Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
74. Sarung vs Daster.


__ADS_3

Harap kebijakan dalam membaca..!!!


🌹🌹🌹


"Kepala mulai puyeng Ric"


"Abang masuk saja. Bangunkan Fasya dan selesaikan di dalam..!!" kata Bang Rico.


"Kamu bagaimana Ric?" Bang Pandu ikut mencemaskan Bang Rico.


"Kalau saya mah aman Bang. Nggak ada penawar bisa lari ke Asya.. kalau Abang khan masih harus berjuang. Sudah sana.. jangan buat Fasya kaget..!!"


:


Bang Pandu duduk di ranjang, melihat Fasya bergelung di dalam selimut. Perlahan ia menyentuh paha Fasya sampai gadisnya itu terbangun.


"Abaaang???" setengah mati Fasya kaget dan menyambar jilbab di sampingnya.


Bang Pandu tidak tega melihat sikap Fasya. Ia menaikan dagu Fasya agar menatapnya.


"Sampai kamu siap.. jilbab ini akan tetap berada disini. Abang janji tidak akan memaksa seberat apapun rasa yang Abang inginkan" kata Bang Pandu.


Fasya terhenyak.. kata-kata itu mirip dengan mendiang suaminya. Dulu.. karena kata-kata itu hingga ajal menjemput, Bang Acep tidak pernah merasakan manisnya madu pernikahan.


"Jika Abang menginginkan semua itu sekarang.. Fasya ikhlas Bang" ucap Fasya seakan tanpa beban.


Tapi.. melihat raut kesedihan Fasya, Bang Pandu menjadi tidak tega. Bagaimana pun juga Fasya masih terlalu awal untuk merasakan hal yang seharusnya dirasakan oleh pria dan wanita dewasa yang sudah menikah.


//


"Sayang.. ngantuk banget ya?" Bang Rico mengecup kening Asya berkali-kali hingga sang istri terbangun dari tidurnya.


"Apa sih Abang.. Asya ngantuk" jawab Asya.


"Abang nggak bisa tidur" kata Bang sembari membelai lembut tubuh Asya.


Asya pun membuka matanya. Terlihat raut wajah Bang Rico yang tampak berbeda. Tak lama Bang Rico menyerusuk ke sela lehernya, nafasnya begitu berat.


"Kamu nggak kasihan sama Abang?" tanya Bang Rico memelas.


"Asya benar-benar takut Bang. Kemarin itu sakit sekali. Kalau Asya nggak bisa lagi.. pasti Abang marah" jawab Asya.


"Abang janji kali ini nggak akan seperti kemarin, Abang nggak akan marah apapun yang terjadi." janji Bang Rico.

__ADS_1


"Tapi Asya nggak ada rasa Bang, Asya nggak mau Abang kecewa" kata Asya jujur.


Terus terang hati Bang Rico terasa sangat sakit. Ia harus menyadari betul segala hal yang terjadi dalam rumah tangganya. Ia pun harus memahami kondisi Asya yang tidak sebaik dulu lagi. Kehilangan rahim sebelah kiri juga pastinya akan memberi banyak dampak pada diri Asya.


"Kita coba pelan-pelan ya" bujuk Bang Rico.


"Abang.. nggak usah nunggu Asya. Abang selesaikan saja sendiri" ucap Asya sudah terpuruk dan itu sungguh membuat Bang Rico down.


Dalam hati Bang Rico bisa saja menyelesaikan semuanya sendiri tapi ia tidak ingin egois. Ia tau Asya juga pasti sangat membutuhkan belai sayang darinya. Kepuasan batin sang istri juga sudah menjadi tanggung jawabnya.


"Abang nggak percaya kalau Abang nggak bisa membuatmu melayang. Jangan remehkan suamimu..!!"


Bang Rico mematikan lampu kamarnya, tangan kekarnya sudah terlatih menguasai medan. Ia pun sudah hafal bagaimana cara menyenangkan sang istri. Pelan tapi pasti Bang Rico memainkan jari nakalnya kemudian mengecup bibir Asya memberikan kehangatan tak terlukiskan. Sarung kebesaran pun mulai terangkat.


