
Om Acep berdiri, ia merasakan tulangnya sudah mau patah.
Bang Yudha dan Bang Winata prihatin melihat penampilan Om Acep yang sudah seperti maling ayam tertangkap basah.
"Lain kali hati-hati. Apalagi berurusan sama Pak Rico. Untung saja kamu masih bisa berdiri." kata Bang Winata.
"Bagian kesehatan cepat tangani Acep..!!" perintah Bang Yudha.
...
"Alhamdulillah bisa di kibulin tidur. Kalau nggak begini, mana bisa aku keluar urus si Acep kurang ajar itu" gumam Bang Rico.
Hatinya masih jengkel sekali mengingat ada rasa yang tertunda walaupun semalam dirinya sudah berkali-kali menyelesaikan bersama Asya.
"Rasanya telan orang saja kalau begini caranya"
...
"Sudahlah Ric.. jangan ngambek terus. Secara pribadi Abang juga minta maaf..!! Bagaimana kalau Abang traktir makan?? Lapar nggak" bujuk Bang Winata.
"Lapar sekali, tapi nggak jadi sarapan" jawab jujur Bang Rico.
"Maaf Ric. Benar nggak sengaja tadi. Abang sudah berusaha mencegah, tapi kejadian tadi bikin kita syok juga.. istrimu........!!!!!"
"Abang lihat Asya juga???" nada suara Bang Rico kembali meninggi karena ia sadari, apa yang dilakukannya tadi sangat syur dan vulgar apalagi Asya begitu menggemaskan menggoda imannya.
"Nggaak.. maksudnya istrimu tertutup punggungmu, kita nggak benar-benar lihat kok Ric" alasan Bang Yudha daripada juniornya itu ngamuk lagi. Wajah Bang Winata pun cemas was-was.
"Uugghh.. bodohnya Acep." Bang Rico mengepalkan tangannya.
Sebagai pria, Bang Yudha dan Bang Winata berusaha memaklumi asal kemarahan Rico.
"Kalau nggak kuat lari.. hari ini nggak usah lari dan kurve. Hitung-hitung kami minta maaf. Pulanglah dan temani Asya di rumah..!!" kata Bang Yudha.
"Saya lari saja Bang. Pusing kepala saya"
"Silakan saja kalau kuat. Nanti Abang dampingi" ucap Bang Yudha.
:
Bang Rico ambruk di tempatnya. Ini kedua kalinya dirinya tidak kuat lari membawa ransel. Cungkup oksigen kembali terpasang menopang jalan nafasnya.
"Bagaimana ini Yud, beberapa kali berlari, Rico selalu begini. Kurasa berat badannya juga nggak berlebih"
"Namanya manusia Win. Pasti ada lelahnya, maklumi saja..!!" jawab Bang Yudha sembari memijat pelipis Bang Rico.
"Vo*ca Ric?? Ayo mabuk..!!" goda Bang Yudha.
Bang Rico hanya mengangkat jempolnya sebagai respon.
"Tambah night club ladies kalau perlu." imbuh Bang Winata.
"Ayoo..!!" jawab lirih Bang Rico.
"Wooo.. semprul.. bagian perempuan aja langsung tanggap darurat. Besok pagi muntah paku kamu Ric" Bang Yudha ikut gemas mendengarnya.
__ADS_1
"Main cantik lah Bang" jawab Bang Rico, tapi beberapa saat setelah mengucapkan nya.. lehernya terasa tercekat dan tercekik. Degub jantungnya keras bertalu-talu.
"Allahu Akbar.. sakit sekali Ya Allah..!!"
"Tumben istighfar..!!" tegur Bang Winata.
"Ya ampun Abang.. kalau saya nggak istighfar, terus di colek malaikat.. bisa habis saya Bang. Mana saya baru kawin, anak belum lahir" jawab Bang Rico.
"Makin ngawur aja ini bocah. Kasih dia obat kudis bisa nggak?? biar tidur sebentar, capek saya dengar dia ngoceh" kata Bang Yudha.
...
Asya melihat Bang Rico pulang di antar Bang Yudha. Wajahnya masih terlihat lelah.
