
"Opo sih Ric, suaramu iku lho..!!!!" tegur Bang Yudha kemudian masuk ke rumah Bang Rico.
"Abang tanyakan sama si Sobri ini..!!!!" tunjuk Bang Rico tepat di wajah Om Sobri kemudian beralih menyadarkan Asya.
:
Semuanya sudah duduk di sofa. Asya pun sudah siuman, badannya lemas dan masih menyisakan tetes air mata.
"Sudah di bilang. Itu bukan Abang yang buat. Kamu pikirannya suudzon aja sama Abang" Bang Rico menghapus air mata Asya.
"Maafkan saya dan Ratri ya Bu Rico.. sudah membuat kegaduhan ini. Anak yang di kandung Ratri ini adalah anak saya dan tidak ada hubungannya sedikitpun dengan Pak Rico. Ratri ke Batalyon ini karena hanya Pak Rico yang Ratri kenal" ucap Om Sobri.
Bang Rico yang masih emosi rasanya ingin menghantam wajah Om Sobri sekali lagi tapi Bang Winata mencegahnya.
"Cukup Rico..!! Kamu bantu naikan masalah ini ke Danyon.. selebihnya bukan urusanmu lagi..!!" kata Bang Winata mengarahkan.
Bang Rico mengambil ponselnya dan menghubungi anggota pos depan.
"Saya jungkir kalian semua..!!!! Siapa yang memberi alamat saya tanpa ijin sama orang luar???? Lancang..!!!!!!!!"
praaaaannkk..
Bang Rico membanting ponselnya. Begitu marahnya Bang Rico sampai membuat seisi ruangan bernyali ciut.
...
Seluruh anggota jaga pos depan berdiri usai mendapat tindakan dari Bang Rico. Danton muda itu tidak terima kelakuan anggotanya yang ceroboh sampai membuat istrinya pingsan karena kaget.
"Kecerobohan kalian.. mengumbar rahasia atasan dan tidak bertanya lebih dulu.."
"Siap salah..!!"
:
"Kamu jangan banyak merokok saja. Badan masih lemas begitu" tegur Bang Winata karena Bang Rico tak berhenti merokok sejak tadi.
"Tenaga lemas saja, sembilan orang oleng karenamu. Bagaimana kalau kamu benar-benar pakai tenaga.. habislah mereka" sahut Bang Yudha.
"Siapa yang bisa terima kejadian memuakkan seperti tadi? Mantanku datang dan mengadu sedang hamil. Celakanya Asya menelan mentah-mentah berita itu. Aku panik lihat Asya pingsan.. apalagi kami belum lama tertimpa musibah, pasti ada krisis kepercayaan juga" Bang Rico masih saja panas meradang.
"Yo wes, cepat habiskan rokoknya daripada ngomel terus seperti ibu-ibu nawar sayur"kata Bang Winata menengahi.
"Siapkan badan biar fit, bulan depan kita terjun penyegaran..!!" imbuh Bang Yudha.
__ADS_1
Bang Rico menghela nafas, kadang dirinya juga merasa lelah berada dalam situasi dengan banyaknya kegiatan tanpa henti.
"Siap Bang, namanya juga pasukan. Jalani saja" jawab Bang Rico.
***
Pagi hari Asya sudah memasak sarapan untuk Bang Rico. Sejak semalam Asya mogok bicara padanya.
"Yank.. Abang nggak usah sarapan deh. Nanti beli aja di ibu kantin" kata Bang Rico yang sebenarnya tidak ingin membuat Asya kelelahan lagi.
Asya mematikan kompornya tanpa aba-aba, meletakan serbet dengan kasar lalu meninggalkan Bang Rico sendirian.
"Dek.. kenapa sih marah terus. Apa salahnya Abang?" tanya Bang Rico.
Asya masih diam seribu bahasa dan itu semua sukses membuat Bang Rico mati kutu. Lama kelamaan hatinya kesal juga.
"Abang sudah bilang ya kalau Abang nggak ada hubungan sama Ratri. Terus kenapa kamu marahnya sama Abang???" nada Bang Rico sudah sedikit meninggi.
"Asya nggak tau, pokoknya Asya pengen marah sama Abang" jawab Asya ringan.
"Marahmu itu nggak beralasan. Ratri kesini untuk lapor soal kehamilannya. Bukan untuk ajak Abang pacaran..!!!!!" ucap Bang Rico tegas.
"Tapi Abang juga bantu dia khan? Karena dia mantan Abang"
"Sudahlah.. Abang berangkat kerja" Bang Rico pun melangkah meninggalkan Asya.
