Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
117. SP 2. 20. Di tangani suami.


__ADS_3

"Kamu ini macam-macam saja Rico. Mau itu hal sekecil apapun kalau wanita mu tidak suka ya sudah.. jangan di lakukan. Kenapa kamu suka sekali menggali kuburmu sendiri?" tegur Papa Sanca yang sangat menyayangi Jihan bagai putrinya sendiri dan begitu juga sebaliknya Papa Garin juga sangat menyayangi Aira.


"Iseng saja Pa, hanya sedikit mencari hiburan karena banyak pekerjaan" jawab Bang Rico tak lagi punya muka untuk menatap mata kedua Papa di hadapannya.


"Iseng ya di kondisikan donk Ric. Papa juga suka sama yang begitu tapi Papa juga nggak bodoh, Papa tau Mama Fia kalau sudah ngamuk bisa rata di sekeliling tanpa sisa" kata Papa Sanca.


"Kamu sama Vian itu sama saja.. nggak pintar main cantik. Begitu kok jadi playboy kelas kakap" ledek Papa Sanca.


"Coba kamu lihat Papa Garin itu" tunjuk Papa Sanca dan Papa Garin sudah besar kepala mendengarnya.


"Nggak pernah bisa merayu wanita.. kecuali Mama Esa karena nasibnya sial, terlanjur bertemu Papa Garin" imbuh Papa Sanca.


"Aahh.. gimana sih? Jangan bikin malu donk" protes Papa Garin.


Bang Rico menunduk menahan tawa melihat wajah kesal Papa Garin.


...


"Ayaankk.. buka pintu donk..!!" pinta Bang Rico yang sedang berusaha keras membujuk Jihan.


"Jihan nggak mau di duakan..!!" jawab ketus Jihan.


Mama Esa sudah tidur menemani Gazha sedangkan Papa Garin sedang sibuk nyemil biskuit milik Gazha sambil bermain game perang.


"Rasakan..!! Mati kau..!!" ucap Papa Garin heboh sendiri dengan game nya.


Bang Rico mulai cemas karena Papa Garin seakan terus mengejek nya.


"M****s, enyahlah kau dari hadapan ku..!!!!" ucap Papa Garin lagi.


"Pa, jangan begitu donk"


"Memang pantas khan?" jawab Papa Garin.


"Mulai sekarang saya benci Lisa.. saya cintanya sama Jihan" Bang Rico sudah gemas.


Mata Papa Garin berkedip-kedip.


"Kowe iki ngomong opo to Ric? Papa khan lagi perang" kata Papa Garin dengan santai.


Bang Rico pun akhirnya merosot lemas.


"Papa.. tolong saya donk.. biar bisa baikan sama Jihan" pinta Bang Rico.


"Okee.. tapi ada syaratnya" kata Papa Garin sambil meletakkan ponselnya.


"Apa pa??" tanya Bang Rico.

__ADS_1


buuugghhh....


"hhhhggghh.. Ya Allah Pa.." Bang Rico tersungkur memegangi perutnya


Papa Garin meninju perut Bang Rico lalu menjegal tengkuk lututnya hingga menantunya itu tersungkur di lantai.


Bang Rico sungguh kesulitan bernafas karena Papa Garin meninju hampir mengenai ulu hati.


"Astagfirullah Rico.. kamu kenapa?" Papa Garin membantu Bang Rico berdiri, jelas saja Bang Rico tak paham apa maksud Papa mertuanya. Papa Garin yang meninjunya, Papa Garin juga yang menolongnya.


Tak lama pintu kamar Bang Rico terbuka, Papa Garin langsung menepak dahi Bang Rico.


"Abang kenapa Pa?" terdengar tanya Jihan sedikit panik.


"Jatuh.. mungkin lemas kurang tenaga. Suamimu nggak mau makan sejak tadi" kata Papa Garin.


"Ajak ke kamar dulu..!! sekalian kamu pijat badannya, mungkin ada urat yang melintir" imbuh Papa Garin.


"Iya Pa" Jihan pun segera membantu Bang Rico berdiri dan mengajaknya ke kamar.


Saat Bang Rico dan Jihan berjalan.. Papa Garin memelototi Bang Rico karena papa Gazha itu tidak terlihat sakit dan akhirnya Bang Rico mengerti maksud Papa Garin.


