
Yang tidak suka dengan sikap Garin, skip saja ya. Nara membuat karya HANYA BAGI YANG SUKA. Terima kasih 🙏🙏🙏.
🌹🌹🌹
Papa Garin berlarian dan bermain tembak-tembakan di ruang rawat Papa Sanca dan tentu saja target sasaran tembaknya adalah Papa Sanca yang tidak mungkin dan tidak bisa marah pada si kecil Gazha.
"Bidik jidatnya..!!!" perintah Papa Garin.
Gazha pun membidik jidat Papa Sanca tanpa meleset.
"Astagfirullah hal adzim.. jangan ajari anak-anak yang tidak-tidak Garin..!!!!!" suara Papa Sanca menggelegar saking gemasnya melihat Papa Garin yang terlalu lincah.
"Dokter.. tolong bawa satu induk kuman ini keluar dari ruangan saya..!! Lama-lama.. bukannya sehat.. saya malah stroke" pekik Papa Sanca.
"Laaahh.. siapa yang suruh kau marah-marah..!!!!" jawab Papa Garin.
Saking geramnya, Papa Sanca sampai melempar bantal nya dan mengenai wajah Aira yang baru saja membuka pintu kamar karena Papa Garin melompat menghindarinya. Untung saja Bang Vian masih bisa menyangganya.
"Apa sih papa? Kenapa Aira di timpuk?" tanya Aira.
"Papa mau lempar Papa Garin..!! Papa nggak tau kalau kamu mau masuk" jawab Papa Sanca.
"Ngomong-ngomong ada apa kalian datang bersamaan begini?" Papa Sanca mulai ketus melihat Bang Vian datang bersama Aira.
"Papa mau punya cucu??" Aira tiba-tiba membuat seisi ruangan terdiam.
"Apalagi ini Aira.. kamu hamil???" seketika itu juga Papa Sanca langsung syok.
"Ijin bicara Dan..!!" Bang Vian langsung menyela agar tidak terjadi salah paham seperti kemarin.
"Kita khan sudah merencanakan Bang.. nggak apa-apa donk Aira bilang" Jawab Aira lagi.
"Astagfirullah.. Ya Allah Ya Rabb.. nikah kalian sekarang juga..!!!!" bentak Papa Sanca.
"Begini Dan.. biar saya jelaskan..!!" Bang Vian mencoba menengahi.
"Nggak ada alasan..!!!!!!"
...
"Ini semua kebodohan mu. Asal sekali kamu bicara sampai kita kena musibah seperti ini" bentak Bang Vian.
__ADS_1
"Yang kena musibah itu Aira.. kenapa bisa sampai menikah sama pria macam Abang..!!" ucap kesal Aira sambil meremas pakaiannya.
"Sudah jadi begini.. ya sudah lanjut saja..!!" Bang Vian menggandeng Aira masuk ke dalam mobil.
"Jangan pegang-pegang..!!" tolak Aira.
"Abang ini juga punya selera.. tapi yang jelas selera Abang itu berkelas.. bukan kelas keong macam kamu" gerutu Bang Vian.
"Masuk..!!!!" Bang Vian memaksa Aira untuk masuk ke dalam mobil.
Aira pun masuk, duduk dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Nggak usah cemberut, nggak cemberut saja jelek.. apalagi cemberut" ucap Bang Vian.
Aira memalingkan wajahnya dengan bibir mencibir kesal.
//
Setelah memutuskan dengan matang.. Bang Rico menolak Jihan ikut dalam acara diklat tersebut. Ia benar-benar tidak ikhlas Jihan ikut dalam kegiatan tersebut.
"Kamu di rumah saja.. jangan ikut kegiatan lagi. Anak kita butuh banyak istirahat" Kata Bang Rico.
"Jihan ikut disini..!!"
"Abang mau berduaan sama Dina khan?" tuduh Jihan.
"Ya Allah Gustii.. Ya sudah lah, kamu ikut saja daripada suudzon terus sama suami. Tapi ingat ..!! Jangan ikut kegiatan" Bang Rico mengingatkan istrinya itu.
"Oke.. Jihan ikut"
Bang Rico hanya tersenyum menggeleng melihat ekspresi Jihan.
...
Dina merasa kurang nyaman saat Bang Rico mengawasi anggotanya meskipun hanya dari jauh, apalagi Jihan selalu menempel di dekatnya tapi dirinya tidak bisa berbuat apapun karena Jihan adalah istri dari pimpinan di tempatnya mengikuti Diklat.
~
Bang Rico mencoba menghubungi Bang Vian namun tidak juniornya itu tidak kunjung menjawab panggilan telepon nya.
"Kemana perginya makhluk satu ini. Sulit sekali di hubungi" gumam Bang Rico.
__ADS_1
"Bukannya pergi sama Mbak Aira ya Bang? Mbak Aira saja tidak ikut kegiatan" ucap Jihan menjawab gumaman Bang Rico.
"Oyaa..!! mereka itu sekarang kemana-mana selalu berdua.. tapi selalu ribut saja" jawab Bang Rico namun sesaat kemudian raut wajahnya berubah.
Bang Rico menepuk dahinya.
"Owalaaahh.. Tokek..!! Mau ribut juga kalau laki dan perempuan sama-sama.. ujung-ujungnya ya ribut satu selimut"
"Mereka nggak bawa selimut Bang, hanya bawa tas saja" kata Jihan.
"Iisshh aahh.. diam saja kamu kalau nggak tau."
//
Bang Vian menyesap bibir Aira dalam-dalam. Di dalam mobil itu menjadi saksi apa yang sudah di lakukan Bang Vian dan Aira.
"Kamu menyesal?" tanya Bang Vian.
"Abang nikahi Aira khan?"
"Iya, pasti.." Bang Vian sungguh tidak tega melihat raut wajah Aira. Belum sampai 'melakukannya', Aira sudah begitu ketakutan.. apalagi kalau tadi dirinya tidak punya pertahanan diri, tapi karena dirinya sudah melihat sesuatu yang berharga milik Aira.. maka ia akan bertanggung jawab. Ia bukan tipe pria yang lari dari tanggung jawab.
"Sudah.. lupakan kejadian tadi. Yang tau apa adanya kamu hanya Abang dan hanya kamu juga yang tau diri Abang. Ingat dek.. jangan pernah kamu 'buka' dirimu di depan laki-laki lain.. atau Abang sendiri yang akan menghajar mu"
"Bilangnya ke Papa bagaimana Bang? Aira takut sama Papa.. juga Bang El kalau Aira sudah hamil" Aira mulai sesenggukan.
"Hamil dari mananya?? Abang belum nembak kok hamil, piye to kowe iki dek" Bang Vian pusing sendiri menenangkan Aira yang polos.
Waahh.. benar apa yang dikatakan El. Untuk apa Aira di sekolahkan setinggi langit kalau isi kepalanya hanya ada t*i udang. Jaman canggih begini tapi tidak tau apa-apa.
"Nggak mungkin.. kita sudah lihat-lihatan" kata Aira.
"Lihat aja kalau nggak bablas ya nggak mungkin jadi to deeek.. hiiiiihh"
"Aira yakin jadi Bang.. soalnya Aira........."
.
.
.
__ADS_1
.