudah bilang, Mamanya Abang Gazha sudah bobok cantik sama malaikat" jawab Bang Rico dalam sakitnya batin mengingat Asya yang pergi meninggalkannya di usia yang baru menginjak dua puluh tahun.
...
"Apa Mama Gazha cantik?" tanya Gazha tak hentinya bertanya tentang sang Mama sepulangnya dari acara penyambutan tadi.
"Cantik.. sangat cantik seperti bidadari" jawab Bang Rico dengan senyumnya.
"Gazha pengen punya Mama" kata Gazha.
"Sayang.. Abang Gazha khan sudah punya Mama. Mama hanya sedang tidur saja"
"Tidur itu bisa bangun Yah, tapi Mama nggak bangun-bangun" si kecil Gazha pergi meninggalkan Bang Rico yang baru saja membuatkannya mie instan dan telur mata sapi.
"Ya Allah.. kuatkan hambaMu ini, berat sekali hidup tanpa istri" Bang Rico mengusap dadanya.
~
Bang Rico masuk ke dalam kamar tapi Gazha memalingkan wajahnya.
"Mie nya nanti dingin lho"
"Ayah nggak bisa masak yang lain?" tegur sang putra langsung menyentil batinnya.
"Gazha pengen di masakin Mama" Gazha langsung pergi ke rumah sebelah, ke rumah Papa Pandu dan Mama Fasya.
:
"Makan Ric?" tegur Papa Wira melihat Bang Rico makan seorang diri, Bang Rico hanya menyantap semangkok mie padahal Mama Dinda sudah memasak untuk menantunya itu.
"Mama masak lho Ric"
"Iya Pa, ini sudah terlanjur masak" alasan Bang Rico padahal ia sangat takut makan masakan Mama karena rasanya hampir sama seperti masakan Asya.
"Anakmu sudah besar Ric, sudah pintar dan lebih mengerti. Apa kamu nggak ada niat menikah lagi?" tanya Papa Wira.
"Lebih nyaman begini Pa. Hidup berdua saja sama Gazha.. saya sudah bahagia" jawab Bang Rico tapi Papa Wira jelas bisa menangkap segala perasaan ayah Gazha itu.
"Gazha butuh sosok Mama. Kamu pun butuh Ric, biar ada yang merawatmu.. memenuhi kebutuhanmu" kata Papa Wira.
"Kebutuhan yang mana pa, saya sudah lupa rasanya. Fokus saya hanya membesarkan Gazha, memberikan kehidupan yang layak"
"Papa tau Ric. Tapi sebagai laki-laki.. Papa juga tau bagaimana beratnya menahan rasa rindu. Tiga tahun jadi duda.. nggak karatan kamu?" Papa Wira duduk di samping Bang Rico dan bicara dari hati ke hati.
"Nggak Pa. Insya Allah saya kuat. Asya sangat perasa dan pencemburu. Saya nggak tega" tolak Bang Rico.
__ADS_1
"Rico.. Asya sudah nggak ada le. Dia juga nggak akan marah kalau kamu menikah lagi. Semua ridho.. mendukung mu kalau kamu memang mau menikah lagi"
"Jangan bahas ini lagi ya Pa, saya nggak ingin menikah lagi."
...
Gazha menciumi perut Fasya yang sudah berusia tiga bulan.
"Mama Fasya.. kalau perutnya besar, sakit nggak?" tanya Gazha dengan polosnya.
"Nggak donk.. buktinya Mama baik-baik aja" jawab Fasya.
Tak lama Bang Rico datang membawakan oleh-oleh dan tak lupa untuk Gilang.. putra Bang Pandu.
"Ini le.. hadiah dari ayah" kata Bang Rico.
"Yah.. Gazha mau adik" pinta Gazha membuat semuanya langsung terdiam, tapi Bang Rico berusaha menetralkan suasana.
"Ini di perut Mama Fasya khan adiknya Abang Gazha juga." kata Bang Rico.
"Nggak mau, Abang maunya adik dari perut Mamanya Abang Gazha" jawab Gazha.
