
Cerita versi Nara..!!
🌹🌹🌹
Bang Pandu menepis tangan Pak Deris lalu masuk ke dalam mobil.
Begitu Bang Pandu menyalakan mesin mobilnya, ia langsung melaju dengan kecepatan tinggi.
Fasya hanya melirik sang suami dan tak tau apa yang terjadi. Yang ia tau saat ini suaminya sedang marah. Sifat kaku dan garang suaminya mulai terlihat semenjak dirinya hamil.
"Adek capek lihat sikap Abang. Abang tidak pernah suka kalau Adek berteman dengan siapapun bahkan teman Adek yang hanya tanya PR saja Abang musuhi. Tapi kali ini Abang keterlaluan. Kenapa Abang sampai musuhi guru nya Adek" ucap Fasya tak sanggup menahan rasa kesalnya lagi.
"Jangan bahas masalah ini..!!" jawab Bang Pandu. Ia berusaha menekan amarahnya dan merendahkan nada suaranya.
"Kita harus selesaikan Bang. Adek nggak mau Abang cemburu buta nggak jelas" teriak Fasya di dalam mobil.
"Abang bilang cukup dan jangan bahas masalah ini lagi..!!!!!! Kecilkan suaramu..!!!!!!!!" bentak Bang Pandu membuat nyali Fasya ciut seketika.
Air mata Fasya menetes, ia pun menghapus nya. Hati Bang Pandu terasa nyeri tapi sang istri belum juga mengerti, ia hanya ingin Fasya sedikit memberi batasan pada teman-temannya. Lagipula ia paham kelakuan para laki-laki yang mulai menginjak tahap dewasa karena ia pun mengalaminya.
"Mau pulang atau jalan-jalan?" tanya Bang Pandu selembut mungkin. Ia tidak mau membuat bumilnya stress. Ujian Nasional pasti sudah menguras pikiran dan tenaga sang istri.
Fasya memalingkan wajahnya. Jika dulu dirinya bisa langsung ribut jika bertemu dengan orang yang tidak sepaham dengan hatinya, kini ia sama sekali tidak ingin ribut dengan siapapun.
Bang Pandu menyentuh tangan Fasya.
"Mau kemana?" tanyanya lagi.
:
Perjalanan sudah hampir sampai kota tapi Fasya belum juga mau bicara.
Duuuhh.. gawat ini kalau sudah ngambek. Mending dengar istri ngomel dah daripada diam begini.
"Adek mau makan apa? Sudah siang nih" tanya Bang Pandu masih berusaha melunakan hati Fasya.
"Beli bakso mau nggak? atau coklat? Hmm.. seblak deh, ayo beli seblak..!!" segala usaha sudah Bang Pandu lakukan untuk membujuk sang istri tapi Fasya masih saja diam dan kini dirinya mulai merasa takut.
Allahu Akbar.. kalau begini caranya repot juga. Bumil kalau lagi marah selalu buat hati nggak karuan.
__ADS_1
Bang Pandu menepikan mobilnya dan berhenti di sebuah minimarket. Tak ada satupun pertanyaan dari istrinya.
:
Beberapa saat kemudian Bang Pandu keluar dari minimarket membawa kantong plastik besar dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Ini buat adek..!!" kata Bang Pandu kemudian menarik tangan Fasya dan menggenggam kan tiga puluh lembar uang berwarna merah di tangan Fasya dan baru saat itu juga Fasya menoleh, raut wajahnya pun berubah.
Jemari lentik itu menghitung lembaran merah dan tidak peduli dengan kantong plastik yang di bawa Bang Pandu tadi.
Bang Pandu tersenyum menggeleng gemas melihat tingkah istrinya yang sedang berkonsentrasi penuh.
"Tiga juta Bang?" tanya Fasya.
"Kenapa? Kurang?" Bang Pandu mulai cemas lagi melihat ekspresi wajah Fasya yang melongo menggenggam uang di tangan.
"Ini.. kalau Adek beli jajan. Masih kembali banyak sekali Bang" jawab polos Fasya.
Bang Pandu membuang nafas lega di antara cemasnya.
"Itu uang jajanmu. Habiskan..!!"
Dalam hati Bang Pandu terkikik geli tapi ia tahan sekuatnya agar Fasya tidak kembali marah.
"Iya, Abang salah. Maaf ya. Sekarang kita kemana?" tanya Bang Pandu.
"Pulang dulu, ganti baju. Nanti sore jalan-jalan" jawab Fasya tegas dan jelas.
"Siap Bu Boss"
...
Di kantor, Bang Rico pusing sendiri karena tidak mendapat turunan tugas dari Bang Pandu dan seniornya itu sama sekali tidak bisa di hubungi.
"Aseem.. kemana sih Bang Pandu. Semua perintah khan turunnya dari dia dulu. Ini aku kerjakan apa? Plonga plongo sampai siang bolong begini" gerutu gemas Bang Rico.
kriiing..kringg..kriiinggg..
Terdengar bunyi telepon ruangan berdering nyaring.. Bang Rico segera mengangkatnya. "Selamat siang.. bagian dinas pengamanan personel.. dengan Lettu Enrico.. Mohon ijin dengan siapa saya bicara"
__ADS_1
"Mana laporan pengamanan demo alutsista kemarin? Kenapa belum ada di meja kerja saya???" tanya Danyon bernada keras.
Nah khan.. musibah bener ini. Kemana saja Bang Pandu sampai nggak siarkan berita apapun.
"Siap salah.. segera di kirim ke ruangan Komandan" jawab Bang Rico meskipun dalam hati gemas setengah mati.
~
Bang Rico pusing tujuh keliling mengerjakan tugasnya karena saat pengamanan demo alutsista kemarin, dirinya tidak tergabung di dalamnya dan sedang dalam tugas lain.
"Ya Tuhan.. kacau sekali. Laporan awalnya saja tidak ada" gumamnya bingung.
dddrrttt..dddrrtt.. dddrrttt...
Bang Rico melirik ponselnya dengan malas tapi karena yang melakukan panggilan ini adalah sang istri, maka tidak ada kata malas dalam hidupnya, ia segera mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Assalamualaikum.. ada apa cantik ku?" tanya Bang Rico dengan lembut.
"Wa'alaikumsalam.. Abang.. perut Asya sakit...."
Mendengar ucapan istrinya, Bang Rico segera bangkit dan menutup panggilan teleponnya. Ia menyambar kunci motornya.
:
"Dek.. Asya..!!" Bang Rico panik mencari Asya yang tak langsung ia temukan.
"Apa sih Bang?" Asya masuk ruang tengah dari arah dapur sambil membawa cup es krim di tangannya.
"Katanya sakit perut dek? benar nggak ini?" tanya Bang Rico.
"Iya Bang,. Asya sakit perut karena lapar. Belikan sate lilit donk Bang" pinta Asya.
"Ya Allah dek.. Abang cemas setengah mati lho mikir kamu" Bang Rico mengusap dadanya sampai akhirnya terduduk lemas.
.
.
.
__ADS_1
.