Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
53. Cerita rumah tangga.


__ADS_3

"Abang berangkat dulu ya..!! Kamu cepat sarapan.. Obatnya di minum..!!"


Asya mencium punggung tangan Bang Rico. Bang Rico pun membalas kecupan di kening, pipi kanan dan kiri serta bibir Asya.


"Iya Bang, nanti Asya minum. Satu bulan ini Asya minum"


Bang Rico terdiam, satu bulan ini Asya meminum obatnya tapi tidak ada reaksi apapun, bahkan Asya tidak 'memintanya' juga padahal sudah puluhan kali dirinya berusaha 'menaikan keinginan' Asya tapi tak juga mendapat hasil hingga dirinya semakin stress luar biasa. Dirinya pun sampai memberi jarak untuk meminum obat tersebut karena amat tersiksa dengan efeknya apalagi tidak pernah ada penyaluran setelahnya.


"Hmm.. Hati-hati di rumah. Assalamualaikum..!!"


"Wa'alaikumsalam Bang"


...


Rico mengikuti kegiatan apapun yang berkaitan dengan fisik bahkan kegiatan untuk anggota nya pun tak luput ia ikuti.


"Kamu mengarahkan saja Ric..!! Ini bukan latihan kesigapan gabungan" kata Bang Yudha.


"Nggak apa-apa Bang. Cari keringat saja" selalu itu saja jawaban Bang Rico saat beberapa anggota menegurnya.


Sudah banyak anggota yang tau masalah Danton dan mereka cukup prihatin melihatnya.


:


Nafas Bang Rico terengah dan sampai ambruk menggelinjang. Team medis memberikan tambahan oksigen untuk Bang Rico. Para anggota pun cemas melihat Danton terkapar di lapangan.


"Kalau nggak kuat kenapa di paksa le?" kata dokter Nick. Dokter yang saat ini menjabat sebagai bagian kesehata. Litting Papa Wira.


"Si_ap....." jawabnya terputus.


"Kamu itu sudah nggak kuat, jangan di paksa.. kasihanilah badanmu juga. Kegiatan fisikmu sudah melampaui anggotamu."


Tiba-tiba Bang Rico berteriak kencang, sangat kencang seolah meluapkan segala perasaan.


"Kenapa harus aku??? Aku benci hidupkuuu..!!!!!!!! Apa tidak bisa aku jadi seorang ayah??????"

__ADS_1


Bang Rico menangis meraung sulit untuk ditenangkan sampai akhirnya Bang Yudha dan Bang Winata ikut bingung bagaimana caranya membuat Danton satu ini bisa kembali slow.


Pada akhirnya Bang Rico harus tidak sadarkan diri karena tubuhnya mendadak demam tinggi.


"Bantu Sob..!!" pinta Bang Winata untuk mengangkat tubuh Bang Rico.


:


"Parah sekali dehidrasi nya, sampai nggak bisa di tusuk" gumam Pak Nickolas yang akhirnya turun tangan mengatasi menantu littingnya.


"Ijin Dan, bagaimana?" tanya Bang Winata cemas. Wajah Bang Rico sudah amat sangat pucat seakan darah tak lagi mengalir.


"Ini kita sedang usahakan." Jawab Pak Nickolas sambil terus mengusahakan segala upaya untuk pria yang juga di anggapnya sebagai anak.


Bang Rico memang belum sadar, tapi ada setetes air mata mengalir.


"Rico pasti sudah melewati hari-hari yang sangat panjang dan melelahkan. Mulut bisa berkata baik-baik saja, tapi dalam hati begitu menginginkan hadirnya si buah hati. Jika wanita mengekspresikan dengan tangis, maka diamnya pria membawa ribuan luka dan rasa sakit yang ia tahan agar pasangannya bisa tenang walaupun mungkin hatinya sendiri tercabik pedih" kata Pak Nick yang akhirnya bisa memasukan jarum infus ke punggung tangan Bang Rico.


...


Dua bulan sejak kejadian itu, belum pernah satu kali pun Bang Rico memaksanya. Hatinya pun terasa sakit dan sedih saat memahami Bang Rico yang sedang berada di puncak tapi ia tidak bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri karena kehilangan rasa padahal Bang Rico tak kurang memberinya sentuhan sayang. Asya menangis sesenggukan menyandarkan wajahnya tertelungkup di atas meja.


Asya teringat kembali dengan sesuatu miliknya. Asya bangkit dan melangkahkan kakinya.


...


"Ijin.. Lepas saja Dan. Asya pasti cemas karena sampai malam saya belum pulang juga" kata Bang Rico.


"Kamu belum kuat Ric" jawab Pak Nick.


"Siap.. sudah..!!"


Mau tidak mau Pak Nick melepas infus di punggung tangan Bang Rico.


:

__ADS_1


Bang Rico melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Tubuhnya menanggung segala rasa lelah hingga rasanya tak sanggup melangkah.


"Asya kemana?"


Bang Rico terus melangkahkan kaki sampai akhirnya harus terhenti saat melihat Asya duduk merokok di kursi makan. Rambut panjang terurai, gaya yang natural, pakaiannya begitu menggoda iman.


"Asyaa.. kenapa kamu pakai pakaian seperti ini dek..!! Kalau ada anggota kesini bagaimana?" tegur Bang Rico.


Asya berdiri di hadapan Bang Rico dan langsung berjinjit mengalungkan kedua lengannya di belakang leher.


"Buktinya nggak ada khan? Asya lagi pengen di manja Abang..!!" ucapnya manja.


Ya Tuhan.. bagaimana ini, cobaan yang berat sekali.. saat istri minta aku malah nggak fit begini.


"Baang..!!" tangan Asya sudah kemana-mana tapi malah dirinya yang tidak bisa bereaksi membuat Bang Rico jadi frustasi sendiri.


Bang Rico mencoba merespon Asya dan meladeni keinginan istrinya tapi saat Asya benar-benar sudah meminta lebih, ia tidak kunjung siap.


Bang Rico pun hampir menyerah terduduk lesu sampai membuatnya lemas dan langsung down merasa tidak berguna sebagai seorang laki-laki.


"Abaang.. Ayoo..!!" ajak Asya lagi.


Kenapa harus begini? Kenapa harus saat seperti ini, aku benar-benar lelah tapi aku juga nggak mau Asya kecewa.


Wajah Asya mulai cemberut. Ia pun memalingkan wajah kemudian meninggalkan Bang Rico tapi secepatnya Bang Rico meraih tangan Asya.


"Sabar sebentar.. Jangan marah sayang. Abang usahakan apapun biar Nyonya Rico senang..!! Tunggu sebentar. Sepuluh menit saja..!!" pinta Bang Rico beranjak kemudian menggigit kecil bibir Asya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2