Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
73. Rahasia.


__ADS_3

"Asyaaa..!!!" Bang Rico menyambar sesuatu di tangan Asya kemudian membuangnya jauh.


"Punya pikiran nggak kamu?? Kenapa minum obat itu lagi????????" bentak Bang Rico.


"Kenapa Abang selalu memarahi Asya kalau Asya mengkonsumsi obat itu?? Asya hanya ingin lupa segalanya" jawab Asya.


"Apa begini caranya menyelesaikan masalah???" bentak Bang Rico lagi.


"Lalu apa dengan bermesraan dengan wanita lain juga dapat menyelesaikan naffsu Abang yang tidak terkendali? Asya masih takut dan belum mampu melayani Abang.. Asya bukannya tidak mau.. Asya hanya minta waktu sebentar saja" kata Asya kemudian terisak.


"Pergilah Bang.. temui wanita itu..!! Mungkin dia lebih bisa menyelesaikan masalah Abang daripada Asya"


"Kamu lihat? Kamu meninggalkan Gazha sendirian di rumah? Teledor sekali kamu dek..!!" tegur Bang Rico.


"Apa Asya salah lagi?" tanya Asya kemudian masuk ke dalam kamar.


Bang Rico terdiam sejenak, ia semakin pusing dengan keadaan ini.


"Dek.. kita bicara baik-baik..!!" ajak Bang Rico.


"Sejak awal Abang yang tidak ingin kita bicara baik-baik." jawab Asya kemudian membereskan pakaiannya.


"Mau kemana kamu? Ini tengah malam" Bang Rico mencegah Asya untuk pergi dari rumah.


"Asya memberi Abang kesempatan untuk bisa dekat dengan perempuan lain.. yang lebih bisa menyenangkan Abang" jawaban Asya cukup melukai hati Bang Rico.


"Kamu pikir Abang ini laki-laki seperti apa??? Kalau memang Abang sebejad itu, saat ini Abang tidak akan ada di rumah ini. Abang lebih milih menginap di hotel bersama perempuan itu." Ucap Bang Rico bernada tinggi.


"Abang tidak minta kamu mengerti perasaan Abang, tapi ada hal yang harus kamu sadari.. laki-laki kadang tidak berlogika jika sudah menyangkut urusan bawah pusar. Tapi itu bukan berarti Abang hilang akal dan tidak mengingat ada istri yang menunggu di rumah"


Asya pun duduk diam masih menyimpan sisa rasa kesal dalam hati.


Bang Rico berjongkok di hadapan Asya dan memegang kedua tangannya.


"Abang minta maaf..!! Abang sadar kalau Abang yang keterlaluan"


"Asya benci pakaian itu. Beraninya dia pegang-pegang Abang dan Abang nggak menolak. Kalau Asya yang di pegang pria lain.. Apa Abang bisa terima???" pekik Asya kesal.


Bang Rico terus menunduk penuh sesal.


"Iya.. Abang salah"


"Pergilah..!! Mandi kembang yang banyak.. Asya nggak mau ada sisa perempuan lain di tubuh Abang..!!" kata Asya tak main-main.


"Iya.. Abang mandi sekarang, jangan marah lagi dek" bujuk Bang Rico.

__ADS_1


:


Bang Rico langsung duduk mengaji usai sholat. Tatapan mata Asya yang begitu marah.. membuat batinnya ciut seketika.


"Kalau bagian seperti ini saja langsung mengaji.. kemarin kemana aja Bang??" cibir Asya kemudian memilih tidur.


Bang Rico tetap meneruskan mengajinya tanpa menjawab apapun karena khawatir Asya akan kembali tersulut emosi.


...


"Lemes amat bro" sapa Bang Pandu yang sebenarnya juga lemas.


"Lah Abang sendiri kenapa?" tanya Bang Rico.


Bang Pandu menghela nafasnya kemudian mereka saling menatap dan membuang nafas masing-masing.


"Ijinin Abang bulan madu donk..!!" kata Bang Pandu.


"Haaahh.. nggak bisa Bang. Kita sedang banyak kegiatan.. belum lagi Fasya mau ujian tujuh bulan lagi" tolak Bang Rico.


