Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
133. SP 2. 36. Tidak suka tamu.


__ADS_3

"Tolong pergilah Ma. Hatiku sedang tidak baik-baik saja saat ini" pinta Bang Rico.


"Kamu lebih membela wanita itu daripada Mamamu sendiri Rico????" bentak Mama Diana.


"Jangan pernah ikut campur lagi dalam urusan rumah tanggaku, atau sifat berandalanku akan melukai Mama. Ingat ma, tetap ada darah b******n dalam diriku" ancam Bang Rico.


"Mas, jangan bicara begitu sama Mama" bujuk Alisa sembari bermanja merangkul lengan Bang Rico.


Dengan kasar Bang Rico menepis tangan Alisa.


"Pergilah dan jangan bersikap seperti ini. Abang bukan bujangan yang bisa menebar perhatian pada sembarang wanita" tegur Bang Rico.


Alisa terlihat sedikit kecewa dengan penolakan Bang Rico. Ia menghentakkan kakinya dan pergi menjauh dari Bang Rico.


Melihat Alisa.. Mama Diana menjadi murka, Alisa adalah menantu idamannya.


"Rico.. jangan keterlaluan kamu sama perempuan. Awas saja kalau Mama lihat kamu lebih memanjakan Jihan dan mengacuhkan Alisa. Mama tidak akan menganggapmu sebagai anak" ancam Mama Diana untuk kesekian kalinya.


"Terserah Mama kalau dengan membuang ku bisa membuat Mama senang." jawab Bang Rico kemudian meninggalkan Mama Diana dan Alisa.


:


"Apa hebatnya si Jihan itu? Dulu Rico membela Asya mati-matian, sekarang Jihan" kata Mama Diana dengan kesal.


"Mereka masih anak-anak sekali lho Tan.. mana bisa menyenangkan Mas Rico" jawab Alisa.


"Itu dia yang buat Tante kesal. Apa Rico itu buta.. bisa suka dengan bocah ingusan macam mereka??" cibir Mama Diana.


"Tenang Tan.. aku akan berusaha mengambil hati Mas Rico" Alisa mengusap lengan Mama Diana, ia memasang wajah simpati di hadapan Mama Diana.


...


plaaaaakkk...


"Katakan yang sebenarnya Rico. Kenapa bisa sampai seperti ini????" baru kali ini Papa Garin melihat Jihan terpuruk hingga berkali-kali pingsan karena ketakutan.


Papa Garin benar-benar marah melihat putrinya sampai seperti itu, apalagi saat ini Papa Sanca juga memperketat pengamanan di sekitar Jihan dan Aira padahal Bang Rico sudah mempersiapkan penjagaan yang ketat untuk Jihan.


"Papa tau sendiri bagaimana asal-usul saya. Ini ulah Mama saya yang tidak terima pernikahan saya dan Jihan. Dulu Mama juga begitu waktu saya menikah dengan Asya. Mama ingin saya kembali pada dunia hitam untuk menggantikan Papa Subrata dan menikahkan saya dengan wanita pilihan Mama" jawab jujur Bang Rico.


Papa Garin bertepuk tangan.

__ADS_1


"Bukan main. Kau menyembunyikan hal sebesar ini dari Papa?? Inikah alasan mengapa sejak dulu Papa tidak bisa bertemu dengan Mama mu?" tanya Papa Garin.


"Iya Pa"


plaaaaakkk...


"Menikahlah dengan wanita pilihan ibumu. Tidak ada yang melarangnya. Tapi ingat.. Papa akan mengambil Jihan kembali. Papa membesarkan dia dengan penuh kasih sayang dan sekarang kau hanya akan memberinya tangisan???? Kamu minta di hajar????????" bentak Papa Garin.


Bang Rico langsung menunduk mencium punggung tangan Papa Garin.


"Sumpah demi Allah Pa, saya tidak ada niat seperti itu. Sampai kapanpun hanya Jihan saja istri saya. Tidak akan pernah ada yang lain dan tidak akan pernah terganti sekalipun pernah ada Asya yang singgah dalam hati saya" tak tau lagi bagaimana caranya agar Papa Garin bisa memanfaatkan dirinya dari segala keadaan ini.


