
"Siap Dan"
"Kamu sekarang masuk bagian POM dalam saja Ric, tidak terjun langsung ke lapangan minimal sampai kamu benar-benar sehat. Kurangi kegiatan berat, tidak usah pakai banyak tenaga" kata Danyon.
"Siap laksanakan Dan" Bang Rico pun kembali ke ruangannya untuk membereskan berkas yang menjadi tugasnya.
...
Bang Rico menumpukan kepala pada kedua tangannya yang bertaut. Melihat kedua surat yang selalu ia bawa kemana - mana sungguh sangat memukul batinnya.
Luka yang ia dapatkan beberapa bulan yang lalu sudah membuatnya harus menerima konsekuensi hidup yang tidak ringan. Iganya retak, paru-paru bermasalah dan yang lebih parah lagi.. dirinya tidak bisa memacu nafas sekuat dulu dan tidak bisa menggunakan tenaga secara serampangan.
"Ric.." sapa Bang Pandu.
"Iya Bang" Bang Rico menengadah melihat Bang Pandu yang kemudian duduk di depan mejanya.
"Perbanyak istighfar.. jangan menyia-nyiakan kehidupan yang sudah Allah beri termasuk pengorbanan Acep. Jangan pernah berkecil hati.. tidak ada ujian tanpa penyelesaian" Bang Pandu merangkul bahu Abang iparnya.
"Kalau rindu istri ya dekati saja. Jangan di tahan..!! Los dan selesaikan hingga tuntas seperti Rico yang biasanya. Tidak boleh pakai banyak tenaga itu hanya berlaku untuk kegiatan militer yang berat. Selanjutnya.. hiduplah normal seperti biasa"
Bang Rico menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Rasanya seperti ada energi tersendiri karena Bang Pandu memberikan energi baru padanya.
"Terima kasih banyak ya Bang. Rasanya aku sudah lebih baik"
"Ya gitu donk. Abang memang baru menikah.. tapi Abang juga laki-laki. Abang bisa berpikir lebih jernih karena Abang tidak di hadapkan langsung pada masalahmu itu" Jawab Bang Pandu.
"Saya mau pulang dulu Bang. Setor muka dulu ke Asya." kata Bang Rico.
-_-_-_-_-
Asya merasa Bang Rico bersikap aneh. Bang Rico terus saja memeluknya dan membelai nya lembut.
"Abang kenapa?" tanya Asya.
"Abang masih kangen kamu." jawab Bang Rico.
"Masih ada Mama sama Papa Bang. Masa kita ke kamar?" Asya mau saja menuruti keinginan Bang Rico, tapi saat ini masih ada Mama dan Papa di rumah mereka.
Tiba-tiba ada suara Papa Wira.
__ADS_1
"Rico.. Asya.." Sapa Papa Wira mengagetkan Bang Rico yang langsung salah tingkah bingung mengkondisikan wajahnya.
"Mama sama Papa mau temani Fasya sama Bang Pandu beli perabot rumah. Gazha mau Papa bawa..!!" ucap Papa pura-pura tidak tahu apa yang terjadi.
"Oohh.. ya sudah kalau begitu Pa. ASI nya cukup khan?" tanya Asya.
"Cukup. Tenang saja" jawab Papa Wira.
Bang Rico masih berdiri bingung menata dirinya sendiri.
:
Papa dan Mama sudah pergi. Bang Rico ragu bagaimana harus memulai. Ia sungguh tidak percaya dengan dirinya sendiri. Batinnya terasa tertekan.
"Malam ini kamu pintar sekali dek" kata Bang Rico sambil menenangkan diri.
"Asya terus belajar biar bisa mengimbangi keinginan Abang. Asya nggak mau Abang kecewa karena hubungan ranjang kita yang hambar" jawab jujur Asya.
Kini Bang Rico yang semakin takut tak bisa menyenangkan sang istri. Abdi negara menang selalu di tuntut kuat dalam hal apapun.. tapi tidak banyak yang tau seluk beluk dalam rumah tangga masing-masing. Apakah mungkin keuangan mereka yang tidak stabil, apakah itu karena adanya orang ketiga, masalah keluarga besar.. atau malah mungkin terkena dampak pekerjaan seperti yang sedang Bang Rico alami saat ini.
"Terima kasih kamu sudah mau sabar dan berusaha keras menyenangkan Abang." kata Bang Rico.
Bang Rico tersenyum melihat senyum Asya. Perlahan hatinya hangat. Ia tau dirinya tidak stabil tapi ia pun ingin terus berusaha membuat hubungan rumah tangga mereka tetap hangat.
Bang Rico membawa Asya ke dalam kamar.
"Abang hanya berharap kamu tetap bisa sabar menghadapi Abang"
Asya mengangguk kemudian membalas kecupan hangat Bang Rico.
:
Tidak seperti biasanya.. Bang Rico lebih cepat menyudahi semuanya tapi Asya berusaha memaklumi karena tadi pagi Bang Rico baru saja keluar dari rumah sakit dan mungkin keadaan Bang Rico juga belum sepenuhnya sehat.
"Abang masih sakit ya?" tanya Asya sambil membersihkan sisa cairan dari pertempuran mereka.
"Nggak dek. Hanya masih sedikit capek saja. Maaf ya kalau kamu nggak suka" jawab Bang Rico terengah dan merasa bersalah karena wajah Asya pun terlihat terlalu biasa saja.
"Nggak apa-apa Bang. Mudah-mudahan Abang cepat sehat lagi" kata Asya kemudian tidak seperti biasanya langsung berdiri dan menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Bang Rico langsung meraih tangan Asya.
"Maaf.. Abang mengecewakan" ucap Bang Rico menyadari kelemahannya saat ini.
"Asya ngerti Bang" jawab Asya dengan senyumnya tapi Bang Rico tak lantas percaya dengan senyum itu. Bang Rico tau Asya pasti sangat kecewa padanya.
***
Bang Rico mengawasi jalannya para anggota yang akan mengadakan pergantian pasukan. Ia duduk di bawah pohon beringin sambil menghisap rokoknya. Sudah hampir dua bungkus rokok ia habiskan sendiri.
"Nggak salah Ric.. paru-paru mu itu bermasalah. Kenapa nggak berhenti merokok juga?" tegur Bang Yudha.
"Masih sulit berhenti Bang" jawab Bang Rico.
"Kamu ini jangan mengalihkan stress sama rokok. Itu bahaya" kata Bang Win.
"Ya masa saya harus mabuk Bang."
"Mabuk janda aja Ric.. amaaaan..!!!" kata Bang Yudha.
"Aman dari mananya? Baru juga di datangin sales rokok.. saya sudah ribut sama Asya. Kalau mabuk janda.. bisa di gemplang modyaaaaarrr saya Bang" jawab Bang Rico kemudian mematikan rokoknya.
.
.
.
.
Maafin Nara ya kalau banyak ketidak sempurnaan cerita Nara. Membangun mood itu sangat sulit. 😔
🌹🌹🌹
.
.
.
__ADS_1
.