
"Asya.. sadar dek..!!!! Minum obatnya dulu sayang..!!" Bang Rico memberi 'penawar' pada Asya tapi istrinya itu selalu memuntahkan nya.
Bang Rico rasanya ingin berteriak saking paniknya, apalagi Asya terus saja muntah dan memegangi perutnya.
"Asya jangan siksa Abang begini dek. Lebih baik kita ribut mulut daripada Asya nyiksa batin Abang seperti ini. Abang sayang Asya, sayang anak kita"
"Bang Ric.. ini air hangat untuk Asya..!!" kata Netta yang ikut Bang Yudha menyelesaikan masalah tidak sengaja ini.
"Mana, biar Abang yang taruh di kamar..!!" Bang Yudha membawa air minum itu ke dalam kamar karena cemas Asya masih sangat sensitif. Setelah Bang Yudha meletakan gelas itu, ia kembali keluar menemui Netta istrinya.
Bang Yudha tak lagi melihat ada cinta Rico untuk istrinya, ia bertanya-tanya dalam hati tapi karena dirinya juga ingin masalah ini cepat selesai, akhirnya Bang Yudha pun bertanya juga.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa bisa terjadi hal seperti ini. Namamu terus di sebut Asya. Bahkan Asya menangisi Lingga"
"Netta nggak tau Bang" jawab jujur Netta.
"Kamu ketemu sama Rico dimana?" tanya Bang Yudha lagi.
"Hanya tadi waktu Netta mau belanja di Pakde sayur. Tapi Netta langsung pergi belanja dan Lingga main sama Bang Rico" jawab Netta lagi.
"Kamu sudah cerita masa lalumu sama Asya.. Ric..??" tanya Bang Yudha.
"Belum Bang" jawab Bang Yudha sendu.
"Ya Tuhan.. jelas saja Asya sampai seperti ini. Dia merasa kamu mengkhianati dia dan pasti mengira kamu masih mencintai istri Abang" kata Bang Yudha.
"Ceroboh sekali kamu Ric, kamu kurang jujur sama istrimu..!!" tegur Bang Yudha.
"Saya memang berniat cerita Bang. Karena Asya... menemukan foto Netta bersama saya di ransel tempur lama saya" Bang Rico terpaksa jujur agar masalah ini juga tidak berlarut-larut.
"Kamu masih simpan foto Netta?? Apa maksudmu??????" bentak Bang Yudha tidak terima.
"Saya memang salah masih menyimpan nya, tapi sumpah demi Asya dan anak saya.. tidak sekalipun saya melihat lagi kenangan saya dengan Netta. Sejak saya bertemu sampai akhirnya menikahi Asya.. Saya tidak pernah lagi mengharapkan cinta istri orang, putus ya putus.." jawab Bang Rico tak kalah keras. Tangan itu masih terus menggenggam tangan Asya.
"Asya ku sampai seperti ini Bang. Hati saya masih waras, tidak tega menyakiti perasaan istri.. apalagi sudah ada anak dalam rahim Asya. Saya nggak gila menghancurkan hati istri hanya demi bela-belain dan mengejar istri orang lain"
"Abaaaanngg.. kencang sekali suara Abang..!!"
"Uusshh.. iyaa, maaf ya dek..!!" suara Bang Rico mendadak selembut sutera.
"Makan ya dek..!! Kamu tadi makannya sedikit sekali..!!" bujuk Bang Rico.
Asya mengangguk dengan senyumnya. Sekilas Asya melihat wajah Mbak Netta yang berdiri di belakang Bang Yudha. Bang Rico keluar sejenak untuk menyiapkan makan malam Asya.
__ADS_1
"Masuk sini mbak, maaf Asya merepotkan" kata Asya.
Netta menoleh meminta persetujuan Bang Yudha dan Bang Yudha pun mengangguk mengijinkannya.
"Sudah enakan Sya?" tanya Netta.
"Sudah..!!" jawab Asya dengan senyumnya.
"Mbak minta maaf ya, sudah membuatmu salah paham." kata Netta memulai pembicaraan.
"Seperti yang Bang Rico bilang.. mantan adalah mantan, sudah putus ya putus dan ternyata.. Mbak sangat mencintai Bang Yudha"
Wajah Bang Yudha memerah tersipu malu. Ternyata Netta bisa mengucapkan kata itu.
"Iya mbak, maafin Asya ya..!!" Asya tak sanggup berucap apapun lagi. Bibirnya sulit untuk mengungkapkan perasaan.
"Senyumin apa Bang?" tegur Bang Rico melihat Bang Yudha tersenyum girang.
"Netta cinta sama Abang Ric" jawab Bang Yudha.
"Norak Bang..!!" Bang Rico langsung masuk ke dalam kamar.
Netta mundur dan membiarkan Bang Rico menyuapi Asya. Dengan telaten Bang Rico sedikit meniup makanan di sendoknya agar cepat dingin.
Asya mengangguk, ada setitik air mata di pipinya.
"Lingga mana?" tanyanya pelan.
"Lingga sama adiknya di rumah ditemani bibi. Kamu mau ketemu Lingga?" tanya Bang Rico.
"Besok saja" jawab Asya pelan.
"Kalian bicaralah berdua, kami pamit pulang.. kapan-kapan kalau hati Asya sudah lebih baik.. kita bicara lagi" kata Bang Yudha.
...
Untuk malam ini semua aman dan tidak ada lagi perdebatan di antara Bang Rico dan Asya. Bang Rico menghindari pertanyaan yang membuat emosi Asya naik, begitu juga Asya yang menahan diri agar Bang Rico bisa istirahat.
***
Pagi hari, tanpa sengaja Asya bertemu dengan Lingga yang sedang bermain di lapangan volli kecil di depan rumah nya.
"Lingga kenapa main sendiri?" tanya Asya.
__ADS_1
"Adik nggak bisa main" jawab Lingga.
Asya masih punya tanda tanya tapi tak mungkin dirinya untuk berdebat dengan bocah cilik seperti Lingga.
"Adik masih kecil, keciiill sekali.. makanya belum bisa main"
"Mama Acha juga mau punya adik?" tanya Lingga.
"Lingga tau?"
"Tau.. Papa Ico bilang." jawab Lingga.
Seulas senyum tersungging di bibir manis Asya. Asya membelai pipi lembut Lingga.
"Ingga sayang adik. Adik Ingga ada dua"
Mata Asya berkaca-kaca tak mengerti maksud Lingga, hatinya terasa sakit.. tapi dirinya tidak bisa menjabarkannya.
"Iya.. Ingga sayang adik ya..!!" kata Asya.
...
Asya merasakan kepalanya pening. Ia mencari obatnya ke seluruh rumah tapi tak satupun obat itu ia temukan.
"Apa Abang mengambilnya??? Apa Abang tau dimana tempatku menyimpan obat itu??" gumam Asya. Badannya mulai menggigil karena semalam ia menaikan dosis obatnya.
Asya berjalan ke kamar dan membuka laci nakas, ia mengobrak-abrik isinya mencari sesuatu.
:
"Sepi sekali..!!" perasaan Bang Rico tidak enak. Langkah kakinya cepat mencari Asya.
Di seluruh rumah tidak ada. Dimana dia?" gumamnya.
Ada suara rintihan kecil. Bang Rico masuk ke dalam kamar mencari sumber suara. Telinganya mendengar ada suara dari dalam lemari pakaiannya. Bang Rico membukanya. Matanya membulat besar melihat Asya duduk disana.
"Asyaaaaaaaaa..!!!!!!"
.
.
.
__ADS_1
.