
Bang Rico terus berjalan membawa Jihan sampai rumah tanpa kata.
:
"Lho Ric.. Jihan kenapa?" tanya Papa Garin ikut panik saat sedang bermain dengan Gazha.
Bang Rico tak menjawabnya dan langsung masuk ke dalam kamar lalu menguncinya.
~
Perlahan Bang Rico merebahkan Jihan di tempat tidur, Jihan ingin memiringkan badan dan menghindari Bang Rico tapi secepatnya Bang Rico menindih dan memeluknya.
"Apa kamu tidak merasakan bagaimana perasaan Abang selama ini? Jangankan kamu yang ingin Abang seutuhnya.. kamu sudah buat seluruh tubuh Abang baper, nggak ikhlas kamu di lirik siapapun" ucap Bang Rico memasang wajah serius.
"Gimana dengan perempuan itu Bang?" tanya Jihan cemas.
"Apa kamu perlu tau.. sedangkan kamu adalah Nyonya Enrico dan kamu juga sedang mengandung calon penerus dari Lettu Enrico" jawab Bang Rico.
"Maafkan keegoisan Jihan Bang, Jihan butuh kepastian"
"Hatimu tidak akan sakit?" tanya Bang Rico.
Wajah Jihan begitu sedih dan Bang Rico sangat paham sifat dan sikap manusiawi Jihan.
"Namanya tidak akan pernah kamu dengar selama kamu atau Gazha tidak menyinggung nya.. dan jangan pernah kamu cemburu. Saat ini hanya nama dia, begitu dalam.. begitu terasa dan begitu mengena. Sayang yang sulit Abang ungkapkan dan cinta yang sulit Abang uraikan, tapi satu yang Abang sadari.. Abang.. sangat menginginkan dia ada disini.. di dalam hati Abang.. dia.. Jihan Ayu Gagarmayang, bidadari terakhir Abang" Bang Rico merunduk ingin mengecup sayang bibir Jihan.
Mata Jihan memerah, semerah mata Bang Rico.. tapiiiii....
"Lupakan pria bodoh dan dungu itu, Abang nggak terima kamu mencintai b******n itu, kamu sudah sebut inginkan Abang dan kamu harus bertanggung jawab atas ucapanmu itu..!!" ucap gemas Bang Rico.
"Jihan mencintai Ayahnya Gazha.. daddynya dedek.. hot Papa nya Jihan" jawab Jihan.
Tubuh kekar itu seketika memeluk Jihan dengan erat.
"Subhanallah.. pengen halal wae kok abote tenan, muter-muter ora karuan.. kudu nandang larane setengah mati"
Jihan tersenyum melihat raut wajah Bang Rico.
"Sungguh bolehkah wajah ini untuk Jihan?" tanya Jihan.
"Jangankan wajah, kamu obrak-abrik yang lainnya juga Abang pasrah" jawab Bang Rico menciumi wajah Jihan dengan gemas. Seketika itu juga raut wajah Jihan berubah, tak se melow tadi saat ia mengajaknya masuk ke kamar.
"Masih sakit perutnya?" tanya Bang Rico.
"Nggak.. Jihan bohong, karena pengen di gendong Abang aja" kata Jihan dengan senyumnya.
"Nakal.. siapa lah yang ajar usil begini?" saking gemasnya Bang Rico, tak sadar mereka bercanda. Bang Rico menggelitik pinggang Jihan sampai istrinya itu berteriak manja.
~
__ADS_1
"Suara apa tuh ma? Jangan-jangan anakku di banting?" gumam Papa Garin kaget.
Papa Garin memasang tampang garang mendengar teriakan Jihan.
"Opa.. kenapa Mama teriak?" tanya Gazha kecil.
"Amankan cucumu ma, Papa mau lihat keadaan Jihan..!!" tanpa perhitungan, Papa Garin mendobrak pintu kamar Bang Rico dan Jihan sedangkan Mama Esa membawa Gazha berjalan-jalan.
braaakkk..
Dengan gagahnya Papa Garin mendobrak pintu kamar menggunakan kaki hingga dirinya terperosok ke dalam lemari gantung.
Bang Rico sungguh kelabakan membereskan diri sambil menutupi tubuh Jihan yang sedikit terekspos karena rok nya tersingkap.
Betapa kaget Papa Garin saat menyadari ternyata putrinya sedang bermesraan dengan sang suami.
