Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
87. Terlalu dalam.


__ADS_3

Papa Wira masuk ke dalam rumah, tak terdengar jawaban dari Asya maupun Bang Rico. Pintu ruang tamu sedikit terbuka dan pintu kamar tidak terkunci rapat.


"Astagfirullah.. Rico, apa tidak ingat masih ada orang tua di rumah?" gerutu Papa Wira sambil menutup pintu kamar. Papa Wira mengusap dadanya melihat Bang Rico tertidur setengah menindih Asya, pakaian Bang Rico dan Asya tercecer berhamburan, selimut pun hanya sebatas dada.. paham lah Papa Wira apa yang baru saja terjadi di kamar itu.


"Rico sama Asya mana Pa?" tanya Mama Dinda.


"Hhsstt.. mereka tidur, sepertinya mereka baru saja duel" jawab Papa Wira.


"Kita tidurkan Gazha.. terus kita minum teh saja di belakang" ajak Papa Wira agar tidak menimbulkan banyak suara.


***


Tengah malam Bang Rico terbangun. Badannya terasa lelah, perutnya lapar dan keroncongan. Tangannya mengusap-usap pipi Asya kemudian menutup badan Asya menutupi dada sang istri yang begitu menggoda.


"Kurang syukur dan bahagia bagaimana lagi, dapat istri yang sangat pintar menyenangkan suami seperti ini. Mana bisa Abang melirik perempuan di luar sana. Kena bawah pusarnya Asya saja Abang sudah sembah sungkem, bertekuk lutut hampir gila rasanya" gumam Bang Rico tak hentinya mengagumi sang istri.


Asya menggeliat dan akhirnya membuka mata karena ada tangan yang terus membelainya.


"Abang nggak tidur?" tanya Asya.


"Tidur.. tapi Abang kelaparan." jawab Bang Rico.


"Jalan-jalan yuk, cari makanan di luar" ajak Bang Rico.


:


"Saya sama istri mau keluar dulu ya..!! Nyonya Rico ngidam"


"Siap Dan" kata petugas jaga tengah malam itu.


Bang Rico memilih pergi menggunakan motornya agar lebih cepat menyelip daripada mobil yang harus lebih ekstra sabar.


Malam itu motor terus melaju tanpa Asya tau apa yang sedang di inginkan Ayah Gazha.


"Abang mau beli makan apa?" tanya Asya.


"Entahlah.. mata ini rasanya serakah ingin ini dan itu tapi kalau sudah mendekat lapaknya, pasti perut rasanya kembung" jawab Bang Rico.


Asya memeluk sambil mengusap perut sixpack Bang Rico.

__ADS_1


"Sekarang Abang tau rasanya ngidam?"


"Iya dek, nggak enak sekali. Belum kalau mual, nafas rasanya hampir putus, ulu hati terasa nyeri." Bang Rico semakin menarik tangan Asya agar memeluknya lebih erat.


"Biar saja. Ini tidak sebanding dengan apa yang kamu rasakan. Sakit yang kamu rasakan tidak sebanding dengan rasa sakit Abang"


Asya tersenyum mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Bang Rico.


"Abang harus kuat, demi anak kita. Anak-anak sangat butuh papanya"


...


Bang Rico sudah menghabiskan semangkok bubur kacang hijau dan ketan hitam kemudian masih menghabiskan lalapan ikan bakar dengan lahap, itupun masih menghabiskan ayam bakar milik Asya.


"Abang beneran kuat?" tanya Asya heran.


"Kuat dek. Masih cukup bagasi Abang" jawab Bang Rico.


Asya pun membiarkan semuanya. Ia merasa mungkin Bang Rico memang sangat lapar mengingat sang suami baru saja mengalami hal yang berat.


"Minumnya nih Bang..!!" Asya menyodorkan gelas es jeruk di hadapan Bang Rico.


:


Bang Rico sedikit terbatuk mengusap dadanya yang terasa nyeri. Dua batang rokok sudah habis di hisapnya dan suami Asya itu belum berniat pulang ke rumah.


"Bang.. sudahi rokoknya..!!" cegah Asya karena tau Bang Rico adalah perokok berat.


"Belum bisa sayang. Kalau kebiasaan mu selain niat mungkin masih ada obatnya, kalau kebiasaan Abang ini tidak ada obatnya dan selama Abang tidak ada niat.. rokok ini juga salah satu sahabat setia Abang, di saat hati gundah dan kesepian" jawab Bang Rico.


"Apa Asya tidak bisa memenuhi semuanya? Sampai Abang harus mengalihkan nya pada hal yang berbahaya ini? Badan Abang sekarang kurang bersahabat sama rokok ini" kata Asya.


"Terkadang dari kami para pria masih ingin menyimpan sesuatu yang tidak ingin pasangannya tau. Tapi percayalah.. hal itu tidak jahat. Para pria hanya ingin menjaga perasaan pasangannya."


Asya terdiam sejenak tapi rasa cemas tak lantas hilang dari hatinya.


"Asya ingin hidup bersama Abang lebih lama. Asya tidak ingin kehilangan Abang"


Terhenyak hati Bang Rico mendengarnya, secepatnya ia mematikan rokoknya agar Asya tidak terus bersedih.

__ADS_1


"Abang akan selalu ada untuk kamu karena Abang tau ada hati seorang istri yang begitu mencemaskan Abang"


//


Ayah Bayu menggeleng melihat kelakuan bang Pandu. Ia membeli kursi roda karena tidak mau Fasya lelah berjalan kaki. Bang Pandu masih menambah bantalan agar Fasya nyaman dengan duduknya.


"Jangan suka berlebihan Pan..!!" kata Ayah Bayu.


"Apa salahnya aku menjaga istriku. Aku ingin memberikan segala yang terbaik untuk anak istriku" jawab Bang Pandu.


"Aku suaminya.. kalau bukan aku yang membahagiakan dia.. lalu siapa lagi??"


"Ayah juga sayang sama Mama, tapi Ayah nggak pernah berlebihan." ledek Ayah Bayu padahal dalam hati.. bangga pada putranya itu.


"Aku mencintainya yah.. sangat mencintainya. Apapun akan kulakukan demi Fasya" ucapnya sendu kemudian ia melebarkan senyumnya.


"Istri satu-satunya yah.. pasti kesayangan lah"


Ayah Bayu tersenyum kemudian menepuk bahu Bang Pandu.


//


"Hhhkkkk.." Bang Rico lemas berpegangan pada sebatang pohon karena terus saja muntah.


"Abang kekenyangan nih" kata Asya sembari memijat tengkuk Bang Rico.


"Nggak dek.. Memang perut Abang yang lagi bermasalah, setiap diisi makanan selalu muntah padahal Abang sudah lapar sekali" jawab Bang Rico.


"Kalau nggak kuat naik motor, biar Asya yang bonceng Abang" Asya tidak tega melihat Bang Rico sudah lemas.


"Memangnya kamu bisa?" tanya Bang Rico.


"Nggak Bang"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2