Bang Rico kembali menunduk tak sanggup lagi menjawab permintaan putranya. Hanya pedih merajai seluruh relung hati.
"Adik bobok sama Mama le.. cantik seperti mama"
Bang Rico mengusap wajahnya karena air matanya mulai menetes.
Akhirnya Mama Dinda dan Fasya membawa Gazha dan Gilang ke kamar untuk bermain.
:
"Saya harus bagaimana Pa? Calon juga nggak punya. Lihat perempuan saja hati saya mati rasa" jawab jujur Bang Rico.
"Mungkin saya bisa menikah, tapi kalau nantinya tetap saya nggak bisa cinta.. kasihan Pa, dia sakit.. saya menebar dosa. Bagaimana tanggung jawab saya sebagai suami"
"Niat karena Allah le, kalau niat di hatimu tidak ada, selamanya hatimu juga tidak akan terbuka"
Bang Rico mengacak rambut nya yang mulai gondrong.
"Papa tidak memaksa.. tapi lebih baik kamu pikir dulu baik-baik" kata Papa Wira.
...
Apakah Abang harus menduakanmu demi anak kita? Abang takut kamu marah dan Abang takut menyakiti hati wanita untuk kedua kalinya.
Bang Rico membelai rambut Gazha sampai akhirnya ia pun tertidur.
***
Deru suara motor melaju dengan kecepatan tinggi. Truk anggota Bang Rico pun berhenti.
"Tangkap semua dan kumpulkan di tengah..!!" perintah Bang Rico karena para pemuda membuat keributan tak jauh dari lapangan tembak Batalyon, tepatnya langsung di belakang Batalyon.
Para pemuda lari kocar-kacir sampai Bang Rico harus melepaskan tembakan peringatan meskipun ada larangan untuk hal itu.
"Siapa ketua timnya???" bentak Bang Rico. Aura garang itu sungguh menakutkan.
__ADS_1
~
"Jihan Ayu Gagarmayang"
"Nama ayah??" tanya Bang Rico mendata para pemuda termasuk ketua team nya.
"Garin Eka Wisesa"
Bang Rico melotot mendengar nama tersebut dan sepertinya tak asing di telinga.
"Nama ibu?"
"Esa Yulia"
Innalilahi.. anak pejabat. Terus piye iki?.
"Ikut saya ke kantor.. lainnya ikut anggota saya yang lain..!!" perintah Bang.
"Nggak mau"
"Harus mau.. Kamu sudah buat rusuh di wilayah militer" bentak Bang Rico.
"Nggak takut, papanya Jihan tentara."
"Mau papamu pangkatnya setinggi langit.. saya nggak takut" jawab Bang Rico
-_-_-_-_-
"Allahu Akbar ndhuk.. kenapa kamu bisa balap liar??? Apa Papa ajarin kamu buat keonaran???" Dan Garin mulai emosi melihat putrinya.
"Papa nggak belikan Jihan motor" kata Jihan.
"Memangnya kamu bisa naik motor? Naik sepeda aja nyasar ke kebun tebu" jawab Papa Garin.
"Sekarang Papa tanya.. kenapa kamu bisa jadi ketua balap motor?"
"Ya karena pacar Jihan khan pembalap Pa"
"Siapa pacarmu? Si tokek belang itu?" tanya Papa Garin.
"Dia itu ganteng Pa, keren.. pangkatnya juga Sertu, daripada dia ini Pratu saja belagu" cibir Jihan.
"Aduuuh Jihan.. kamu bisa diam nggak sih. Jangan bikin malu" bisik Papa Garin.
"Siap salah Mbak Jihan. Maafkan saya dengan pangkat Pratu ini sudah berani sama Mbak Jihan."
"Syukurlah kalau Om ini tau diri" jawab Jihan dengan sombongnya.
"Papa juga harus tegas donk sama anggota. Papa khan Kopka"
Papa Garin menepuk dahinya lalu duduk dengan kasar sedangkan Bang Rico terkikik geli menyembunyikan senyumnya masih memberi muka pada Dan Garin.
.
.
.
__ADS_1
.