
Siapa yang berani mengirim potongan kepala kera seperti ini???.
Bang Rico tak menggubris lagi potongan bangkai tersebut. Ia lebih mencemaskan Jihan yang sedang dalam keadaan syok berat. Badannya kaku dan dingin, tangannya mengepal kuat, bibirnya terkatup rapat. Ia menyambar HT sembari menolong Jihan.
"Pos depan.. siapa tadi yang mengirimkan paket untuk saya??" tanya Bang Rico.
"Siap.. ijin komandan, ada kurir yang mengantar" jawab seorang anggota.
"Kalau kalian tau dia dari ekspedisi mana.. tolong kejar dan tanyakan. Ada yang mengirim bangkai ke rumah saya.. sekarang istri saya syok dan belum sadar" perintah Bang Rico.c
Informasi itu langsung tersiar di group kompi dan Bang Vian juga membaca berita tersebut.
//
"Jadi tadi yang kita dengar memang suara teriakan. Teriakan Jihan. Ada yang kirim paket gelap" kata Bang Vian.
"Terus bagaimana Bang?" tanya Aira.
"Kamu di rumah dan jangan kemana-mana. Di luar bahaya. Abang mau lihat situasi di luar" jawab Bang Vian.
"Tapi Abang belum sehat" kata Aira.
"Abang pasti baik-baik saja. Kalau pimpinan tidak ada yang ambil alih, bisa kacau kompi ini dek"
Aira pun mengerti dan menurut meskipun hatinya sedang ketakutan.
...
Bang Vian mondar-mandir memikirkan siapa kiranya yang telah mengirimkan bangkai ke rumah Danki mereka.
"Vian.. tolong handle kompi..!! Abang mau antar Jihan ke rumah sakit. Titip Gazha juga, jangan bilang kalau Bang bawa mamanya ke rumah sakit..!!" perintah Bang Rico.
"Siap Abang..!! Semoga Jihan nggak apa-apa" kata Bang Vian saat melihat kening Jihan berdarah hingga mengenai pakaian.
"Aamiin..!! Abang cemas sekali sama kandungannya.. tadi jatuh di lantai keras sekali" Bang Rico tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.
__ADS_1
"Iya Bang..!! Hati-hati di jalan. Kami siaga disini" jawab Bang Vian.
...
Tangan Jihan masih begitu dingin saat Bang Rico menggenggam nya. Perlahan mata Jihan terbuka, ia mulai sadar dari pingsannya.
"Alhamdulillah dek. Bagaimana rasanya? Apa yang masih terasa sakit?" tanya Bang Rico cemas.
"Kepala Jihan sakit Bang, perut Jihan juga sakit sekali" jawab Jihan berusaha menahan sakitnya.
"Jangan di tahan dek. Kalau memang sakit sekali.. nggak apa-apa kamu remas tangan Abang." kata Bang Rico mengalihkan pikiran Jihan padahal sejak tadi Jihan meremas tangannya.
"Apa 'dia' akan baik-baik saja Bang? kenapa rasanya sakit sekali. Sangat sakit" Jihan terus saja merintih hingga membuat hati Bang Rico terasa nyeri.
"Iya dek, anak kita pasti baik-baik saja. Dia kuat seperti mamanya" jawab Bang Rico padahal ia tau benturan tadi sangatlah beresiko bagi kandungan Jihan.
//
Sesaat setelah dokter menyuntikkan obat agar Jihan bisa kembali beristirahat, Bang Rico menemui dokter di ruangan. Sungguh hati Bang Rico bagai tersayat mendengar penjelasan dari dokter.
"Istilahnya, 'bayimu' ini harus terus di beri obat penguat agar tidak 'jatuh', benturan tadi cukup beresiko dan mengguncang Jihan. Kedua lutut yang bertumpu dengan keras.. itu sudah cukup alasan lemahnya kandungan Jihan. Untuk sementara, jangan membuatnya terlalu banyak berpikir dan jangan.. menyentuhnya dulu" kata dokter.
Melihat ada panggilan telepon dari Vian.. Bang Rico langsung berpamitan dengan dokter.
"Ijin.. saya pamit dulu Bang"
~
"Apa benar itu Vian?? Kamu yakin Ibu saya yang mengirim paket itu?????" tanya Bang Rico tidak percaya.
"Siap Bang.. Ibu Diana dan seorang wanita bernama Alisa" jawab Bang Vian.
"Astagfirullah hal adzim ibu" Bang Rico terduduk lemas di kursi tunggu rumah sakit. Dengan kata lain ibunya sedang berada disana. Dulu karena ibu dan Selena.. Asya sampai mengalami hal buruk. Kini ibunya membawa Alisa.. sepupu dari keluarga ibunya.
Beban mental Bang Rico semakin bertambah apalagi saat melihat Jihan terbaring tak berdaya seperti ini. Sesekali Jihan merintih dan masih ketakutan. Ia tau di balik tingkahnya yang berani.. Jihan adalah sosok yang polos dan lembut hati.
__ADS_1
"Bang.. Abang..!! Masih disana Bang?" sapa Bang Vian.
"Iya Vi.. Oiya.. Abang minta tolong kirimkan enam orang untuk berjaga di sekitar kamar istri. Aplos pertengah hari sampai istri Abang boleh pulang" perintah Bang Rico.
"Siap Abang..!! Ijin.. apa ada sesuatu yang mencurigakan atau bahaya?" tanya Bang Vian.
"Iya Vi.. lain kali Abang cerita. Sekarang tolong kirim tiga remaja untuk berjaga..!!" perintah Bang Rico lagi.
"Siap..!!"
Baru saja Bang Rico memegang handle pintu dan hendak masuk ke kamar Jihan, ada tangan yang menyentuh nya.
"Haii mas. Apa kabar?" sapa seorang wanita.
"Alisa?"
"Iya mas.. Ternyata mas masih ingat sama aku. Apa ini yang di namakan ikatan batin?" tanya Alisa.
"Jangan mengada-ada kamu Alisa. Darimana kamu tau saya ada disini?"
"Ibu sama Alisa mengikuti Abang" jawab jujur Alisa.
"Untuk apa?? Kamu juga khan sudah mengirim kepala kera itu ke rumah saya?" tanya Bang Rico.
"Mama yang kirim. Kamu selalu menikah tanpa restu dari Mama. Mama nggak suka sama Jihan. Dia terlalu anak-anak. Sama seperti Asya. Kapan kamu akan kembali pada lingkungan mu?? Di sini bukan tempatmu" kata Mama Diana.
"Ini duniaku ma. Aku tidak akan pernah kembali pada dunia lamaku" jawab Bang Rico.
"Dulu kamu menolak Selena. Sekarang ada Alisa.. apa akan kamu tolak juga demi gadis ingusan itu Rico???" tanya Mama Diana.
Bang Rico menatap tajam mata Mamanya. Hatinya sakit mengingat hidupnya dengan Asya dulu. Kini ia amat sangat menyayangi Jihan dan tidak ingin istrinya itu akan mengalami hal yang sama dengan Asya.
.
.
__ADS_1
.
.