
"Selamat malam, ada tahu gimbalnya?"
"Siap.. ada Dan..!! Ini kembalinya" kata Om Acep.
"Ambil semua Cep. Ini pedas khan?" tanya Bang Rico.
"Siap..! Terima kasih Dan"
"Sama-sama. Terima kasih juga..!!"
:
"Ini pedas Bang.. Abang kuat?" tanya Asya.
"Abang nggak kuat pedas, tapi lagi pengen makan pedas"
Asya pun ikut makan dari suapan Bang Rico. Karena dirinya begitu mencintai makanan pedas, tak ada hambatan sedikit pun.. hanya Bang Rico yang hampir menghabiskan air minum dalam teko ukuran dua liter.
:
"Hmpp.. sakit sekali perut Abang dek..!!"
Asya mengambilkan obat nyeri lambung karena Bang Rico terus merintih memegangi perutnya.
"Nggak bisa makan pedas saja gaya"
"Anakmu ngerjain ayahnya itu" jawab Bang Rico.
"Ya sudah.. Abang minum dulu obatnya, biar cepat reda" kata Asya.
***
Bang Yudha mencukur rambut Bang Rico sampai habis dan hanya tersisa sedikit rambut.
"Ransel sudah siap Ric?" tanya Bang Yudha.
"Sudah Bang" jawab Bang Rico singkat.
__ADS_1
"Bagaimana kalau Asya lihat penampilanku seperti ini. Dia bisa syok melihatku hitam, dekil seperti tahanan kota"
"Asya sudah tau khan kamu akan dapat sanksi ini. Tenang saja, rambut kita dua minggu sudah terlihat gondrong" kata Bang Yudha.
:
Bang Rico berlari mengelilingi area batalyon sambil menggendong ransel di pundaknya sebanyak lima kali kemudian di lanjutkan dengan kurve lapangan selama kurang lebih satu bulan dan harus tetap mengikuti kegiatan yang ada.
"Ya.. begitulah kalau demi istri, apapun akan di lakukan" Bang Winata mengawasi Bang Rico sambil berkacak pinggang.
"Apalagi istri lagi hamil. Bisa gila kita mikirnya Win" Bang Yudha membuang puntung rokoknya ke sembarang arah.
"Heehh.. ambil puntungmu..!! Satu sampah bisa mengurangi pekerjaan Rico" tegur Bang Winata.
"Oiya.. sorry bro"
...
Asya bosan di kamar, ia pun mulai berberes rumah. Meskipun punggungnya terasa pegal, tapi ia lebih memilih mencari kegiatan yang bermanfaat di rumah sampai ia menemukan ransel besar yang belum pernah di bukanya.
"Besar sekali tas ini. Apa isinya?" gumam Asya penasaran.
"Papa?? Abang sudah kenal Papa sudah lama sekali. Waktu sekolah Abang gondrong sekali, kulit hitam seperti tidak terawat" Asya memperhatikan dan membandingkan wajah Asya yang dulu dan sekarang.
Asya kembali membuka tiap sela kantong dan akhirnya menemukan sebuah dompet lama. Asya membukanya. Betapa terkejutnya Asya melihat ada banyak sekali foto perempuan tapi yang paling menarik perhatiannya adalah foto seorang wanita yang jelas ia kenal siapa orangnya. Tertulis indah nama cintaku dan itu wajah Netta. Istri senior dari suaminya.. Bang Yudha.
Tersimpan kata cinta dan kerinduan suaminya itu untuk Netta, hati Asya langsung tertusuk nyeri apalagi ada banyak foto Bang Rico bersama Netta.. Ia terduduk lemas.
"Bang Rico, mantan pacar Mbak Netta? Apa mereka berpisah? atau Abang masih ada hubungan sama Mbak Netta sampai sekarang?"
Tak lama Bang Rico pulang, rumah terlihat sepi.
"Assalamualaikum.. dek..!!" sapanya, tapi tak ada sahutan.
"Wa'alaikumsalam Bang" Jawab Asya.
Bang Rico melihat raut wajah mendung Asya. Terlihat juga barang-barang dari tas ransel di gudang yang belum sempat tertata rapi.
__ADS_1
Jelas sekali ada seribu pertanyaan dalam hati Asya, tapi ia tidak mengungkapkan perasaannya begitu saja.
Astagfirullah hal adzim.. Asya lihat foto lama itu. Apa sekarang dia marah? Hatinya pasti sakit tau semua ini.
"Netta hanya mantan. Sudah tidak ada lagi rasa dalam hati Abang" sebelum Asya benar-benar marah, Bang Rico berusaha untuk meluruskan hal yang bisa menjadi salah paham.
"Asya nggak ingin tau Bang" jawab Asya.
"Bibirmu memang tidak ingin, tapi hatimu tidak bisa menerimanya"
"Lalu Asya harus bagaimana Bang? Memarahi Abang karena sebuah masa lalu, Asya juga punya masa lalu. Mbak Netta wanita spesial dalam hati Abang" Asya mulai melow terbawa perasaan meskipun dirinya berusaha kuat.
"Benar.. untuk beberapa tahun yang lalu. Tapi nama, dirinya juga segalanya sudah tergantikan wanita tercantik, terindah dan yang pasti pelabuhan terakhir Abang"
"Nggak usah belaga Bang kalau sudah begini hasilnya" kata Asya masih bertahan meskipun suaranya sudah mulai serak.
"Percaya itu hanya ada dalam hatimu, percuma Abang memaksa seseorang yang tidak ingin percaya. Pondasi rumah tangga selain kesetiaan adalah kepercayaan. Dulu adalah kenangan yang tidak ingin Abang ulang. Sekarang adalah tujuan. Tujuan Abang hanya kamu, istri Abang. Bukan Netta" jawab Bang Rico kemudian ikut duduk bersama Asya, mendekap dan menyandarkan istrinya itu padanya.
"Abang sangat menghargai, mencintai dan menyayangi wanita yang dengan ikhlas membuka dirinya, merelakan dirinya mengandung separuh diri Abang yang akan lahir ke dunia."
Asya tak sanggup menjawabnya, tapi Bang Rico tau banyak kata tak terucap.
"Lupakan semua sakit, rumah tangga kita bukan untuk main-main. Suamimu ini mungkin bukan pria suci, tidak ada janji manis untukmu, karena...." Rasanya Bang Rico pun tak sanggup berucap, ia bukan pria yang mudah mengobral janji.. semua hanya bisa tertuang lewat 'gores pena'.
"Janji Abang di hadapan Allah, tak akan Abang ingkari"
Perlahan air mata Asya menetes. Ia luluh pasrah dalam dekap hangat Bang Rico.
"Abang tau perasaanmu. Jangan cemburu lagi. Abang sayangnya sama Asya" kata Bang Rico.
Asya memalingkan wajahnya malu-malu.
"Asya paling tau 'maunya' Abang. Abang sudah terpikat. Mana sanggup Abang berpaling.. dari awal pun, Abang sadar begitu menginginkan mu." entah ini bisa di terima oleh Asya atau tidak.. yang jelas Bang Rico sudah mengungkapkan perasaannya walaupun secara mendadak seperti ini.
.
.
__ADS_1
.
.