
Asya mengigit pergelangan tangannya, di tangan kirinya masih ada benda tajam untuk melukai pergelangan tangan. Bang Rico melihat kesekitar.
"Lepas siletnya..!! Kamu ambil ini dari nakas????" tegur keras Bang Rico. Ia sudah menyingkirkan banyak benda tajam tapi kali ini dirinya kecolongan melupakan silet yang ada di nakas.
"Lingga anak siapa??" tanya Asya setengah sadar.
"Anak Bang Yudha.. bagaimana kamu ini dek..!!"
"Kalau dia anak Bang Yudha.. kenapa Lingga memanggilmu Papa??" nada Asya begitu terluka, tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.
"Kenapa harus seperti ini dek?? Kenapa kamu tidak tanya Abang kalau hasilnya akan seperti ini?????" begitu emosinya Bang Rico tapi tidak bisa ia ungkapkan karena keadaan Asya sangat memprihatinkan. Ia menekan pergelangan tangan Asya yang sudah tergores silet.
"Abaang.. perut Asya sakit sekali..!!"
"Astagfirullah hal adzim.. bagaimana anakku ini??" Bang Rico mengangkat Asya ke atas ranjang. Dengan cepat ia pergunakan ilmu kesehatan lapangan miliknya.
:
Bang Rico selesai memasang perban di pergelangan tangan Asya. Darah sudah tidak lagi menetes. Bang Rico menghela nafas panjang di samping Asya. Tapi kini darah Bang Rico terasa benar-benar mendidih.
"Bisa-bisanya kamu pikir Lingga itu anak Abang??"
Asya masih terdiam dan masih memegangi perutnya yang terasa kaku.
"Sampai anakku ini ada apa-apa, Abang akan buat perhitungan sama kamu Asyaaa..!!!!!!!" bentak Bang Rico tak main-main.
Sekuat tenaga Asya bangkit dari tempat tidur.
"Kalau tidak ada apa-apa.. kenapa Lingga panggil Abang Papa?? Kenapa hanya Batalyon yang mengakui sah nya Mbak Netta jadi istri Bang Yudha.. dan kenapa baru-baru ini saja hukum militer mengakui Mbak Netta??"
Asya begitu marah sampai melempari Bang Rico dengan bantal. Tak cukup dengan itu Asya mulai menyerang Bang Rico dan sama sekali suaminya itu tidak membalasnya.
"Kenapa Abang diam?? Benar khan kalau Lingga itu anak Abang???" teriak Asya.
"Apa Mbak Netta memang sebaik dan secantik itu??????"
"Jangan bawa-bawa Netta..!!!"
"Abang yang sudah membawanya masuk ke dalam rumah ini. Kenapa pria tidak pernah bisa melupakan masa lalu??????"
"Kamu ini ngomong apa?? Ngawur..!!!!"
"Asya bisa lebih dari sekedar Netta..!!!!!!!" Asya menghantam Bang Rico sampai akhirnya Bang Rico menggenggam kedua tangan Asya. Hatinya sungguh lemah, luluh dan terluka tak sanggup melihat Asya seperti ini.
__ADS_1
"Abang tau.. dan kamu lebih dari segalanya..!!" Bang Rico mengecup bibir Asya sekilas, membujuk dan melunakkan hati gadisnya.
flashback on..
"Jika Asya memuntahkan obatnya dan semakin tak terkendali.. kamu harus menyuntikkan obat obat ini, nanti perlahan Asya akan tenang.. tapi kamu harus tau resiko obat ini. Asya pecandu.. mau itu obat oral atau inject.. semua tetap berbahaya" kata dokter As.
"Aku nggak mungkin membahayakan nyawa Asya, apalagi bayiku baru saja tumbuh" jawab Bang Rico.
"Segala apapun di dunia ini pasti menimbulkan resiko Ric. Tak terkecuali untuk penyembuhan Asya"
"Aku nggak tega As.. Kandungan Asya masih satu setengah bulan. Kamu menyarankan seperti itu seolah-olah aku tidak tau efek dari obat tersebut. Asya pasti sangat kesakitan As..!!" kata Bang Rico tidak terima.