"Aarrhh.. rasanya Abang mau mati" ucap Bang Rico memercing sakit.


"Iya Bang, nanti Jihan urut" kata Jihan.


:


"Sebenarnya yang sakit yang mana sih Bang? Jatuhnya kena punggung atau perut? Kenapa jadi paha yang di pijat?" tanya Jihan bingung.


"Biar ototnya melemas merata donk dek, sekitar nya juga harus di urut" jawab Bang Rico.


"Tapi perut sama paha itu jauh Bang." protes Jihan kemudian mengurut paha Bang Rico lagi.


"Ya sudah.. kamu duduk saja di paha. Jari kecil begitu Abang nggak terasa.. hanya geli aja di kulit" Bang Rico menarik tangan Jihan ke atas pahanya dan tanpa sengaja.. Jihan menyenggol Bang Rico.


"Maju lagi..!!" perintah Bang Rico.


Jihan menurut tapi kemudian raut wajahnya berubah, ia menatap mata Bang Rico.


"Abang serius lagi sakit atau hanya pura-pura? urusan kita belum selesai Bang" kata Jihan.


"Beneran kok" jawab Bang Rico.


"Bicara yang jelas, yang mana yang sakit????" mata Jihan juga sudah mengancam ketus.


"Yaaa.. yang kamu tangani ini" ucap jujur Bang Rico.

__ADS_1


"Oohh.. begitu ya. Begitu tergila-gila nya Abang sama di dia.. okee Bang, lihat saja.. apa sekarang Abang masih bisa tutup mata?" tanya Jihan sambil meliuk cantik di paha atas Bang Rico.


Bang Rico memercing cemas, pria mana yang tidak bereaksi mendapat perlakuan seperti itu dari seorang wanita apalagi yang melakukan nya adalah istrinya sendiri. Nafasnya terasa tercekat.


"Jangan bertingkah aneh-aneh dek..!!" pinta Bang Rico lembut.


"Yakin Abang nggak suka?" tanya Jihan polos dan tidak berpikir akibatnya.


"Sejak kapan pria tidak suka dengan hal seperti ini, apalagi punya istri yang pintar menyenangkan suami. Tapi kamu juga jangan munafik.. kamu butuh Abang, kamu juga suka belai manja dari Abang khan sayang?" jawab Bang Rico.


Melihat ekspresi wajah Bang Rico, seketika nyali Jihan berbalik ciut. Dirinya menjadi tak berani menatap mata Bang Rico. Bang Rico pun tersenyum penuh kemenangan.


"Sekarang giliran Abang main cantik sayangkuu" Bang Rico beralih memutar arah, perlahan namun cepat.


"Papa Rico mau check up dedek. Mama Jihan jangan tegang, Biar Papa Rico saja yang tegang hadapi Mama Jihan" gumam nakal Bang Rico.


Jihan berkedip cemas, tapi Bang Rico segera menangani istrinya.


"Bagaimana kalau ternyata.. sebelum kamu bilang suka sama Abang, ternyata Abang yang menaruh hati sama kamu lebih dulu?" ucap Bang Rico.


"Abang melanggar sumpah, gadis ini sudah buat Abang kocar-kacir"


***


"Ini apa?" tanya Bang Vian saat membaca proposal dari sebuah kampus kesehatan.


"Permintaan pembinaan dari kompi kita komandan" jawab Om Dion.


"Ada dua nama dari bagian jurusan yang berbeda di sana"


"Ini nama istri Danki khan? satu lagi putri Dan Sanca. Danki sudah tau atau belum?" tanya Bang Vian.


"Ijin Danton.. belum"


"Laahh.. istri Danki lagi hamil lho.. bisa ngamuk dia kalau istrinya masuk daftar peserta pembinaan seperti ini. Saya lapor Danki dulu ya..!!" kata Bang Vian.


...


Mata Bang Rico membulat besar saat membaca ada nama sang istri disana.


"Kok Jihan nggak bilang apa-apa sama Abang??? Waaahh.. kurang di tumbuk iki bocah" gumam geram Bang Wira sambil membuang kasar proposal di tangannya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2