Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
68. Kabur.


__ADS_3

"Pelan Bang. Fasya takut..!!"


"Takut apa?" tanya Bang Pandu.


"Takut kita nggelinding Bang" jawab Fasya takut, ia berpegangan kuat pada jok tempat ia duduk.


Bang Pandu mengulum senyum licik. Seketika ia memasang wajah panik.


"Ya Tuhan, remnya juga blong.. kita mau nabrak ini dek..!!!!" pekik Bang Pandu tak kalah heboh.


"Hwaaaaaaaa.. Abaaaaang..!!!! Fasya mau loncat aja" Fasya sudah bersiap membuka pintu dan melompat tapi sebelum tangan Bang Pandu mencegah, Fasya sudah menutup pintu itu kembali.


"Kenapa??" tanya Bang Pandu.


"Pelan sedikit Bang, Fasya takut" kata Fasya.


"Kalau mau lompat ya lompat saja.. jangan tanggung-tanggung" Bang Pandu setengah mendorong tubuh Fasya tapi Fasya malah merengek memegangi lengan seragam Bang Pandu.


"Takuuuutt..!!"


"Makanya, jadi perempuan jangan banyak gaya. Takut saja masih banyak tingkah juga" imbuh Bang Pandu.


"Fasya takut mati karena Fasya banyak dosa" kata Fasya kemudian menangis.


"Kalau Fasya harus mati, Fasya ingin mati secara terhormat. Melahirkan anak misalnya"


"Huuusstt.. istighfar kamu dek..!!" Bang Pandu menepikan mobilnya.


"Darimana kamu dapat pikiran seperti itu??"


"Bang Acep rela mengorbankan diri demi dua hal. Negara dan keluarga. Jika Fasya boleh memilih.. Fasya pun ingin meninggal dengan cara terhormat"


Bang Pandu menatap wajah Fasya dengan lekat, 'gadis cilik' itu tak berani menatap matanya.


"Kamu akan tetap baik-baik saja, ada Abang yang akan selalu menjagamu."


Fasya menoleh memberanikan diri menatap wajah Bang Pandu.


"Bang Acep pasti marah" ucapnya sendu.


"Tidak akan, dia sudah bahagia disana" kata Bang Pandu.


"Abang bisa antar Fasya ke makam Bang Acep?" tanya Fasya.


"Iya.. ayo..!!"


:

__ADS_1


Di makam Bang Acep, air mata Fasya kembali berlinang. Ia selalu terkenang dengan kebersamaannya dengan Bang Acep. Enam bulan bukan waktu yang lama tapi juga tidak terlalu singkat untuk saling mengenal satu sama lain. Meskipun selama pernikahan mereka.. Bang Acep tidak pernah bermalam bersamanya di kontrakan, tapi setiap di setiap harinya kebersamaan mereka membawa cerita.


"Abang.. Fasya rindu Abang. Rindu sekali" Fasya memeluk pusara Bang Acep.


Di belakang Fasya berdiri Bang Pandu yang terus berjaga, ia begitu cemas Fasya akan kembali bersedih mengingat kepergian suaminya.


Acep.. Abang melihat wanitamu terus menangis pilu. Abang tau dia tidak kuat tapi selalu berusaha untuk kuat. Dulu Abang pernah menggendong istrimu ini saat baru lahir. Abang tak tau masa kecilnya, tapi Abang tau saat kelahirannya. Tak disangka perputaran waktu mempertemukan kita.. tapi di saat yang sangat menyakitkan, saat dia menjadi janda mu. Janda tercantik yang pernah Abang temui dalam hidup ini.


"Kita pulang saja?" tanya Bang Pandu tidak tega. Ia mengajak pulang karena sudah terlanjur membolos sekolah. Sekolah yang hanya kurang satu tahun lagi.


Fasya berdiri dan berbalik menghadap Bang Pandu.


"Kita ke rumah Bang Acep..!!"


"Haaahh.. Jauh itu dek." kata Bang Pandu.


"Ini masih pagi Bang. Kita tempuh jalan cepat saja. Jadi sore bisa pulang. Nanti Fasya yang bilang sama Abang Rico."