"Pergi saja.. pergilah temui Ratrimu yang cantik itu"
Bang Rico pun tak peduli dan secepatnya melajukan motornya dengan kencang.
...
"Ijin Dan.. saya belum ada dana untuk menikahi Ratri. Kalau hanya untuk akad nikah saja.. saya mampu" jawab Om Sobri.
"Bagaimana Mbak Ratri. Ini untuk kebaikan Mbak juga" kata Bang Rico mengarahkan.
"Nggak bisa, saya maunya ada pesta. Pesta lamaran, pesta akad, lalu pesta pernikahan. Aku nggak mau keluargaku malu." Ratri sampai menangis. Wajahnya juga terlihat kesal.
"Mas nggak sanggup kalau buat tiga acara sekaligus Ratri. Apalagi masing-masing butuh dana yang besar. Orang tuanya mas hanya petani berbanding terbalik dengan inginmu" kata Om Sobri.
"Mas pun sampai.... membuatmu hamil karena ulahmu juga dek. Mas akui.. mas memang salah dalam hal ini. Lama menunggu keputusanmu dan keluargamu. Mas stress sekali."
Bang Rico terdiam sejenak. Kejadian ini pun pernah menimpa dirinya. Perlakuan orang tua Ratri memang di luar batas.
__ADS_1
"Boleh saya ikut bicara?"
"Siap..!!"
"Ratri.. sekarang sudah ada calon anak di tengah kalian. Bisakah sikapmu tidak egois seperti ini? Urusan pernikahan adalah urusan pribadi kalian berdua.. setelahnya orang tua pun tidak bisa turut campur dalam rumah tangga kalian." saran Bang Rico.
"Orang tua saya segalanya Pak, saya ingin melihat mereka bahagia dan bangga karena saya berhasil menikah dengan tentara" jawab Ratri.
"Tapi caranya salah Mbak Ratri. Jika seorang pria belum mampu untuk acara mewah.. lebih baik tidak memaksa, cukup sah dulu saja" kata Bang Rico.
Bang Rico pahami, orang tua Ratri adalah orang biasa saja namun ingin terlihat di mata semua orang.
"Bapak tau apa? Bapak tidak tau artinya perjuangan hidup. Saya ingin derajat saya, derajat orang tua saya terangkat. Bapak meninggalkan saya karena tau saya bukan orang berpunya, tidak memiliki pendidikan tinggi dan tidak secantik istri bapak itu" dengan berani Ratri mengungkapkan kata penuh sindiran di hadapan Bang Rico.
Om Sobri mulai tidak enak dengan kejadian ini. Bahkan sampai mengucap hal yang sangat sensitif, Om Sobri tau.. Komandannya itu amat sangat tidak suka ada seseorang yang membawa-bawa Ibu Rico dalam masalahnya.
"Ratri.. bisa nggak sih kamu jaga ucapanmu..!!!!!" tegur Om Sobri.
"Itulah sebabnya saya menikah dengan istri saya sekarang. Saya bukan pria yang baik untuk kamu" jawab Bang Rico.
"Bilang saja kamu pelit, tidak mau keluar uang untuk calon istrimu. Dulu.. kalau aku sempat menikah denganmu.. mungkin hidupku melarat" Ratri semakin memanasi suasana.
Bang Rico mengepalkan tangannya. Sejak pagi tadi harinya sudah kesal tak karuan dan sekarang masih harus di tambah masalah Ratri.
"Besok kamu kembali lagi bawa Mbak Ratri. Saya masih ada pekerjaan" kata Bang Rico berusaha menekan emosinya.
Ratri menyambar tasnya tersenyum sinis, ia menghapus sisa air matanya.
"Kalau Pak Rico nggak bisa selesaikan masalah saya.. nggak usah jadi komandan. Timang-timang saja istri kecilmu itu..!!"
Ubun-ubun Bang Rico rasanya panas, gemuruh di dadanya rasanya sudah meluap.
"Keluar kamu sekarang..!!!!" bentak Bang Rico.
"Asal kamu tau Ratri. Wanita yang bisa mendampingi abdi negara.. sebagian besar adalah wanita-wanita hebat yang santun, terjaga akhlak, moral dan lisannya.. termasuk istri saya. Jika kamu hingga detik ini belum menjadi istri seorang abdi negara.. tanyakan pada dirimu sendiri.. di antara semua hal yang saya sebutkan tadi.. hal apa yang tidak ada pada dirimu..!!! Apakah kamu berada di zona sebagian besar, atau sebagian kecil"
.
.
.
.
__ADS_1