"Cckk.. stress Abang Ric. Kapan nih bisa punya anak" Bang Pandu bersandar pada tiang lapangan bola di Batalyon.


"Sabar Bang.. saya saja kuat tiga belas bulan 'nganggur'" jawab Bang Rico.


"Itu bukan kuat Ric, setengah mati nahan sampai mau mati"


"Astaga Ric.. hati-hati kamu kalau sudah menyangkut urusan ranjang. Bisa panjang urusannya."


"Ya itu Bang.. Saya berharap segalanya nggak terus berlarut larut. Ngenes saya Bang mikirnya " kata Bang Rico.


***


Bang Pandu datang ke rumah Bang Rico saat hujan lebat malam itu. Disana Asya sudah tertidur lelap dan hanya Bang Rico terjaga dan bermain bersama Gazha.


"Innalilahi.. Bang..!! Hujan lebat begini kenapa bisa sampai sini?? Abang jalan kaki atau naik motor??" tanya Bang Rico karena tidak mendengar ada suara motor di depan rumahnya.


"Jalan kaki Ric. Kalau naik motor.. ketahuan donk kalau Abang kabur dari mess" jawab Bang Pandu.


"Ya Tuhan.. cepat masuk Bang..!! Saya ambilkan handuk sama baju." kata Bang Rico.


"Nggak usah, Abang bawa baju"


Bang Rico melongok melihat bawaan Bang Pandu seperti orang datang dari ngebegal.


"Ya sudah cepat masuk..!! Nanti kalau ada yang patroli repot jawabnya"

__ADS_1


:


Kamar Fasya tepat di samping kamar Bang Rico. Disana Bang Pandu hanya mondar-mandir saja di depan kamar dan tidak berani masuk.


"Masuk saja Bang. Sudah sah juga" kata Bang Rico yang melihat Bang Pandu ragu-ragu.


"Abang takut Fasya kaget. Lagipula.. Abang nggak ada persiapan matang Ric. Masa maju cuma bawa senjata tanpa isi. Gengsi lah" jawab Bang Pandu.


"Sini Bang. Saya ada 'peluru', di jamin bagus. Saya ikhtiar minum ini.. akhirnya dapat si Gazha Bang"


"Pahit nggak nih.. Abang nggak biasa minum macam beginian" tanya Bang Pandu.


"Yang penting hasilnya Bang. Enak di kita.. enak di istri" jawab Bang Rico.


~


"Teguk saja Bang.. jangan urus rasanya" Bang Rico pun mengajari Bang Pandu cara meminum obat yang ia beli dari luar negeri. Ucap random para suami membahas masalah ranjang membuat Bang Rico lupa telah meminum obat pemicu stamina pria.


"Oke.. Abang minum. Meskipun pahit, Abang akan coba demi Fasya" Bang Pandu pun meneguknya.


Kedua pria melas itu terus meneguk minumannya meskipun rasanya begitu pahit.


"Jangan lupa pengaman Bang.. sabar sampai Fasya lulus" kata Bang Rico mengingatkan.


"Bereeesss.. Abang sudah bawa pengaman" Bang Pandu mengambil benda dari saku celananya lalu memamerkan pada Bang Rico.


"Waaaahh.. luar biasa, memang niat belah duren nih Abang" Ledek Bang Rico.


Kedua pria mesum itu tertawa terkikik apalagi Bang Rico yang tak menyadari ulah ya sendiri.


Tak lama tawa Bang Rico hilang. Ia merasakan ada yang tidak beres pada tubuhnya.


"Ini kenapa rasanya badanku jadi panas ya Bang. Tegang semua" kata Bang Rico.


"Apa mungkin ini efeknya Ric?" tanya Bang Pandu belum paham.


"Efek??" Bang Rico pun bingung.


"Lailaha Illallah.. kenapa saya tadi juga minum Bang???? Kalau nggak selesai.. habis aku Bang" Bang Rico mencari penawar obat di laci lemari hiasnya.


"Aduuhh.. kemana lagi itu obat" gumamnya resah.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2