Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
115. SP 2. 18. Tentang hubungan ini.


__ADS_3

"Masa???? Waaahh.. Papa sama Abangmu memang keterlaluan Ai.. Anak gadis papa sudah cantik gini kok nggak boleh pacaran. Memang dasar papamu itu kuno" kata Papa Garin mengompori Aira yang sama lugunya seperti Jihan putrinya.


"Iya khan Pa. Aira sudah kuliah.. sudah dewasa" jawab Aira mengundang tawa tertahan Papa Garin.


"Betul sekali.." Papa Garin mengacungkan jempolnya.


//


Untuk kesekian kalinya Jihan menodongkan tangan di depan wajah Bang Rico padahal hari ini Jihan akan pulang ke rumah karena kondisinya sudah lebih sehat.


"Apa lagi ini?" tanya Bang Rico.


"Duit Bang.. Abang khan sengaja dekat-dekat sama Jihan. Nanti Abang jatuh cinta lho" jawab Jihan.


"Sebentar sedih, sebentar bahagia.. sebentar marah.. apa maunya?" gumam Bang Rico.


"Duit Baang..!! Duiiitt" kata Jihan dengan mata berbinar-binar.


"Gustii Allah.. Mamanya tukang palak begini, bagaimana anakku nanti" Bang Rico menepuk dahinya kemudian mengambil dompetnya.


"Nih, Abang ngecer dulu..!! Belum ambil uang." kata Bang Rico sembari menyerahkan lima lembar uang merah.


"Makasiih Abaang..!!"


"Lihat yang begitu, langsung ijo aja itu mata" ledek Bang Rico.


"Ini obat demamnya Jihan Bang" jawab Jihan kemudian menempelkan lembaran uang itu di kening.


"Bukan main makhluk bernama wanita"


//


"Astagfirullah hal adzim.. kamu lagi..!! Sudah dua kali kamu tumpahkan kopi di rambut saya. Memangnya saya ini j****n??" bentak Bang Vian.


"Dua kali juga situ halangin jalan nya Ai" ucap Aira tak mau kalah.


"Situu.. situuu.. dasar replika kuyang. Panggil orang yang lebih tua tuh yang sopan. Mas.. atau Abang gitu.. asal nyablak aja nih bocah" sambar Bang Vian geram sambil mengibaskan rambutnya.


"Iyaa Maaass..!! Mas_alah" Aira pun langsung lari tunggang langgang tanpa pamit.


"Wooo.. dasar..!! Kalau bukan anak Dan Sanca sudah ku pithes aja itu bocil" gerutu Bang Vian.


"Siapa yang mau di pithes?" tanya Dan Sanca tiba-tiba sudah berada di belakang Bang Vian.


"Siap salah..!!" ucap Bang Vian melihat wajah garang Dan Sanca.


"Ayo ngopi...!!" ajak Dan Garin langsung merangkul Bang Vian, senyum usil itu membuat jantung Bang Vian serasa mau copot.

__ADS_1


...


Bang Rico duduk berhadapan Dan Garin dan Bang Vian duduk berhadapan dengan Dan Sanca sebelum Jihan keluar dari rumah sakit.


"Tegang sekali kalian, kita hanya mau bicara masalah pekerjaan, bukan mau pithes-pithesan" kata Dan Sanca.


Dan Garin mengangguk sambil menikmati krupuk kulit, suaranya begitu berisik mengiringi hawa tegang di antara mereka ber empat.


"Siap..!!" jawab Bang Rico dan Bang Vian.


"Beberapa hari lagi akan ada penambahan anggota di kompi mu. Alokasikan anggotamu untuk mengisi daerah rawan di tempat penugasan BKO" kata Dan Garin memberi arahan karena jabatan Dan Garin saat ini adalah komandan per wilayah.


"Siap Dan. Tapi daerah di bukit perbatasan juga butuh pengamanan.. Sedangkan dana operasional belum turun. Para anggota juga butuh makan Dan.. Ijin arahan" pinta Bang Rico.


"Nanti saya tanyakan ke pusat, setelah itu kamu atur aplosannya. Kalau tadinya kirim lumayan banyak orang, sekarang kamu bagi dua. Ibarat Awalnya lima belas orang sekali berangkat, kali ini sepuluh saja per wilayah. Jadi kamu kirim dua puluh orang. Mengerti kalian?" arahan Dan Sanca.


"Siap mengerti" jawab keduanya.


:


"Tunggu Abang, saya minta maaf soal sikap saya kemarin. Sungguh saya tidak tau kalau Jihan.. istri Abang" Bang Vian menghalangi jalan Bang Rico, ia merasa tidak enak dengan kejadian kemarin.


