Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
113. SP 2. 16. Belum baikan.


__ADS_3

"Abang ada rapat sama Dan Sanca dek.. ya kira-kira sampai jam sebelas."


"Ya sudah, Jihan bisa jemput Gazha kok." jawab Jihan mulai kalem karena masih ketakutan berdekatan dengan Bang Rico.


"Kamu masih marah sama Abang?"


Jihan terdiam. Matanya kembali memerah kemudian mengangguk.


"Abang minta maaf ya?"


Tak lama Gazha datang


"Mama.. Gazha lapar.. mau mandi terus berangkat sekolah"


"Iya.. mandi dulu ya..!!" Jihan membawa Gazha untuk mandi dan tidak menjawab pertanyaan Bang Rico.


~


Saat memandikan Gazha.. Jihan masih muntah sampai lemas.


"Abang ijin saja lah, biar Vian yang ikut rapat" Bang Rico sudah mengambil ponselnya tapi Jihan melarang.


"Jangan meninggalkan tanggung jawab. Abang berangkat saja"


Ada rasa tak tega dalam hati Bang Rico.


"Kalau ada apa-apa cepat hubungi Abang ya" satu kecupan mendarat di kening Jihan.


...


Dalam ruang rapat, Bang Rico tidak bisa konsentrasi. Pikirannya hanya terfokus pada Jihan yang sedang menemani Gazha di sekolah. Perasaannya tiba-tiba tidak enak. Jam tangannya sudah menunjuk pukul sepuluh pagi.


"Lettu Rico.. coba di ulang ucapan saya" kata Dan Sanca.


Bang Rico kaget dan hanya terdiam.


"Kamu tidak mendengar arahan saya?" tanya Dan Sanca lagi.


"Siap salah"


"Silakan ambil tempat...!!"


"Siap.." Bang Rico berdiri dari bangkunya.


~


"Mama kenapa?" tanya Gazha saat dirinya dan Jihan melewati pos penjagaan kompi.


Jihan awalnya berniat memberi salam, tapi tiba-tiba badannya terhuyung, pandangannya gelap dan....


bruugghh....


"Mamaaaaaa"


//


"Ya Allah.. rumah sakit mana Vian???" Bang Rico sangat panik saat Bang Vian menghubunginya dan memberi kabar bahwa Jihan pingsan di pos depan kompi.


:


Bang Rico berlari menuju ruang UGD, disana Gazha sudah menangis kencang dalam gendongan Bang Vian.


"Mama nggak bangun yah" kata Gazha.


"Mama capek Bang, Abang khan tau mama lagi sakit" bujuk Bang Rico sambil menggendong putranya padahal hatinya sendiri tidak tenang.


"Lho.. Rico.. kamu disini temui siapa?" tanya Bang Hafiz litting Bang Rico.


"Jihan bro.." jawab Bang Rico lemas.


"Hmm.. kamu keluarganya atau bagaimana?" tanya dokter Hafiz.


"Katakan saja ada apa?"


Karena raut wajah Bang Rico sangat cemas, akhirnya dokter Hafiz buka suara.

__ADS_1


"Begini Bro.. Jihan.. hamil"


"Aduuuhh" Bang Rico meringis menepuk dahinya.. tapi kemudian.....


buugghhh...


"Abang macam apa kamu ini???" bentak Bang Vian lalu menghajar Bang Rico membabi buta.


"Stop Vian.....!!!!!!!!" teriak Dan Sanca.


Dan Garin, Dan Wira dan Om Sanca berlarian menyusul Bang Rico. Mereka memisahkan Bang Rico dan Bang Vian.


"Kalian ini tak tau malu. Ini rumah sakit..!!" bentak Dan Garin. Dan Garin pun menoleh menatap Bang Rico.


"Gimana keadaan Jihan?" tanya Papa Garin.


"Jihan..... hamil Pa" jawab Bang Rico.


Ketiga perwira tinggi itu saling menatap.


Bang Vian terbelalak bingung mendengar Bang Rico memanggil Dan Garin dengan sebutan Papa.


Tak lama terdengar suara tangis Jihan. Suaranya benar-benar histeris mengagetkan semua orang. Semua orang masuk tak terkecuali Bang Vian. Tangis Jihan semakin pecah apalagi saat melihat Papa Garin.


"Papaaa.. Maafin Jihan.. Jihan hamil"


Bang Rico sedih sekali melihat tangis Jihan.


"Biar Abang yang jelaskan sama Papa" bujuk Bang Rico.


"Selama Jihan disini... Jihan nggak pernah melakukannya sama siapapun Bang. Hanya sama Abang saja semalam" ucap Jihan dengan polosnya. Ia sungguh takut.


"Hhhssttt.. iya.. iya.. jangan bicara lagi" Bang Rico bingung tidak bisa membungkam mulut Jihan.


"Maksudmu bagaimana Jihan.. Nggak mungkin lah dalam semalam perutmu ada isinya." tanya Papa Wira ikut bingung.


Karena situasi sudah semakin semrawut, Jihan pun semakin menangis.. Bang Rico akhirnya buka suara.


"Malam itu Abang yang lakukan. Waktu kamu bisa sampai pindah ke ruang TV."


"Mau nikah bagaimana lagi. Kamu sama Jihan sudah nikah" celetuk Papa Wira.


Kaki Bang Rico lemas, ia duduk memegangi tangan Jihan yang masih menangis. Wajahnya bingung.