"Keluar kamu Rico..!! Belikan Papa es teh..!!!!!"


Bang Rico tertegun sejenak melihat Papa Garin dengan wajah sangar tapi memintanya membeli es teh.


"Tunggu apalagi???? Hati Papa panas melihat kelakuanmu..!!!!!" bentak Papa Garin.


"Si_ap Pa..!!" secepatnya Bang Rico keluar dari kamar rawat Jihan setelah sempat sejenak melirik Jihan yang belum bangun dari tidurnya.


...


"Ini Pak.." kata ibu kantin menyerahkan segelas es teh untuk Bang Rico.


"Oohh iya Pak" ibu kantin segera mengganti es teh dari gelas ke sebuah plastik.


...


"Lhaaa.. ini dia Lettu Rico." Papa Garin merangkul bahu Bang Rico yang sedang membawa satu plastik es teh pesanan Papa Garin.


"Ternyata dia lagi haus" ucap Papa Garin saat Bang Rico baru saja membuka pintu. Para senior Papa Garin dan Papa Sanca sedang menjenguk Jihan yang notabene adalah istri Lettu Rico. Mereka adalah perwira pusat berpangkat tidak remeh.


Bang Rico langsung menegakan punggungnya dan memberi hormat. Tangan sebelah kiri sedikit menyembunyikan es teh plastik yang sedang ia bawa.


"Selamat sore, Mohon ijin.. Lettu Enrico memperkenalkan diri"


"Santai saja le, kita ini kekeluargaan.. bukan sedang di area panas" kata seorang komandan pertama.


"Siap komandan." jawab Bang Rico tegas.


"Gagah ya menantu mu Gar" rekan perwira kedua memuji Bang Rico.

__ADS_1


"Jelas donk.. siapa dulu Papa mertuanya" Papa Garin menjawab dengan congkaknya.


Tak lama Papa Sanca datang bersama Bang Vian dan Aira.


"Bang .!!" sapa Papa Sanca pada ketiga seniornya.


"Waahh.. ini menantu mu San?" tanya senior ketiga.


"Iyalah.. Letda Avianto" kata Papa Sanca.


Bang Vian pun menegakan punggungnya, memberi hormat dan memberi salam pada senior Papa mertuanya.


"Selamat sore.. ijin komandan"


"Masih ada satu lagi nggak sih yang gagah disini? Mau saya jadikan menantu untuk anak bungsu saya" tanya Dan Saprudin.


"Nggak ada stok lagi Bang. Vian yang terakhir" jawab Papa Sanca.


"Coba saja aku nggak telat kesini beberapa bulan yang lalu. Pasti aku jodohkan Vian sama Alisa putriku" kata Dan Saprudin.


Seketika wajah Aira berubah kesal. Dirinya malas melihat Om Saprudin apalagi melihat kepalanya yang sedikit mengkilat. Mungkin sedang bawaan bayi, emosi Aira tiba-tiba meledak.


"Om botak kinclong. Kalau mau laki-laki.. di Kompi kami ada banyak. Om tinggal pilih.. kami nggak kekurangan laki-laki. Kenapa harus Abang?" sambar Aira.


"Airaaaa.." tegur Papa Sanca.


"Huusshh dek. Kenapa kamu ini?" Bang Vian pun sedikit menegur Aira.


"Botaknya tuh Bang, pengen Aira sikat" kata Aira.


"Mohon maaf komandan.. mohon sedikit memaklumi.. istri saya sedang hamil muda, jadi sedikit sensitif" Bang Vian akhirnya beralasan.


"Kalau hamil muda kenapa????" tanya Aira ketus.


"Duuhh dek.. kalem sithik wae to yooo" Bang Vian kalang kabut apalagi Dan Saprudin terus melirik dirinya.


"Astagfirullah.. ini baru Aira, bagaimana kalau Jihan juga bertingkah" gumam Papa Sanca.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2