"Nggak apa-apa. Abang juga minta maaf nggak bisa kontrol emosi" jawab Bang Rico yang sebenarnya juga tidak enak karena tidak bisa menahan emosinya.


Mereka berdua pun bersalaman dan merontokkan segala salah paham dan amarah di antara mereka.


Tak lama ada sebuah batu kerikil melesat mengenai dada Bang Vian.


"Aaawwhh.."


"Aduuhh.." Bang Rico pun ikut bereaksi sampai kemudian ada sebuah batu yang juga mengenai dada Bang Rico.


"Siapa yang berani nembak batu????" tegur keras Bang Rico.


"Jihan yang bidik Abang. Abang mau marah?" kata Jihan berkacak pinggang.


"Duuhh alaah.. kamu kenapa ke kantor dek..!! Jalannya batu disini. Anak Abang bisa goncang di jalan" Bang Rico langsung menghampiri Jihan dan memintanya duduk.


"Kamu lagi.. kalau ada kamu rasanya dunia ini kena kutuk" kata Bang Vian menegur Aira.


"Kamu pikir hanya Aira saja yang bertingkah ajaib. Jihan juga tidak kalah usil" jawab Bang Rico tanpa sadar sampai akhirnya dua wanita itu melirik Bang Rico dan Bang Vian.


Seketika itu juga tangan Aira melayang menghantam Bang Vian sampai lari kocar-kacir sedangkan Bang Rico hanya diam di tempat tak berani menghindar atau melawan bumil yang menghajarnya.


"Kenapa sih laki harus cari perkara" ucap kesal Jihan.


"Kebalik dek, ini kamu duluan lho"

__ADS_1


"Abang masih mau salah-salahin Jihan?? Abang nih sudah hamilin Jihan.. sekarang masih mau marah juga??? Jihan kutuk Abang jadi kolor ijo ya..!!!!"


"Nggak dek.. Nggak.. Abang nggak marah. Maaf..!!" ucapnya takut menyakiti Jihan.


Melihat Bang Rico begitu lemah karena mengetahui dirinya sedang hamil, terbersit sifat usilnya.


Jihan terhuyung lemas menubruk Bang Rico, kakinya pun seakan kehilangan tulang.


"Jihaaan..!!!!! Dek.. Ya Allah, kamu nggak tidur sih semalam" tangan Bang Rico memegang perut Jihan. Tak sadar Bang Rico mengecup kening Jihan.


"Sabar sayang..!!" suaranya berubah sendu.


Bang Vian dan Aira yang tadinya berlari-lari pun jadi ikut terdiam sampai keduanya bertabrakan.


"Itu kenapa ya dek?" tanya Bang Vian tapi Aira hanya mengendikan bahu.


"Dioonn..!!!!! Ambil mobil saya.. Bawa kesini..!!!!!" perintah Bang Rico. Wajahnya cemas luar biasa.


"Abang.. si dedek mau di gendong ayahnya sampai rumah..!!" ucap lirih Jihan di antara suara lemasnya.


"Ya sudah Abang gendong" Secepatnya Bang Rico menggendong Jihan tak peduli dengan anggotanya yang lain.


Jihan bersandar di bahu Bang Rico, ada wangi maskulin yang begitu membuatnya tenang dan nyaman, tak terasa air matanya menetes.


Maaf ya Bang.. Jihan bohong, Jihan juga nggak tau kenapa Jihan ingin sekali dekat sama Abang, ingin terus bersentuhan sama Abang. Semalaman Jihan nggak bisa tidur karena pengen dekat Abang.


Sekilas Bang Rico melirik Jihan. Hatinya kaget dua kali lipat karena melihat Jihan menangis.


"Apa yang sakit dek? Kita ke rumah sakit ya..!!" ajak Bang Rico.


"Bang.. boleh nggak kalau malam ini Jihan sama Gazha boboknya di temani Abang" tanya Jihan amat sangat pelan sekali tapi Bang Rico masih bisa mendengarnya.


"Nggak boleh............"


"Iya Bang.. ya sudah..............."


"Nggak boleh bawa Gazha tidur sama kita. Anakmu sudah mulai besar.. biarkan dia mandiri, karena kita juga harus belajar menjalani hubungan ini bersama-sama" tanpa sadar Bang Rico lalu mengecup kening Jihan lagi sampai akhirnya Jihan tak kuasa memendam perasaan.


"Bang.. kalau Jihan punya rasa sama Abang.. apa boleh? Semua tentang Abang.. buat Jihan serakah dan menginginkan Abang untuk Jihan sendiri" Jihan menatap mata Bang Rico.


Mata Bang Rico pun menatap mata Jihan yang memerah basah.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2