
Asya makan dengan lahapnya tapi tidak dengan Bang Rico yang mendadak pusing tak sanggup menghabiskan makanannya. Bang Rico melepas jaket dan seragam luarnya agar tidak semakin terasa sesak, menyisakan kaos yang masih ia kenakan
"Habiskan dek..!! Kalau bisa punya Abang juga..!!"
"Abang nggak suka? ini enak lho Bang" kata Asya
"Iya enak, tapi Abang lagi nggak selera makan soto kikil" jawab Bang Rico.
Bang Rico mengedarkan pandangan ke segala arah dan melihat ada penjual manisan jambu Bangkok. Air liur seakan menetes menginginkan jambu Bangkok itu.
"Abang beli jambu dulu ya dek. Kamu habiskan dulu makannya..!!"
Asya mengangguk menikmati makan siangnya itu.
~
Baru kali ini Asya melihat Bang Rico lahap memakan makanan seperti itu, biasanya suaminya itu hanya lebih suka makanan sederhana atau jus sebelum makan, tapi kali ini Bang Rico terlihat sangat menikmati.
"Enak sekali ya Bang?" tanya Asya.
"Enak. Mau?" Bang Rico menyuapi Asya karena istrinya sudah menyelesaikan makan siangnya.
"Iya, enak sekali."
Mata Bang Rico melihat ada menu tersembunyi disana dan berdiri menuju tempat pemesanan makanan.
"Abang pesan apa?" tanya Asya saat Bang Rico sudah duduk kembali di sampingnya.
"Pesan soto lagi" kata Bang Rico.
"Tadi khan Abang nggak mau. Kenapa pesan lagi?"
"Ini beda isinya dek. Tenang aja, kalau yang ini Abang selera" jawab Bang Rico.
Asya mengangguk saja sambil merebut jambu yang hampir masuk ke mulut Bang Rico.
Bang Rico tersenyum saja melihat ulah bar-bar si cantik Asya.
Tak lama pesanan Bang Rico datang. Benar saja, Bang Rico mampu menghabiskan semangkok soto tanpa hambatan.
:
"Abaaaanngg..!!!!" Asya terkejut karena tiba-tiba ada petir menyambar dengan kerasnya. Ia mendekap Bang Rico dengan erat.
"Aarrhh.. perut Asya sakit Bang" pekik Asya seketika membuat Bang Rico ikut panik dan menghentikan laju mobilnya.
"Kenapa belakangan ini kamu sering sakit dek? Salah makan atau karena cuaca?" tanya Bang Rico.
"Nggak tau Bang. Pokoknya semua sakit" jawab Asya.
Bang Rico menurunkan jok tempat duduk Asya kemudian mengatur posisi Asya agar lebih nyaman.
"Begini enak?" tanya Bang Rico lagi.
"Masih sakiit"
"Kita langsung pulang saja ya dek,. biar kamu bisa cepat istirahat" kata Bang Rico.
"Iya Bang"
Bang Rico melajukan mobilnya. Dua ratus meter kemudian mobilnya oleng dan masuk dengan kencang ke dalam jalan menuju perkebunan yang lebih mirip dengan hutan, saat itu hujan tiba-tiba turun dengan derasnya, angin menyapu jalanan hingga beberapa pohon tumbang.
"B*****t, sudah terburu-buru begini.. masih terjebak juga di jalan" umpatnya kesal. Bang Rico yang tidak sabar segera turun dan melihat keadaan mobilnya.
"B******n.. Ban nya tipis sekali, aku lupa ganti" tak hentinya mulut itu menggerutu. Asya pun mengambil payung di jok belakang dan turun berniat memayungi suaminya.
__ADS_1
"Masuk saja dulu Bang..!! Coba hubungi piketan biar bisa bantu buka jalan" kata Asya memberi saran.
Bang Rico mengambil ponselnya dan ternyata tidak ada sinyal sama sekali. Cuaca buruk memutuskan sinyal disana.
"Nggak ada sinyal dek. Kamu masuk dulu. Angin besar ini..!!" Bang Rico lumayan cemas karena dirinya saat ini sedang membawa Asya.
Angin kembali datang dan menerbangkan payung yang sedang Asya bawa.
"Yaa.. terbang"
Bang Rico memeluk Asya dan menutupi kepalanya agar tidak semakin basah terkena hujan.
"Biar saja dek, payung bisa beli lagi" Bang Rico membantu Asya berjalan masuk ke dalam mobil karena pakaian mereka sudah basah.
Asya menggigil kedinginan, tidak sekuat Bang Rico yang lebih tahan cuaca.
"Dingin sekali?" tanya Bang Rico.
Asya mengangguk pelan. Mata mereka berdua saling bertatapan. Sungguh saat ini perasaan Bang Rico tak menentu melihat kalemnya Asya yang membuatnya hatinya semakin luluh. Tanpa sadar dirinya sudah mengecup bibir Asya yang basah. Tetesan air hujan dari rambutnya tak lagi ia pedulikan.
