
"Dari jaman kakek buyut.. Nggak ada keluarga kita yang nggak bantu istrinya ngidam. Kamu nggak usah berlebihan.. mabuk begini saja nggak akan buat kamu mati Pan" kata Ayah Bayu.
"Haduuuuhh yah, rasanya nggak karuan. Nafas susah, perut sakit, pengen makan tapi rasanya nggak enak" jawab Bang Pandu.
"Dulu Mama mu juga begitu waktu hamil kamu, tapi sakitnya gantian sama Ayah. Menurut kamu.. lebih baik kamu yang sakit atau istri yang sakit?" tanya Ayah Bayu.
"Ya suami Yah. Kalau kita nggak bisa makan, paling resikonya hanya kurus sedikit.. tapi kalau istri yang sakit, anak pun ikut nggak dapat asupan makanan, gizinya juga nggak dapat" jawab Bang Pandu.
"Nah itu poin nya. Santai saja Pan.. mual ini jauh di nyawa. Kamu punya teman tuh, Rico juga juga teler"
...
Bang Rico di papah Bang Tino saat pulang ke rumah.
"Kamu pakai parfum apa?" tanya Bang Rico mulai lagi dengan pertanyaan yang tidak-tidak membuat Bang Tino was-was gelisah.
"Siap.. James Bond Bang..!!" jawab Om Tino.
"Gantii..!! Besok pakai minyak kayu putih saja. Aroma parfum mu terlalu menyengat di hidung Abang" ucap kesal Bang Rico.
"Siap Bang" Bang Tino menurut dan tidak mengambil pusing perintah Bang Rico karena tau seniornya itu sedang terkena syndrom padahal wangi parfum sang senior tak kalah memikat.. wangi Aqua man yang menggoda dan pastilah itu parfum favorit sang istri.
Belum sampai langkah itu menginjak rumahnya, Bang Rico kembali mual.
"Ricoo.. Ya Allah.. kamu belum sehat le?" pekik Mama Dinda kemudian beberapa ajudan Papa Wira ikut membantu Bang Rico karena pekik suara istri Komandan mereka.
"Sudah ma, hanya masih lemas saja."
"Sama saja Ric" Papa Wira yang baru tiba akhirnya membantu memapah menantunya masuk ke dalam rumah.
:
Asya menyuapi Bang Rico yang terlihat sangat manja. Sifat garangnya hilang begitu saja tergantikan kerewelan yang entah datang darimana. Bang Rico yang biasa memimpin pasukan kali ini bagai bocah imut yang menurut apa kata Mamanya.
"Jangan makan coklat dulu Bang, habiskan dulu makannya..!!" kata Asya.
"Abang nggak mau makan coklat ini. Abang mau tukar coklat ini ke supermarket. Abang nggak suka merk ini"
"Ya nggak bisa lah Bang. Barang sudah di beli masa si kembalikan?" ucap Asya.
__ADS_1
"Siapa sih yang beli coklatnya? kenapa nggak dengar perintah?" Bang Rico mulai bersungut kesal.
"Om Tino tadi yang beli" jawab Asya.
"Tino lagii.. Tino lagiii yang buat masalah" Bang Rico tidak bisa menahan rasa geramnya saat melihat dan mendengar nama Tino.
"Sudah lah Bang, nanti biar Om Sobri saja yang beli. Sekarang Abang habiskan dulu makannya..!!" Asya menyuapi Bang Rico lagi. Asya pun tak habis pikir kenapa Bang Rico bisa bertingkah seperti ini.
//
Fasya sudah bisa keluar dari rumah sakit, badannya sudah terasa lebih bugar.. tapi tidak dengan Bang Pandu yang lemas sambil menggandeng Fasya.
"Sob.. ada yang jual manisan kulit jeruk nggak?" tanya Bang Pandu.
"Siap.. ada Dan. Di pasar ada yang jual manisan.. lengkap. Mau saya antar kesana Dan?" tanya Sobri.
"Iya, saya pengen manisan kulit jeruk"
:
Beberapa menit setelah Bang Pandu memakan manisan cabe.. badannya terasa lebih ringan seolah tidak terjadi apapun.
...
"Enak Bang, nanti saya makan lagi" Bang Rico menyimpan wajah cemasnya karena sebenarnya ia tidak menyukai rasa manisan cabe.
"Ya sudah.. nanti di makan ya Ric. Abang makan beberapa manisan.. mabuknya Abang hilang" kata Bang Pandu.
"Siap Bang.. terima kasih..!!"
"Sama-sama Ric, cepat sehat ya..!!" Bang Pandu menepuk bahu Bang Rico memberi semangat pada kakak iparnya.
:
Bang Rico muntah hebat karena tidak tahan dengan rasa manisan cabe dari Bang Pandu.
"Panggilkan Tino donk..!!" perintah Bang Rico pada Om Sobri.
~
__ADS_1
"Kalian berdua makan manisan cabe ini..!! Yang penting jumlahnya berkurang"
"Saya nggak suka cabe Bang" kata Bang Tino.
"Abang nggak mau tau.. yang penting manisan cabe ini berkurang..!!" perintah Bang Rico.
~
Om Sobri yang suka dengan cabe tidak ada masalah dengan rasanya, bahkan tidak ada rasa pedas tertinggal dari manisan cabe tersebut dan malah Bang Tino yang sudah bolak balik muntah karena manisan cabe.
"Ayo semangat Dan..!!" Om Sobri menyemangati Letda Tino.
"Apa memang Lettu Rico seusil ini sama juniornya? Yang saya dengar.. beliau itu tegas, garang dan berwibawa" tanya Bang Tino.
"Benar Dan, tapi ini beda.. bawaan orok. Pak Rico jadi usil, suka bunga, suka lihat perempuan cantik, suka warna pink, suka coklat dan segala hal yang mirip perempuan, rewelnya Dan Rico juga seperti perempuan. Mungkin calon bayinya perempuan" jawab Om Sobri.
"Begitu ya, luar biasa. Saya jadi pengen cepat nikah nih. Rasanya enak sekali kehidupan pernikahan" kata Bang Tino.
Om Sobri tak berani banyak berkomentar padahal ia tau komandannya itu sudah mengalami pahit manisnya biduk pernikahan.
"Cepat nyusul Dan. Menikah itu enak" senyum Om Sobri padahal rumah tangganya sendiri sedang tidak baik-baik saja.
...
"Ijin Bang, kalau mau motor dengan gambar pony .. minimal datangnya satu minggu" kata Bang Tino via ponsel.
"Saya maunya besok pagi itu motor sudah ada di garasi saya. Berapapun saya bayar. Ini yang minta Nyonya besar" alasan Bang Rico padahal dirinya sendiri yang sangat menginginkan motor dengan motif Pony.
Bang Tino mengusap wajahnya.
"Baik Bang, saya usahakan" jawab Bang Tino meskipun dirinya tidak yakin akan dapat motor dengan motif Pony.
.
.
.
.
__ADS_1