"Ahahaha.. haduuuuhh.. ini pintu kenapa jadi rusak? Papa cuma cek gagangnya.. eehh ternyata gagangnya cuma butuh di kasih pelumass." Papa Garin berdiri menepis rasa malunya kemudian menutup pintu yang sudah susah tertutup lagi.
"Ya Allah.. Papaaaaa..!!!!!!!" Bang Rico menepuk dahi sambil mengatur nafasnya yang tak karuan"
Jihan hanya melongo melihat wajah hingga telinga Bang Rico mendadak memerah.
...
"Kalau nggak karena ulahmu.. Jihan nggak mungkin sakit" tegur Bang Vian.
"Waahh.. baru kali ini ada perempuan yang meremehkan kejantanan saya. Minta di apakan kamu ini?" wajah Bang Vian sudah berang merasakan harga dirinya di injak-injak.
"Ucap tanpa bukti itu adalah kepalsuan. Siapa tau Abang pakai belalai hanya untuk hiasan saja" ejek Aira dengan sengaja.
"B******n, kamu ini memang pandai buat orang emosi. Jangan pikir kamu bisa selamat setelah hari ini..!!!!" ancam Bang Vian berang kemudian meninggalkan Aira sendirian, gadis itu masih menggoyang kaki tak peduli dengan perasaan Bang Vian yang tengah meradang karena ucapannya.
:
Bang Rico dan Bang Vian bertemu wajah di kantor, tampang mereka berdua acak-acakan tak karuan.
"Kenapa tampangmu kusut amat? ribut sama Aira?" tegur Bang Rico.
"Gimana nggak ribut urus perempuan ribet macam begitu Bang" jawab Bang Vian.
"Lamar.. nikahin..!! Selesai urusan" kata Bang Rico.
"Perempuan begitu di kawinin?? Memangnya di dunia ini kehabisan stok betina? Andaikan di dunia ini hanya ada Aira seorang, saya juga ogah Bang kawinin dia" Bang Vian sungguh kesal jika mengingat tentang Aira.
"Yang muda tuh luar biasa" bisik Bang Rico mengedipkan mata penuh hawa setan karena memang dirinya lebih berpengalaman.
"Jangan bikin situasi deh Bang, hati lagi panas nih"
"Apa kamu saja yang lagi panas?? Abang juga" Bang Rico kemudian mengambil ponsel dari sakunya.
__ADS_1
"Lihat ini biar pikiranmu fresh"
~
"Astaga.. Ya Allah.. Astagfirullah.. seksoy amat Bang.. ayo cepet kirim ke nomer saya Bang" Bang Vian mulai melotot karena melihat Lisa Blackpink di ponsel Bang Rico.
"Aaahh lu, lagak lu nyebut.. nggak taunya doyan juga"
"Saya khan laki-laki normal Bang" jawab Bang Vian.
-_-_-_-_-
Jihan mulai memasang wajah cemberut karena Bang Rico pulang sangat malam.
"Kenapa pulang?? Nggak sekalian tidur di kantor??" tegur Jihan.
"Banyak sekali pekerjaan yank.. tau sendiri Abang masih baru disini. Masih banyak PR yang harus diselesaikan." alasan Bang Rico memasang wajah lelah, bahkan Bang Rico mendesahh dan bersandar di sofa seakan dirinya benar-benar kelelahan luar biasa.
"Mau Jihan pijat Bang?" tanya Jihan polos.
"Nanti saja agak malam di kamar" pinta Bang Rico.
Jihan pun mengangguk.
dddrrtttt.. dddrrttt... dddrrtt...
"Siapa Bang?" Jihan penasaran dan melirik ponsel Bang Rico.
"Ini.. si Vian telepon" jawab Bang Rico sambil menunjukan ponselnya, menunjukan tidak ada 'bahaya' apapun disana.
Bang Rico segera mengangkat panggilan telepon tersebut.
Baru saja Bang Rico membuka mulut....
"Bang.. mana foto sama video yang tadi?? File saya nggak sengaja kehapus" dengan santainya Bang Vian meminta tak tau bahwa nyawa Bang Rico berada di ujung tanduk.
"Video apa Bang?" Jihan berkacak pinggang sudah melirik Bang Rico dengan tatapan tajam.
"Itu dek.. Anuuu.."
"Anuu.. anuu.. Anuuu apa?? Jawab yang benar?" Jihan sangat kesal melihat wajah Bang Rico yang seperti menahan sakit perut.
.
.
.
.
__ADS_1