"Aduuuhh.. itu Abangmu kelihatan kalem, tapi kalau soal begini.. Abang bisa di cincang betul dek. Nanti biar Abang sendiri lah yang jelaskan." kata Bang Pandu. Ia bukannya takut dengan Rico. Tapi memang membawa 'gadis' orang adalah suatu kesalahan besar.


-_-_-_-


Pukul setengah sepuluh mereka sampai di kampung halaman Bang Acep. Fasya sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian cassual.


Mobil sudah terparkir, terlihat wanita tua renta menyapu halaman rumah dengan sisa tenaganya. Fasya turun dan berjalan mendekati ibu tua tersebut disusul Bang Pandu di belakangnya.


"Dasar anak durhaka, kenapa baru pulang.. ibu kira alat ini rusak, tidak pernah ada lagi wajahmu disini" tangan itu gemetar mengambil ponsel model lama tapi masih bisa melakukan sambungan video call dengan baik.


Kening Bang Pandu berkerut, ia tak bisa menerka.. di usia yang begitu sepuh mengapa bisa masih memiliki putra seumuran Bang Acep yang masih berusia dua puluh tiga tahun.


"Apa karena ibu tidak melahirkan mu.. jadi kamu tidak mau menemui ibu lagi? Telepon pun tidak??" tegur ibunya lagi.


Hati Bang Pandu serasa tertampar. Ia teringat mamanya dan tak sanggup membayangkan sang Mama yang nantinya pasti akan setua itu. Bang Pandu luluh dan berlutut memeluk ibunda Bang Pandu. Rasanya pun tak sanggup mengatakan pada wanita itu bahwa putra semata wayangnya telah gugur dalam tugas.


"Maafkan anakmu Bu. Telat memberi kabar"


"Kasep.. kenapa kamu ini suka sekali menangis. Ibu tau kamu cari rejeki" kata ibu Bang Acep.


Bang Pandu tak sanggup berucap apapun.


Ibu Bang Acep melihat gadis cantik di belakang Bang Pandu. Gadis itu juga sedang menangis.


"Eehh.. ini siapa Cep?"


"Istrinya Acep Bu" jawab Bang Pandu jujur.


Ibu Bang Acep memukul bahu Bang Pandu dengan kencang.

__ADS_1


"Kurang ajar.. menikah nggak bilang-bilang. Sebenarnya apa maumu???" tegur Ibu Bang Acep melepas pelukan Bang Pandu.


"Sini Neng.. aduuuhh cantiknya menantu ibu" Ibu membersihkan dipan di dekatnya lalu menggosoknya baik-baik. Melihat itu.. Fasya menjadi tidak tega.


"Tidak perlu di bersihkan Bu, itu tidak kotor" kata Fasya.


"Dipan ini ada pakunya. Nanti pakaianmu sobek." kata ibunya sambil berlinang air mata.


"Baju bisa di beli Bu. Fasya ingin di perlakukan sebagai mantu, bukan tamu" ucap Fasya memegang kedua tangan ibunya.


"Oohh Tuhan.. terima kasih Kau telah mengirimkan menantu untuk putraku yang tak tau diri ini" tak hentinya ibu Bang Acep menangis.


"Acep.. cepat ambil daun ubi di ladang. Ibu mau masak untuk istrimu..!!!!" ucap ibu Bang Acep yang sudah banyak mengalami kemunduran daya ingat.


"Aku???" Bang Pandu menunjuk dirinya dengan bingung.


"Apa sekarang namamu berubah jadi Neneng?"


"Haaahh??" Bang Pandu seperti orang linglung sampai ibu harus memukul p****tnya dengan sandal.


"Cepat.. ibu nggak mau menantu ibu lapar" kata ibu.


~"~"~


"Ini kenapa GPS nya ada di luar kota??? Fasya sekolah atau di puncak????" gerutu Bang Rico.


"Masa sih Bang?"


Bang Rico tak menjawab, ia langsung menghubungi nomor ponsel Bang Pandu.


"Jangkriiikk.. kemana Bang Pandu Bawa Fasya..!!!"


...


"Wedhus.. huuusshhh.." Bang Pandu mengusir kambing yang terus berjalan ke arahnya.


Bukannya pergi.. kambing itu malah menerjang dirinya.


"Hwaaaaaaa... Wedhus A*u." Bang Pandu berlari sampai memanjat pohon karena takut dengan kambing milik Bang Acep.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2