"Assalamualaikum.." ucapnya lirih.
"Wa'alaikumsalam.. Abang kenapa?" Asya membantu Bang Rico membuka kopelnya dan menggantungnya di gantungan dinding.
"Nggak enak badan dek. Rasanya mual nggak karuan. Di lemari es ada buah nggak?" tanya Bang Rico.
"Nggak ada Bang. Ada juga tomat" jawab Asya.
"Halaah.. jadi sambal donk"
"Abang maunya manisan buah, tapi buat sendiri" kata Bang Rico.
Bang Rico mengambil ponselnya lalu menghubungi Om Sobri.
"Tolong carikan saya buah-buahan ya. Di sekitar Batalyon saja..!! Yang bisa di buat manisan atau rujak"
:
"Tolong ya Cep.. saya masih mules nih kebanyakan makan sambal"
"Siap Bang"
...
"Mana Sobri??"
"Ijin Dan.. sedang panggilan alam." jawab Om Acep.
Wajah Bang Rico sebal melihat Acep yang datang, dirinya benar-benar ragu kalau Acep bisa mengerjakan tugasnya dengan benar. Ia menerima kantong plastik hitam dari Om Acep dan mengintip isinya.
"Tuh khan.. kamu ini..!!!!!!" Bang Rico langsung kesal melihat isi di dalam kantong plastik itu.
Seketika darah Bang Rico naik karena melihat isi kantong itu. Ada jeruk keprok, jambu biji, kelapa setengah tua, jantung pisang dan yang paling parah.. pisang satu tandan di samping motor Om Acep.
"Kamu lihat ini..!!!" Bang Rico mengangkat jantung pisang agar Om Acep bisa melihatnya.
"Darimana jantung pisang bisa tergolong buah-buahan????????"
"Siap.. Jantung pisang ini nanti akan jadi pisang Dan." jawab Om Acep.
"Pisangnya buahpakmuu..!!!!! Asal njeplak kamu ngomong..!!!!" nada suara Bang Rico sampai meninggi.
__ADS_1
"Terus apa gunanya kamu bawa pisang batu?? Itu nggak bisa di makan juga"
"Siap.. perintah tadi.. Danton minta buah untuk buat manisan atau rujak" jawab Om Acep lagi.
"Tapi nggak satu tandan juga Aceeepp..!!!!!!"
"Ini lagi buat apa kelapa?? kamu mau saya nabung cacing kremi???"
"Siap salah Dan."
"Balik saja kamu ke TK dan hapalkan nama-nama buah, jangan bilang kamu juga nggak bisa bedakan bayam dan kangkung..!!!!" bentak Bang Rico.
"Ya Tuhan.. sakit kepala saya pikir kamu..!!"
...
Asya memijati kepala Bang Rico yang sedang tidur di pangkuannya. Wajahnya menghadap ke perut Asya sesekali mencium perut datar Asya.
"Kenapa marah terus sih Bang?" Asya beralih mengusap pipi Bang Rico.
"Abang mau anaknya mirip Om Acep??"
"Nggak lah, amit-amit" jawab Bang Rico.
"Ya sudah, jangan terlalu kesal dan benci sama Om Acep..!!"
"Dia ngeselin dek. Si Sobri juga, kenapa dia nggak bilang dari awal kalau sedang sakit perut" kata Bang Rico.
"Baru juga di bilang, jangan marah..!! Nanti anaknya mirip Om Acep lho." tegur Asya.
"Abang bangun sebentar.. Asya sudah buatkan manisan pepaya. Tadi minta tolong Bang Yudha ambilkan pepaya di belakang"
"Bang Yudha..??" mata Bang Rico memicing menerka.
"Ngobrol sama Bang Yudha di belakang rumah?"
"Iya, Bang Yudha lagi tata kebun sayur di belakang rumahnya"
"Terus.. bicara apalagi??"
"Nggak ada.. cuma minta tolong ambilkan pepaya aja."
"Pakaianmu seperti ini??" tanya Bang Rico.
"Ya nggak lah, Asya pakai baju panjang. Masa keluar rumah pakai baju tidur"
"Oohh.. syukurlah"
.
.
.
.
__ADS_1