
"Jihan pengen ikut pembinaan ini sejak lama" kata Jihan tertunduk saat Bang Rico menatapnya dengan mata tajam.
"Kamu khan tau sekarang perutmu itu bawa bayi, kenapa kamu nekat? Nggak bilang sama Abang lagi kamu ini. Itu bayi datangnya sudah bikin heboh, jangan sampai kamu macam-macam, Abang hajar betul kamu dek" tegur keras Bang Rico.
"Kalau bilang Abang pasti nggak boleh"
"Ya memang nggak boleh.. enak saja kamu" Bang Rico sampai tidak sengaja membentak Jihan karena geram dengan tingkah istrinya.
"Tapi si dedek pengen main yang begitu" jawab polos Jihan, tangannya mengusap perutnya yang masih datar.
"Ya Allah.. mau mati aku dengarnya" gumam pelan Bang Rico.
"Ini kapan acaranya?" tanya Bang Rico.
"Dua minggu lagi" jawan Jihan menunduk.
"Astaga Tuhan.. kamu ini memang...." tangan Bang Rico sudah gemas ingin mencubit Jihan tapi rasa kesalnya kalah dengan rasa sayangnya pada Jihan.
"Ya sudah.. Abang ikut saja lah. Calon anak Kapten nih, kudu di jaga betul ini" ucap Bang Rico yang sebentar lagi berpangkat Kapten.
...
Jihan masih merasa mual hingga badannya lemas. Gazha sangat kasihan melihat mamanya mual hebat.
"Sabar ya Ma, sebentar lagi Ayah pasti pulang" kata Gazha sambil memijat tengkuk Mamanya meskipun sama sekali tak terasa oleh Jihan.
Jihan mengangguk meskipun ada senyum yang dipaksakan.
Tak lama pintu terbuka, Bang Rico pulang.
"Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam" jawab Jihan lirih.
"Mama sakit yah" kata Gazha usai menjawab salam.
"Iya, Gazha mau punya adik, makanya Mama mual" Bang Rico duduk dan menyandarkan kepala Jihan di pundaknya.
Gazha terdiam, wajahnya terlihat sedih.
"Kalau Mama sakit, lebih baik Gazha nggak usah punya adik. Gazha hanya mau Mama sehat. Nggak punya adik nggak apa-apa"
Mendengar semua itu hati Bang Rico tak karuan.
"Gazha sayang.. adiknya Gazha sudah ada di perut Mama. Masa bilang begitu.. nggak baik nak" Bang Rico mengingatkan putranya.
"Gazha nggak suka adik kalau buat Mama sakit" kata Gazha kemudian berlari masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Bang Rico membuang nafasnya.
"Anak itu, kenapa dia bisa bicara begitu. Abang nggak pernah ajarin dia bicara jahat" gumam Bang Rico.
"Sudah Bang, namanya juga anak-anak. Pelan-pelan nanti kita ajari lagi. Sekarang kita temani Gazha dulu. Papa Mama khan sudah pulang Bang"
***
Beberapa anggota membantu Bang Rico yang sedang menyiapkan acara diklat di Kompi.
"Ijin Dan, apa untuk ibu kita siapkan tempat khusus?" tanya Pak Anas yang sudah mengetahui bahwa Jihan adalah suami Bang Rico.
"Nggak usah Pak, khusus untuk Jihan nanti saja sendiri yang melatih dan menangani.. Saya harap semua bisa mengerti" jawab Bang Rico.
"Siap komandan.. nanti saya dan rekan yang lain juga membantu mengawasi ibu" kata Pak Anas.
"Terima kasih banyak atas bantuannya ya pak"
***
Hari yang sudah di tentukan telah tiba. Aira berjalan di sekitar barak yang sudah di sterilkan khusus perempuan.
"Barang siapa ini?" tanya Bang Vian.
"Barang Aira" jawab Aira ketus.
"Katakan dengan sopan..!! Saya pelatihmu sekarang..!!!" bentak Bang Vian.
"Memang benar kamu tidak perlu takut karena yang boleh kamu takuti di dunia ini hanya Tuhanmu saja, tapi di kompi ini.. saya ketua pembinanya. Mau apa kamu??" ucap keras Bang Vian.
Aira melanggang tak peduli dengan ucapan Bang Vian.
"Astaga.. benar-benar ya makhluk satu ini" gerutu Bang Vian.
"Mau kemana kamu??? temanmu sudah persiapan apel.. kamu masih santai berada disini..!!" tegur Bang Vian apalagi saat dirinya melihat Aira menenteng plastik dengan cairan warna biru di tangan.
"Nggak lihat ini apa? Aira mau kumpulkan minyak tanah untuk api unggun nanti malam" jawab ketus Aira.
Minyak tanah?????
Bang Vian langsung paham apa yang di bawa Aira.
"Heeehh.. kenapa kamu bawa p******x dalam plastik es??"
Aira menepuk dahinya.
"Kenapa ya bapak yang satu ini cerewet sekali.. apapun bisa jadi salah. Apa memang sengaja cari masalah?"
__ADS_1
"Terserah lah, percuma bicara sama perempuan yang isi kepalanya hanya sebesar gundu" Bang Vian pun pergi meninggalkan Aira.
...
Bang Rico mengawasi Jihan dari jauh saat istrinya itu sedang berkumpul bersama rekannya.
"Kamu angkat semua kayu kering itu ya Jihan, aku mau pakai make up dulu" perintah Dina pada Jihan.
"Ya sudah. Aku angkat dulu"
Bang Rico melihat Jihan begitu sibuk, sekali.. dua kali ia masih memberi kelonggaran pada istri kecilnya tapi lama kelamaan pekerjaan Jihan menjadi semakin berat. Bang Rico pun menghampiri Jihan dan menegur rekan satu team Jihan.
~
"Kenapa hanya Jihan saja yang kerja.. yang lain sibuk apa? tegur Bang Rico, saat itu Dina hanya sibuk ber make up saja.
"Ijin pelatih.. Jihan yang minta untuk angkat kayunya" jawab Dina.
"Lalu kamu biarkan saja???? Cepat kerjasama..!! Tidak ada boss disini..!!" perintah Bang Rico.
Jihan tersenyum karena Bang Rico terlihat sangat mencemaskan dirinya.
"Jihan ikut saya..!!"
"Siap pelatih" jawab Jihan.
~
"Kamu apa-apaan sih dek? Ingat anak donk, dia masih kecil sekali di perut. Abang benar-benar titip dia. Kenapa nggak kamu jaga????" tegur keras Bang Rico terus mengomel.
Melihat suaminya begitu khawatir padanya.. Jihan berjinjit dan mengalungkan kedua tangan di belakang leher Bang Rico.
"Jihan baik-baik saja, asal selalu ada papanya si dedek" kemudian Jihan mengecup bibir Bang Rico.
"Wajar khan Abang cemas" jawab Bang Rico berubah begitu lembut, suara garangnya mendadak hilang.
"Pulang saja ya, jangan ikut Diklat.. Abang kepikiran..!!"
Tanpa bicara Jihan melakukannya lagi, tapi dengan lebih lembut.
"Berani sekali kamu sama pelatih.. kamu harus terima hukumanmu..!!" ancam Bang Rico kemudian dirinya sendiri yang melanjutkan semuanya di ruang kerjanya yang sepi.
Tanpa mereka sadari ada yang sudah mengintip dari celah jendela. Suara desaah Jihan membuatnya jengkel apalagi saat melihat Bang Rico semakin tidak bisa menahan diri.
.
.
__ADS_1
.
.