"Belum percayakah Asya sama Abang?" tanya Bang Rico sambil mengalungkan kedua tangan Asya ke belakang lehernya.
"Bolehkah Abang memintanya? Tidak maukah kamu menjadi Nyonya Rico seutuhnya?"
Asya yang lebih tenang, mengangguk mengiyakan permintaan dan pertanyaan Bang Rico.
"Iya Bang"
Bang Rico pun menurunkan semua sandaran jok depan kemudian menutup pintunya.
:
Asya menangis terisak dalam dekapan Bang Rico. Padahal Bang Rico sudah memperlakukannya dengan lembut.
"Kenapa dek?? Nggak enak?" tanya Bang Rico menghapus air mata Asya.
"Kenapa? Bilang sama Abang..!! Asya maunya bagaimana?" Bang Rico menciumi wajah Asya dengan sayang. Kini ia tau bagaimana rasanya bertekuk lutut di hadapan wanitanya.
"Bang.. Asya sudah telat satu Minggu" ucap Asya lirih.
"Haaahh.. Astagfirullah, kamu bagaimana sih dek?? Kenapa nggak bilang dari tadi???????" Bang Rico beranjak perlahan dari tubuh Asya kemudian menyalakan lampu karena hari sudah mulai gelap.
"Aduuuhh.. piye iki" Bang Rico kelabakan memunguti pakaiannya.
"Mana di hutan lagi.. Kamu ini.. hmmmm" ingin sekali rasanya Bang Rico menjitak ubun-ubun Asya, jika bertemu ada saja hal yang membuatnya kalang kabut.
"Abang jangan marah-marah" kata Asya.
"Abang nggak marah"
"Itu marah"
"Ya Allah......" Bang Rico menarik nafasnya kemudian menarik senyumnya.
"Ayo cepat pakai bajunya..!!"
"Basah Bang"
Bang Rico menyambar tas di jok belakang kemudian mengambil kaosnya.
"Pakai pakaian Abang saja...!!"
Bang Rico mengambil ponselnya dan melihat sudah ada sinyal disana. Ia segera meminta bantuan.
...
__ADS_1
"Tolong bawa mobil saya ke bengkel ya Cep. Saya masih ada perlu di luar..!!"
"Siap..!!"
"Ijin Dan.. ini yang Komandan minta"
"Oke Cep.. terima kasih"
"Siap Dan"
Setelah jalan terbuka, Bang Rico segera membawa Asya ke bidan terdekat di desa itu.
:
Bidan menatap Bang Rico dengan tatapan tajam.
"Bisa kita bicara empat mata Pak"
~
"Bapak sudah menikah atau belum? Gadis itu masih di bawah umur khan?" tanya Bu Bidan.
"Saya kesini untuk memeriksakan keadaan istri saya" jawab Bang Rico.
"Ini pelanggaran hukum Pak. Saya paham betul keadaan Asya belum sepenuhnya matang" Bu bidan menyodorkan testpack ke hadapan Bang Rico.
"Sudah hamil lima minggu pak."
Bang Rico pun menyodorkan buku kecil yang ia keluarkan dari dalam saku tasnya.
"Kami sudah menikah Bu. Legal.. usianya delapan belas tahun. Masih ada lagi yang perlu di perdebatkan?" tanya Bang Rico.
"Oohh.. kalau begitu maafkan saya Pak. Saya disini juga hanya ingin menjaga wanita-wanita agar tidak terjebak karena masalah kasus di bawah umur" jawab Bu bidan akhirnya mengembalikan buku Bang Rico setelah membacanya.
"Saya mengerti Bu"
"Ini saya tuliskan resep. Nanti di minum ya Pak. Tolong di hati-hati di setiap kegiatan istrinya. Kehamilan Bu Asya masih rawan."
"Baik Bu. Terima kasih" kata Bang Rico.
:
Cemas Bang Rico semakin berlipat, tangan itu tak hentinya mengusap perut Asya.
"Hati-hati jaga anak ayah ya Ma..!!" pesan Bang Rico.
Asya menoleh mendengar sapaan baru Bang Rico.
"Ayah?"
"Abang ingin sekali anak-anak panggil Abang.. ayah" kata Bang Rico dengan senyumnya.
"Tapi bisa khan.. di saat-saat kita berdua, Abang ini tetap menjadi Papa Rico mu yang tersayang"
"Idiihh.. Abang aneh" Asya pun heran dengan perubahan sikap Bang Rico yang drastis.
"Apa yang aneh sih Mama sayang?"
Asya tertunduk tersipu malu. Ia tak pernah tau bagaimana usaha keras Bang Rico untuk menyelamatkan statusnya saat ini.
.
.
.
__ADS_1
.