
Para ajudan sudah sibuk membersihkan muka Papa Garin yang ternoda. Waktu semakin berjalan cepat saja padahal sebentar lagi mereka harus mengadakan pertemuan.
"Ayo cepat..!! Kalian jangan buat saya malu" kata Papa Garin.
"Kau punya malu juga ternyata" ledek Papa Sanca.
"Ya ampun pa, pakai sabun saja..!! Papa cuci muka" saran Bang Rico.
"Sudah Ric, tapi malah rata begini" jawab Papa Garin.
"Itu penampakan wajahmu di alam penebusan dosa.. apalagi kalau bukan karena terlalu menyusahkan orang lain. Hitam, legam, hangus, gosong" gumam Papa Sanca kemudian mengambil sabun pencuci piring di dapur lalu menggosoknya ke wajah Papa Garin.
Benar saja.. tak lama noda gosong itu hilang tak bersisa.
"Naahh.. lain kali kau ulang lagi. Biar saingan sama cucu mu masuk PAUD..!!" omel Papa Sanca.
//
Hari sudah malam. Bang Vian belum juga sadar. Aira mengusap wajah Bang Vian dengan handuk basah dan setelah beberapa saat, barulah Bang Vian sadar.
"Airaaa..!!" ucapnya pertama kali.
Papa Sanca melotot mendengar sapaan pertama dari bibir Bang Vian adalah nama putrinya.
"Aira yang di panggilnya??" tanya Papa Sanca masih tak percaya.
"Apa Abang tidak mau mempertimbangkan Vian? Dia juga bukan pria yang buruk Bang" saran Papa Wira.
"Lebih baik.. kita melepaskan putri kita pada pria yang mencintainya.. karena nantinya cinta akan tumbuh pada akhirnya, tanpa paksaan.. karena hati wanita itu sangat lembut Bang"
"Abang hanya tidak tega saja melihat Jihan dan Aira menikah muda. Mereka tidak pintar apapun. Abang cemas akan marah atau bosan dengan sifat dan sikap lugu Aira" ucap jujur Papa Sanca.
"Sekarang apa Abang melihat Jihan sering menangis karena Rico memperlakukan nya buruk?" tanya Papa Wira.
"Ya nggak juga"
"Bagaimana kita memperlakukan istri.. begitu lah yang akan putri kita terima" kata Papa Wira.
__ADS_1
~
Bang Vian terus menatap Aira. Pandangan itu sama sekali tak beralih hingga membuat Aira canggung setengah mati.
"Kenapa lihat perempuan sampai sebegitu nya?" Bang Rico sampai harus menyenggol lengan Bang Vian.
"Cantik sekali Bang. Saya pengen nikah sekarang juga"
"Lah Ric, coba panggil dokter. Jangan-jangan Vian ngelindur karena kebanyakan obat bius?" tanya Papa Garin jadi cemas.
Papa Sanca langsung mendekati Bang Vian lalu menamparnya.
plaaaaakkk...
"Aduuuuhh.. sakit Dan..!!" pekik Bang Vian.
"Punya bekal apa kamu untuk nikahi anak saya????" bentak Papa Sanca.
"Siap.. Tidak ada yang saya sombongkan di dunia ini. Saya juga bukan pria yang sempurna. Semua hanya milik Allah. Saya juga takut berjanji karena takut mengingkari. Tapi jika Komandan tidak keberatan. Apa boleh saya menjadi bagian dari hidup komandan?" tanya Bang Vian tenang.
"Gila kamu Vi.. Komandanmu ini sudah beristri" sambar Papa Garin mencairkan suasana.
"Jadi apa maksudnya?" tanya Papa Sanca menguji keseriusan Bang Vian, tak lupa sembari menginjak kaki Papa Garin agar tidak banyak bicara.
"Ijinkan saya menjadi imam dari Aira putri Komandan"
"Aduuhh.. push up kamu Vian..!! Gara-gara kamu.. kaki saya di injak calon kesulitan hidupmu" gerutu Papa Garin kemudian menarik kakinya.
"Kalau kamu ada mahar.. saya nikahkan kamu sekarang juga..!!" ucap tegas Papa Sanca.
Susah payah Bang Vian bangkit mencari dompetnya. Bang Rico pun segera membantunya.
"Bang.. di dompet saya ada uang berapa?" tanya Bang Vian.
Bang Rico pun segera membukanya.
"Dua puluh lima ribu bro" jawab Bang Rico.
__ADS_1
Bang Vian menepuk dahinya tapi kemudian Dan Garin memeluknya.
"Sebenarnya kamu lebih cocok jadi menantu saya. Dompet kita sama-sama mengharukan, bersih, suci .. ikhlas tanpa noda dan hanya terselip kesetiaan dari bon yang terlipat cantik tanpa suara" ucap Papa Garin membuat seisi ruangan menahan tawa.
Bang Vian sangat tersiksa karena bekas operasi nya, tidak mungkin dirinya tertawa.. bergerak sedikit saja sudah sangat menyiksa.
"Saya ada uang di ATM. Biar adik ambil sendiri saja" kata Bang Vian.
"Waahh.. Aira rampok semua" celetuk Aira padahal ia setengah mati menahan harunya.
"Ambil lah semua. Nantinya semua ini akan menjadi milik mu" ucap Bang Vian serius.
"Ayo cepat Ai.. Papa mau mengabadikan detik-detik pindahnya kartu ATM ke tangan mu" Disana Papa Garin lah yang paling bersemangat.
"Gariiiinn.. Masya Allah.. Kalau kamu tidak bisa diam, saat ini juga.. kamu lah satu-satunya tamu undangan yang terusir" bisik geram Papa Sanca.
...
Tak menyangka si cantik Aira hanya meminta sejumlah uang yang ada di tangan Bang Vian saat ini. Dua puluh lima ribu lima ratus rupiah dan kebetulan perlambang tanggal dua puluh lima dan bulan lima.
Bang Vian tidak bisa menghentikan air matanya karena tidak tega melihat calon istrinya hanya meminta mahar itu saja.
"Walaupun tidak banyak.. biarkan Abang meninggikan derajat mu. Abang sediakan uang Dua juta lima ratus ribu juga ada cincin emas tua, turun temurun dari keluarga" ucap Bang Vian.
Papa Sanca masih duduk diam di sofa. Hatinya masih belum juga mengikhlaskan sang putri.
"Kau lihat lah aku, aku tetap tabah meskipun putri ku di gondhol kalongers" kata Papa Garin menenangkan padahal hatinya pun juga amat sedih. Bagaimana pun juga Aira sudah seperti putri kandungnya sendiri.
Bang Rico hanya bisa nyengir saat Papa mertua menyindirnya. Tapi Bang Rico tau.. mertuanya adalah pria yang sangat luar biasa.
"Mungkin tugas saya sebagai orang tua sudah usai. Anak gadis akan pergi meninggalkan kita saat sudah ada yang meminangnya. Ini saatnya kulepas putri saya untuk mu Vian. Jaga dan cintai dia sepenuh hatimu. Dia yang papa sayang.. papa manjakan setulus hati. Dulu kelahirannya.. sungguh papa nantikan. Gadis yang papa cintai selain mamanya. Kelak.. jika kamu tidak lagi sanggup menjaganya.. Biar Papa yang akan membahagiakan dia lagi" Papa Sanca terlihat berusaha tegar.
"Saya nikahkan kamu dengan putri saya..!! Saya merestui"
.
.
__ADS_1
.
.