
"Kau benar Selena. Anak itu harus punya ayah." Asya menjawab ucapan Selena dengan raut wajah tenang.
"Begitu juga dengan anak Bang Rico ini" Asya mengusap perutnya yang masih datar.
Sungguh kaget Bang Rico mendengar ucapan Asya bahwa istrinya itu sudah mengandung anaknya lagi padahal ia tau segalanya begitu sulit mengingat keadaan Asya.
"Ini anak sah dari pernikahan saya dan Bang Rico, bukan anak yang di paksa ada karena orang tuanya 'gatal', jadi maaf. Kalau anak itu butuh pengakuan.. setelah lahir, saya akan merawatnya karena saya tidak mengijinkan kamu merawat bapak nya." jawab Asya.
Selena geram sampai berteriak tak karuan.
"Om Sobri.." terdengar suara Asya memanggil Om Sobri.
Om Sobri membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
"Siap Ibu"
"Tolong antarkan tamu kita untuk keluar kesatrian..!!" perintah Asya tegas.
"Kamu..!!!! Berani-beraninya kamu mengusir mertuamu dengan cara tidak sopan seperti ini..!!!!" bentak Mama Diana.
"Siapa?? Mertua siapa?? Saya ini tidak punya mertua, saya juga tidak di anggap menantu. Jadi silakan keluar dan bawa 'menantu' kesayangan anda" kata Asya.
"Ricoo.. kamu dengar itu?? Apa ini istri yang sopan yang kamu banggakan? Dia tidak menghormati Mama yang melahirkan mu..!!" Mama Diana semakin murka.
"Maaf.. seorang ibu akan tau bagaimana porsinya menjadi seorang ibu dan anda sudah menyakiti hati seorang istri dan juga seorang ibu. Saya bukan ingin menentang kata-kata dari wanita yang sudah melahirkan saya.. tapi saya tidak akan menuruti perintah dan ucapan dari wanita yang tidak mencerminkan sikap seorang ibu. Harap di mengerti.. anak laki-laki adalah milik ibunya.. tapi saat ini status saya adalah juga seorang suami, jika istri saya tersakiti.. saya juga tidak akan tinggal diam." jawab Bang Rico dengan tegas.
"Baiklah.. Mama akan pergi, tapi ingat.. do'a seorang ibu yang tersakiti karena ucapan putranya.. tidak akan membawa berkah apapun untuk keluargamu" ucap Mama Diana.
"Anda tau artinya sebuah do'a?" tanya Mama Diana.
"Itu hanya berlaku bagi yang pantas di sebut seorang ibu" jawab Bang Rico.
"Ricoooooo..!!!!!!" Mama Diana begitu marah dengan jawaban Bang Rico yang terlihat tenang duduk di tempatnya.
Om Sobri pun menggiring Mama Diana dan Selena keluar.
__ADS_1
~
Asya pun terduduk dengan kasar di sofa.
"Dek.. apa benar katamu tadi? Kamu hamil?" tanya Bang Rico dengan mata berkaca-kaca.
Asya menepis tangan Bang Rico, tak sanggup lagi merasakan sakitnya hati saat melihat video kebersamaan Bang Rico dan Selena.
"Sebegitu marahnya kamu sama Abang? Apa kamu lihat Abang yang memulai semuanya?"
"Abang mungkin tidak memulai semuanya, tapi melihat suami bersama wanita lain tetap saja membawa luka dalam hati Asya.. bagaimana pun juga, Abang merespon Selena dan menemuinya diam-diam. Puas Abang membelai tubuh perempuan itu??" jawab Asya.
"Abang minta maaf dek."
"Mungkin mulut Asya bisa memaafkan.. tapi tidak dengan hati Asya" Asya pun berdiri dan setengah berlari meninggalkan ruangan.
"Asyaa.. pelan-pelan dek..!!" kini Bang Rico benar-benar cemas jika saja benar Asya tengah mengandung calon anak keduanya.
"Mohon ijin Komandan.. senior..!!" Bang Rico memberi hormat pada para seniornya dan berlari mengejar Asya.
~
"Anak Abang itu sama Selena, bukan anak ini?"
"Ngomong apa sih dek.. Jangan ngawur begitu. Tenang dulu, jangan marah-marah.. kasihan anak kita dek" kata Bang Rico.
Asya menepis lagi tangan Bang Rico.
"Asya nggak hamil dan nggak mau hamil" ucapnya kemudian berlari pulang.
"Asyaaaa..!!!!! Astagfirullah" Bang Rico mengacak rambut cepaknya kemudian secepatnya menyusul Asya. Perasaan Bang Rico benar-benar kalut dan takut.
"Selena b******k" umpatnya murka.
...
__ADS_1
"Ini pelajaran untuk kita semua. Lain kali pikir ulang jika memang ingin menyelesaikan masalah.. entah itu intern rumah tangga ataupun pekerjaan. Memang kita pria biasanya ingin agar masalah yang kita hadapi tidak sampai ke dalam rumah atau istri tidak boleh sepenuhnya tau masalah kita, tapi kalau endingnya berakhir fatal.. lalu buat apa memendam cerita?" kata Danyon menasihati seluruh anggota perwiranya agar bisa meneruskan ke anggota masing-masing.
"Siap Dan"
"Sekarang kembali pada tugas masing-masing sambil kalian mencari informasi tentang kehamilan Selena.. kasihan Rico tertimpa banyak masalah" Danyon pun ikut memikirkan nasib Bang Rico.
-_-_-_-_-
tok..tok..tok..
"Buka pintunya dek.. Kita bicara dulu....!!"
"Buat apa bicara kalau tidak ada penyelesaian? Kalau bicara bisa menghapus saat Abang berduaan sama dia.. baru kita bicara..!!" jawab Asya dari dalam kamar.
Bang Rico merosot bersandar di pintu kamar. Ia merasa hancur dan berantakan.
"Abang tau kamu sulit memaafkan kesalahan Abang dan tidak ada kata yang pantas untuk Abang membela diri karena memang Abang yang salah" matanya terpejam merasakan batin yang tersiksa.
"Jika masih sudi, Abang harap kamu ikhlas memaafkan Abang.. tapi jika memang semua ini terlalu menyakiti hatimu.. Abang pasrah dengan semua keputusan mu..!!"
Asya pun ikut duduk di balik pintu. Sungguh semua begitu menyakitkan hati.
"Asya tidak bisa mentoleransi adanya wanita lain dan juga perselingkuhan. Asya ingin kita berpisah" ucap Asya sangat jelas terdengar.
Bang Rico meremas dadanya sekuatnya. Ia membuang nafas perlahan.
"Akan Abang ceritakan, juga akan Abang kabulkan segala permintaan mu.. tapi tidak dengan perpisahan kita. Maaf.. Abang tidak bisa mengabulkan permintaan mu" Bang Rico tidak ingin terbawa suasana juga ia sangat cemas jika mungkin Asya sedang mengandung sebab saat ini Asya sedang tidak dalam emosi yang stabil.
"Abang tanya.. apa kamu sedang hamil anak Abang?"
"Pentingkah itu? Apa jika perempuan itu hamil, Abang berniat menikahinya?" tanya Asya kembali tersulut emosi.
.
.
__ADS_1
.
.