
Hasil voting pembaca.
🌹🌹🌹
Tangan nakal Asya bermain-main di sekitar dada bidang Bang Rico yang masih terengah usai aktivitas panas berdua.
"Bang.. lagi..!!"
"Haduuhh.. Abang remuk dek. Bisa telat juga ke kantor" ucap Bang Rico mengatur nafasnya.
Wajah Asya berubah cemberut dan berbalik memunggungi Bang Rico.
Tau sang istri tengah kesal, Bang Rico pun menjadi tidak tega.
"Ya sudah.. Ayoo..!!" Bang Rico pun beranjak dari posisinya.
...
Para penyanyi yang sudah di sewa sudah datang ke Batalyon. Kali ini Wadanyon meminta Asya untuk turut hadir disana karena beberapa penyanyi undangan disana adalah rekan Asya sendiri.
Bang Rico yang usai berguling di lapangan karena kenaikan pangkatnya yang satu tingkat lebih tinggi segera merapat bergabung dengan anggota yang lain.
"Mbak bisa menunggu giliran tampil di tenda..!!" kata Bang Rico mengarahkan para penyanyi agar masuk ke dalam tenda yang telah di sediakan.
"Pak Rico nggak ikut masuk?" tanya gadis itu.
"Maaf.. saya kepala keamanan acara ini. Harus berjaga di luar" jawab Bang Rico datar.
"Kalau selesai acara.. bebas khan Pak Rico?"
"Ya bebas donk.. kenapa mbak?"
"Kalau boleh.. sesekali kita ngopi di luar gitu Pak" ajak
"Boleh saja kalau saya ada waktu" jawab Bang Rico santai.
...
Acara sudah berlangsung. Bang Rico pun ikut mengontrol keadaan lapangan karena bagian markas dan Batalyon bergabung dalam acara hiburan ini. Saat sedang patroli, Bang Rico mengusap tengkuknya. Tak biasanya kepalanya terasa berat dan pening. Pandangan mata Bang Rico kabur.
Apa aku kecapekan karena tadi pagi kebanyakan? Tapi masa iya hal sepele begitu buat kepalaku puyeng begini.
Baru beberapa langkah berjalan, perutnya sudah berputar bagai mesin cuci satu pintu.
__ADS_1
Sepertinya aku salah makan.
Bang Rico tetap berjalan melanjutkan tugasnya, menepis segala yang ia rasakan.
: ( Kisah nyata )
Penyanyi dangdut bernama Desi yang tadi sempat berbincang dengan Bang Rico sedang berada di atas panggung. Pakaiannya masih terbilang sopan karena mereka memasuki kawasan militer, tapi goyangan nya terkadang masih suka di luar aturan yang berlaku.
Sejak tadi mata Asya melihat Bang Rico yang sesekali melirik biduan dangdut di atas panggung. Terkadang Bang Rico sedikit bergoyang-goyang mengikuti irama lagu. Bahkan saat penyanyi itu memberi kode pada Bang Rico, Lettu junior itu memberi respon yang membuat Asya berang.
"Awas saja Abang.. sampai rumah Abang tamat" gumam Asya jengkel.
Terdengar suara dari Wadanyon.
"Bagi para anggota yang tadi naik pangkat.. terutama perwiranya..!! silakan naik ke atas panggung, sekali-kali merilekskan otot dan pikiran sejenak" kata Wadanyon memberikan ijin.
"Rico mana? Lettu Rico.. goyang sedikit lah kamu"
"Siaap..!!!" Bang Rico naik ke atas panggung. Merasa tidak ada Asya.. hatinya pun tenang tanpa beban.
Asya yang meradang terus menatap Bang Rico dengan tajam.
"Lhoo Asya.. kamu ada di sini?" tanya Bang Yudha.
"Sudah dari tadi" jawab Asya tapi tak melepaskan pandangan matanya dari Bang Rico.
~
Dalam hati Bang Rico menyadari bahwa dirinya sudah menikah. Bang Rico tetap bergoyang tapi sebisa mungkin dirinya menjaga jarak dari Desi yang seakan selalu mendekatinya dengan agresif.
"Pepet terus Ric..!!" kata Wadanyon dari bawah.
Karena ini ada acara kantor, tak mungkin baginya untuk sok suci di hadapan para komandan, senior dan anggotanya apalagi ini semua adalah moment hiburan semata.
Bang Rico terus bergoyang sambil menghindari Desi tapi Desi tak hentinya mengejar Bang Rico.
"Tolong mbak Des, nggak enak di lihat orang-orang..!!" pinta Bang Rico.
Entah terlalu banyak berkeliling atau memang dirinya sedang lelah, Bang Rico merasa mual yang luar biasa. Ingin segera turun tapi enam menit di atas panggung terasa begitu lama. Bang pun memilih duduk dan mengambil alih gendang agar Desi tak lagi mengejarnya.. di luar dugaan, Desi masih bernyanyi dan malah dengan genit duduk di pangkuan Bang Rico. Refleks Bang Rico berdiri dan menghindar. Baru melipir beberapa langkah, Bang Rico terhuyung dan akhirnya tumbang.. jatuh dari atas panggung yang tinggi.
"Pak Rico..!!!!"
"Dan...!!!!"
__ADS_1
...
Asya masih menatap suaminya yang lemas tak sadarkan diri. Bang Yudha melirik Asya dengan mulut ternganga lebar.
"Luar biasa.. kamu kesal saja Rico bisa terjungkal, bagaimana kalau Rico macam-macam???"
"Terbuka lah lembar riwayat hidup" jawab Asya datar.
Bang Yudha sedikit demi sedikit menjauh dari Asya kemudian menolong juniornya itu.
... ( end )
Perlahan mata Bang Rico terbuka, rasa mual tak bisa di tahannya lagi. Bang Yudha dengan sigap mengambil baskom untuk Bang Rico.
"Hhhkkkk.."
Bang Yudha sampai harus memijati tengkuk Bang Rico sedangkan Bang Winata mengoles minyak angin di perut dan dada Bang Rico.
"Masuk angin kamu Ric?" tanya Bang Winata.
"Masuk angin pala lu. Kena kutuk Asya nih. Tadi Asya sudah lihat Rico. Wajahnya marah sekali"
"Hhhkkk" Bang Rico hampir pingsan lagi karena tidak bisa bernafas. Ia meremas dadanya kuat.
"Abaaaaang.. aarrgghh"
"Hhhkkkk"
"Panggil dokter dari RST saja Yudh.. sepertinya masuk anginnya parah"
Belum sampai Bang Yudha menjawabnya, ada panggilan telepon dari Netta istrinya. Bang Yudha mengangkat panggilan telepon itu.
"Mana Bang Rico??" tanya Netta padahal istri Yudha itu belum memberi salam.
"Teler dek" jawab Bang Yudha.
"Kapok, rasain.. bisa-bisanya joged sama perempuan di atas panggung dan mengabaikan istrinya. Asya nangis terus nih"
"Lha terus Abang kudu piye??" tanya Bang Yudha bingung.
.
.
__ADS_1
.
.