"Ini salah satu resikonya Ric. PR kita bertambah karena ada calon bayimu di perut Asya. Kamu harus kuat, siapa lagi yang akan membantu Asya kalau bukan kamu suaminya"
"Ya Allah.. aku benar-benar nggak sanggup As"
"Harus bisa Ric..!!" Om As memberikan suntikan itu pada Bang Rico.
flashback off...
Bang Rico mendorong Asya sampai ke samping lemari. Bang menatap kedua bola mata Asya dengan lekat.
"Abang tidak terbiasa lagi mengumbar kata cinta yang manis. Tapi kali ini Abang ingin katakan kalau Abang sayang sekali sama Asya. Se b******n nya Abang dulu sebagai laki-laki.. Abang pantang menitipkan sesuatu yang berharga kalau Abang tidak yakin dia mampu. Abang hanya ingin Asya percaya, ada cinta di hati ini untuk Asya" Perlahan Bang Rico menyuntikkan obat yang dengan cepat dan senyap ia siapkan untuk Asya.
"Balas Abang..!!" pintanya kemudian menyalurkan hal positif berharap Asya semakin tenang.
Tubuh Asya menggigil, tapi masih ada balasan dari gadis cantik itu. Tangis Asya mulai keluar, Bang Rico tau Asya sudah semakin kesakitan, ia membuang suntikan itu kemudian mendekap Asya dan membiarkan Asya meluapkan segalanya.
Asya melepaskan pagutan itu dan mengepal tangan menahan sakitnya.
"Nggak apa-apa, lepas saja..!! Abang ingin lihat, kita rasakan sama-sama..!!" kata Bang Rico.
"Sakiiiiiitt.. tulang Asya mau patah..!!!!" Asya ambruk tapi Bang Rico menahannya. Tangannya mencengkram kuat lengan Bang Rico.
"Iya sayang..!! Maafin Abang ya"
Di antara rasa yang berhamburan.. Asya berteriak memukuli Bang Rico.
"Salahkah Asya kalau ingin memiliki Abang seutuhnyaaaa..!!!!"
"Nggak salah, Abang hanya milikmu.. Terserah apa maumu, Abang pasrah" jawab Bang Rico sudah ketakutan.
"Lupakan dia, Asya nggak mau ada dia lagi..!!! Abang nggak mau bernasib sama seperti Mama..!!!!!!" pekik Asya tak terkendali.
__ADS_1
"Iya dek.. Abang nggak berani lagi..!!"
Tiba-tiba Asya berhenti bergerak, ia meremas perutnya kemudian ambruk menimpa Bang Rico.
"Lailaha Illallah.. Allahu Akbar.." Bang Rico panik saat melihat ada cairan tipis membasahi sela paha Asya. Bang Rico menyentuhnya.
"Darah.. Asya berdarah?? Astagfirullah.." dengan sigap Bang Rico membopong Asya masuk ke dalam mobil.
~
"Ijin Dan.. mau kemana??" tanya Om Acep yang tidak sengaja melewati depan rumah Bang Rico.
"Rumah sakit.. kamu ikut saya..!!" perintah Bang Rico.
"Siap..!!" Om Acep berlari, kemudian langsung masuk dan duduk di bangku belakang.
"Mau apa kamu????" tanya Bang Rico heran.
"Ikut komandan..!!"
"Kamu yang kendarai mobilnya..!!!! Kalau kamu ikut di belakang.. siapa yang kendarai mobilnya Cep???????" emosi Bang Rico semakin meninggi setiap bertemu Om Acep.
"Siap salah..!!" Om Acep pun turun dan segera duduk di jok pengemudi.
"Apalagi Cep????" tegur Bang Rico karena Acep malah bengong dan terdiam.
"Ijin Dan.. saya nggak bisa kendarai mobil bagus begini, kalau angkot saya bisa"
"Astagaa.. Aceeeeeppp..!!!!!!!!! Kamu khan pernah bawa mobil in!"
"Siap.. saya gugup takut ada apa-apa sama ibu"
"Kalau sampai istri saya ada apa-apa, kamu yang saya hantam duluan..!! Kamu fokus saja sama jalanan dan jangan pedulikan istri saya. Ini biar jadi urusan saya..!!" bentak Bang Rico.
"Ijin Dan..!! karena gugup.. saya mules" kata Om Acep.
"Gusti Allah.. Keluar kamu Aceeepp..!!!!!!!!"
.
.
.
__ADS_1
.