"Kamu ingat nggak waktu Papa ajak kamu latihan akad nikah. Itu khan ada penghulu nya" kata Papa Wira.


"Ini apa sih Pa, saya nggak ngerti."


"Papa sengaja buat akal seperti ini ya untuk menghindari hal seperti ini. Saat itu kamu masih ragu, tapi sebenarnya dalam hatimu sudah ada Jihan. Nyatanya benar khan, itu baru sehari dan kamu sudah kebablasan" tegur Papa Garin.


"Begini nih kamu, kalau panik.. pikiranmu nggak bisa jelas. Pikir baik-baik dalam kepalamu donk Ric. Mana ada akad nikah cuma latihan. Papa juga nggak mau kecolongan" kata Papa Garin.


"Ya Allah Pa, tapi ulah Papa ini nyiksa saya banget. Tau begitu sudah saya tangani Jihan Pa"


"Tapi sebentar Pa, saya luruskan. Saya belum apa-apakan Jihan.. hanya...." Bang Rico malu setengah mati menatap satu persatu wajah di dalam ruangan. Tak sadar sedari tadi sudah mengoceh tentang hal pribadi nya.


~


"Jadi bagaimana Bro?" tanya dokter Hafiz.


"Sumpah aku belum begituan. Hanya p*****g saja" jawab jujur Bang Rico karena dirinya sedang bicara dengan seorang dokter secara pribadi.


"Terus selesai dimana?" tanya Bang Hafiz.


"Luar lah"


"Yakin?????" tanya Bang Hafiz lagi.


"Ya nggak tau kalau ada peluru nyasar"


"Naahh itu, berarti benar saja Jihan hamil. Telat geser.. jadi bapak lu bro" jawab dokter Hafiz.


"Aseeeeem" Bang Rico menggeleng, tapi ada rasa syukur dalam hatinya.


...

__ADS_1


Papa dan mama sudah tiba di dalam kamar rawat Jihan. Bang Rico keki setengah mati melihat para Papa menatapnya dengan tatapan penuh kesal.


Jihan sudah bisa tidur dan Gazha sedang ada dalam gendongan Papa Wira juga sudah hampir tertidur.


"Kenapa kamu buat Jihan berpikir keras. Jangan bodoh-bodohin istri kenapa sih Ric?" tegur Papa Wira.


"Niat saya nggak begitu Pa. Sungguh semua ini tidak terlintas dalam pikiran saya" jawab Bang Rico penuh sesal.


"Sini kamu..!!" kalau Papa Sanca yang menangani secara dunia sudah mau kiamat.


Bang Rico pun mendekat meskipun langkahnya ragu.


"Bersyukurlah karena kamu menantunya Garin. Kalau kamu menantuku.. sudah habis kamu saya hajar" Papa Sanca merangkul Bang Rico, jelas sekali terlihat Bang Rico lemas dan ternyata memang akhirnya Bang Rico tak sanggup berdiri.


Papa Garin menyorong kursi agar Bang Rico bisa duduk. Lama kelamaan mata Bang Rico terpejam.


"Ini menantu Abang tidur apa pingsan?" tanya Papa Wira mengintip Bang Rico.


"Biar saja..!! Rico tidur, selain lelah.. syok itu juga membuat denyut jantung mu lebih kencang. Biarkan Rico istirahat sebentar" jawab Papa Sanca.


...


Jihan menodongkan tangannya di depan wajah Bang Rico.


Bang Rico pun mengambil dompetnya dan isinya sudah kosong melompong.


"Abang nggak ada uang cash" kata Bang Rico.


"Denda harus di bayar..!!"


Bang Rico menoleh pada Papa Garin.


"Pa.. pinjam uang dulu sebentar" wajah Bang Rico terlihat sangat memelas.


"Berapa?" tanya Papa Garin.


"Tiga juta aja Pa" jawab Bang Rico.


Papa Garin mengambil dompet di saku celananya. Terlihat sangat tebal dan meyakinkan.. tapi begitu membukanyaaaa..


"Ric.. nanti Papa bilang mama dulu ya. Mama menteri keuangan. Papa nggak bisa pegang uang." bisik Papa Garin menunjukan isi dompetnya yang hanya berisi uang lima belas ribu saja.


"Laahh pa, itu dompet tebal isinya apa?" gumam Bang Rico.


"Ini bon belanjanya Mama Esa" bisik Papa Garin lagi.


"Mana Bang??" tanya Jihan.


"Sebentar.. Papa temui Papa Sanca dulu"


~


Bang Vian merokok sendirian. Ia sungguh patah hati ternyata Jihan telah bersuami.


Seorang gadis berjalan cepat membawa ice coffe di tangan, tak sengaja ia tersandung dan mengguyur kepala Bang Vian.


"Ya salam.. wes adem.. kesiram pisan" gerutu Bang Vian kemudian menoleh mencari tersangka penyiraman.


Waduuuhh.. opo iki rupane bidadari?


Mulut Bang Vian ternganga sampai akhirnya gadis itu berdiri di hadapannya sambil berkacak pinggang.


"Kenapa duduk disitu? Saya jadi jatuh"


"Waduuuhh.. mbak nya yang nabrak kok saya yang disalahkan" gumam Bang Vian.


"Aira.. kenapa nggak langsung ke kamar Jihan?" ada seorang pria menegur Aira.


"Papa.."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2