//


Cukup lama Bang Pandu dan Fasya terdiam. Mereka berdua canggung dan tak tau bagaimana harus memulai semua ini.


Ya Allah.. aku nggak mau terlihat bodoh di hadapan istriku sendiri. Banyak wanita ku taklukan tapi yang satu ini membuatku mati kutu.


"Abang tidur saja di situ, kalau Abang masih takut dan tidak nyaman.. kita berbatas guling" kata Fasya lebih berani padahal jelas sekali gadisnya Bang Pandu itu ketakutan setengah mati.


Bang Pandu mendekatkan wajahnya pada Fasya.


"Abang atau kamu yang takut? Laki-laki tidak akan pernah takut dalam hal seperti ini meskipun batinnya berperang hebat. Apalagi dalam hal ini kita sudah ada ikatan pernikahan"


"Ini kenapa? Kamu mau coba?" tanya Bang Pandu. Ubun-ubun nya serasa sudah mau pecah menahan tubuhnya yang sudah menegang.


Fasya mengangguk memberanikan diri.


"Nggak boleh nangis ya neng" kata Bang Pandu.


Fasya mengangguk lagi meskipun ia terlihat sangat ragu.


Bang Pandu menarik selimut yang menutupi tubuh Fasya. Sungguh kaget Bang Pandu karena Fasya hanya memakai pakaian tidur satin yang begitu tipis. Ia meneguk salivanya susah payah.


"Kamu yakin dek? Abang sudah kepalang tanggung" wajah Bang Pandu sudah jelas begitu tersiksa.


"Adek yakin Bang" jawab Fasya dengan pipi memerah.


"Ya Gustii... ayune bojoku" gumam lirih Bang Pandu. Bang Pandu yang tidak sabaran segera menarik Fasya kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Satu persatu tangannya yang lincah mulai berani berpatroli. Nalurinya semakin terasa saat samar mendengar suara Bang Rico dan Asya yang tengah memadu cinta di kamar sebelah. Tangan Bang Pandu meraba-raba celananya.. tak ada benda yang ia cari.


"Lhoo.. kemana ya?"

__ADS_1


"Cari apa Bang??" suara kecil Fasya begitu menggoda Bang Pandu.


"Halah mboh.." Bang Pandu akhirnya menyerah dan.............


~


Bang Rico mend***h panjang.


"Alhamdulillah.." Bang Rico mengecup sekilas bibir Asya. Malam ini dirinya benar-benar selesai dengan tuntas. Ia juga berhasil membantu Asya agar bisa merasakan kenikmatan berdua bersamanya.


"Nggak sakit khan?"


"Nggak Bang" Jawab Asya dengan senyumnya.


"Asya masih kangen sama Abang"


Bang Rico tersenyum. Ada kelegaan tersendiri karena usahanya tidak sia-sia.


"Siap Bu. Mau gaya apa" kata Bang Rico menyanggupi meskipun tubuhnya sudah mulai lelah.


~


"Maaf dek.. Abang nggak sengaja." Bang Pandu panik melihat Fasya yang begitu kesakitan di ranjang. Menggempur dua sesion membuatnya tidak menyadari apa yang terjadi.


"Fasya nggak bisa bangun.. Abaang..!!" pekik Fasya tertahan.


"Iyaa.. iyaaa.. Sabar sebentar" Bang Pandu buru-buru merapikan dirinya kemudian dengan Fasya.


~


tok..tok..tok..


"Ricooo..!!!" Bang Pandu mengetuk pintu kamar Bang Rico dengan panik.


"Allahu Akbar.. sabar Bang..!!" Bang Rico beranjak menarik diri dan menurunkan daster Asya dengan panik tapi ternyata yang ia dapatkan adalah wajah kesal dari sang istri.


"Ric.. ampun dah.. buat apa sih lu????" Bang Pandu semakin panik saja.


"Lima menit Bang, sabaar..!!" jawab Bang Rico sembari membujuk Asya yang mulai kesal.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2