
"Ini jadinya bagaimana?" tanya Papa Garin menengahi semuanya.
"Kawinkan sudah.. daripada terjadi hal yang tidak-tidak" jawab Papa Sanca.
"Papaa.. jangan gegabah Pa. Mama belum ikhlas Aira menikah dengan cara seperti ini" pekik Mama Fia.
"Kamu mau keduluan punya cucu ma?" Papa Sanca menatap mata Mama Fia.
"Ini nih hasil didikan Garin" Papa Sanca sampai mengusap wajahnya.
"Eeehh.. apa salahku, aku tidak mengajari putrimu aneh-aneh" protes Papa Garin.
"Tapi kamu mengajari putriku jadi perempuan sok tau dan aku kesal sekali kenapa malah sifatmu yang masuk di dalam diri Aira" jawab Papa Sanca.
"Kau juga membuat putriku jadi sepertimu. Sok tegas dan sangat kasar. Apa jangan-jangan anak kita tertukar??" ucap Papa Garin.
"Astagfirullah hal adzim.. anakmu itu lahir duluan. Inilah akibatnya kalau terlalu banyak main game. Lama-lama kribo juga kepalaku" gerutu Papa Sanca.
Saat Kedua Papa dan Mama masih berdebat, Bang Vian menggandeng Aira keluar dari ruangan.
~
Bang Vian terus melirik Aira. Gadis itu tidak buruk, bahkan sangat cantik. Memang kelakuannya sedikit ekstrem... tapi sungguh Aira adalah gadis yang manis.
"Apa lihat-lihat, nggak pernah lihat perempuan cantik?" ucap Aira kesal.
"Kalau begini kamu bilang cantik.. terus bagaimana jeleknya???" jawab Bang Vian mencibir Aira.
"Sudah nggak modis, bau minyak telon.. belaga ganggu laki" sindir Bang Vian lagi.
"Waah.. beraninya Abang nyindir. Sekali Abang tau rasanya.. pasti Bang ketagihan minyak telon" kata Aira tak mau kalah.
"Nggak salah?? Sekali kena Abang.. jadi lah itu calon pemakai minyak telon." gertak Bang Vian.
Mereka berdua kemudian terdiam dan saling memunggungi padahal dalam hati mereka saling menyimpan canggung.
"Kita nikah saja. Berani nggak?" tanya Bang Vian sambil memalingkan wajah.
"Berani saja, tapi Aira nggak mau cara seperti ini. Nggak romantis..!!" Aira berucap kaku.
Tangan Bang Vian mencabut bunga di pot depan teras kantor Bang Rico lalu menggabung nya menjadi satu.
"Nih Abang lamar. Mau atau tidak?" tanya Bang Vian lagi.
"Ya sudah mau" jawab Aira dengan wajah memerah. Bang Vian menunduk menahan senyumnya.
__ADS_1
"Nanti Abang bilang papa. Biar kamu nggak di lamar orang lain" kata Bang Vian.
...
Papa Sanca terduduk lemas memegangi dadanya yang berdegub kencang. Saking kagetnya.. wajahnya langsung memucat.
"Nggak mungkin kalian minta nikah kalau nggak ada apa-apa. Kamu pasti sudah apa-apakan anak saya khan Vian?" tanya Papa Sanca.
"Aahh su'udzon aja lu San. Anak mau kawin nggak boleh. Nggak ingat lu dulu bagaimana sama Fia?" tegur Papa Garin.
"Gimana aku nggak cemas pot, ini anak perempuan ku" jawab Papa Sanca masih memercing kesakitan.
"Sekarang kalian jawab dengan jujur. Apa kalian sudah berhubungan?" tanya Papa Sanca pada Papa Bang Vian dan Aira.
Bang Vian baru membuka mulutnya tapi ternyata....
"Iya Pa, sudah" jawab Aira.
"Lailaha Illallah..!!" Papa Sanca bagai terkena serangan jantung, seketika itu juga Papa Sanca pingsan di tempat.
...
Bang Vian rasanya ingin mencubit bibir Aira yang asal bicara. Gadis itu bahkan tidak tau dimana letak salahnya.
"Apa sih salah Aira??" pekik Aira gemas.
Tak lama Bang El datang dan memberi hormat pada seniornya.
"Selamat siang Bang" sapa Bang El.
"Selamat siang." jawab Bang Vian malas.
Bang El sedikit mendorong Aira sampai sudut tembok.
"Sebenarnya ada apa Ai.. kenapa papa bisa masuk UGD?"
"Nggak tau, semua orang menyalahkan Aira" ucap Aira bersungut kesal.
"Memangnya kenapa??"
"Papa tanya.. apa Aira dan Bang Vian pernah berhubungan. Ya Aira jawab pernah.. Aira Khan sudah bertemu dan ngobrol sama Bang Vian" jawab Aira menjelaskan kronologi awal Papa Sanca masuk rumah sakit.
"Astagfirullah.. bodohnya tujuh tikungan." pekik Bang El menepuk jidatnya sendiri.
"Maksud Papa itu kamu.. berhubungan layaknya suami istri" bisik geram Bang El.
__ADS_1
"Ya ampun.. Aira nggak tau kalau itu maksudnya Papa." Aira sangat takut karena sudah membuat papanya sampai masuk rumah sakit.
"Buat apa kamu di sekolahkan tinggi sama Papa kalau otakmu isinya t*i udang" tangan Bang El sudah mengepal gemas.
"Sudah El.. sekarang pikir dulu bagaimana caranya menenangkan komandan." Bang Vian menarik lengan Bang El.
Bang Vian pun melirik Aira.
"Makanya.. lain kali kamu jangan asal buang suara.. salah-salah bisa kacau semua seantero jagad karena ulahmu" kata Bang Vian.
...
Papa Sanca hanya memijat pelipisnya saat melihat Papa Garin bermain engklek dengan Gazha di dalam kamar rawat.
"Opa Sanca sakit apa?" tanya Gazha pada Opa Garin.
"Itulah akibatnya kalau jadi orang terlalu pemarah. Lihat Opa Garin.. sehat terus khan?. Opa Garin nggak pernah marah" jawab Papa Garin.
"Ya Allah Gar, bisa nggak sih kamu nggak tebar racun ke anak-anak." tegur Papa Sanca.
Tiba-tiba Gazha berhenti bermain dan mendekati Papa Sanca.
"Opaa.. jangan marah lagi. Gazha juga sayang sama Opa" Gazha memijat kaki Papa Sanca.
Tiba-tiba rasa rindu akan hadirnya tangis dan tawa anak-anak begitu mengusik batinnya. Ia rindu menggendong dan bermain dengan anak-anak yang menjadi semangat nya dalam bekerja selama ini.
"Iya sayang.. Opa nggak marah lagi deh" Papa Sanca mulai tersenyum melihat Gazha.
"Tumben.. cuma senyum aja lu ganteng" Ledek Papa Garin.
"Lu bisa diam nggak. Darah tinggi gue bisa kambuh nih" pekik Papa Sanca.
"Opaaa.." Gazha mengusap kaki Papa Sanca lagi.
"Ya Allah.. gue jadi pengen punya cucu nih. Gimana Gar" gumam Papa Sanca.
Bang Vian dan Aira yang sedari tadi duduk di sofa hanya bisa saling lirik tak berani bicara apapun.
.
.
.
.
__ADS_1