Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
119. Ada sayang di hatiku.


__ADS_3

tok..tok..tok..


"Masuk..!!" jawab Bang Rico dari dalam ruangannya.


"Permisi pelatih" Dina melangkah masuk.


"Iya.. ada apa Dina?" tanya Bang Rico karena sebenarnya tidak ada kepentingan apapun disana.


"Ijin pelatih.. bisakah saya juga dapat perlakuan khusus? Saya bisa juga menemani pelatih seperti Jihan" jawab Dina.


Mata Bang Rico langsung melotot.


"Apa maksudmu?"


"Bukannya Jihan tadi ke ruangan ini untuk menemani pelatih? Saya sudah tau semua dan saya sudah merekamnya" ucap Dina dengan wajah penuh kemenangan.


"Sebenarnya kamu mau apa?" tanya Bang Rico sedikit cemas.


"Saya hanya mau di perhatikan dan tidak ingin ikut dalam kegiatan ini" jawab Dina.


"Kegiatan ini tidak sulit Dina. Kamu disini untuk di latih, bukan untuk di siksa" Bang Rico gemas dengan permintaan Dina.


"Iya, tapi saya nggak mau. Sudahlah Pak, asalkan saya nggak kerja berat.. saya akan menurut seperti Jihan" kata Dina kemudian mendekati Bang Rico.


"Berhenti disitu..!! Jangan pernah kamu hina Jihan." suara Bang Rico memekakkan telinga seisi ruangan.


"Kembali ke tempatmu dan jangan pernah bahas hal ini lagi..!!!"


"Apa karena Jihan cantik?" tanya Dina tidak terima.


"Jelas dia sangat cantik. Dia mamanya anak-anak saya"


Bibir Dina ternganga, wajahnya merah bagai udang rebus.


"Silakan keluar, jangan sampai istri saya mengamuk dan menangani kamu sendiri"


Tanpa kata, Dina keluar dari ruangan dan segera menuju mess. Jantungnya seakan mau lepas.


~


Jihan kembali berjalan ke ruangan Bang Rico sambil membawa makan siang untuk suaminya itu. Seperti biasa ia akan menyuapi Bang Rico yang kadang lupa waktu makan.


Dina dari ruangan Abang? Ada apa ya??


Jihan berjalan cepat dan membuka pintu ruang kerja Bang Rico dan tepat saat membuka pintu, Bang Rico sedang membenahi celananya.

__ADS_1


"Ada apa Abang sama Dina di ruangan ini??"


Aseeemm.. ngamuknya sama aku khan, dasar Dina kurang ajar.


"Nggak ada dek, cuma tanya saja kenapa kita berdua saja" jawab Bang Rico setenang mungkin.


"Kenapa pintu di kunci?" wajah Jihan sudah tidak bersahabat.


"Abang duduk disini, dia disana. Hanya sebentar saja bicaranya. Buktinya dalam waktu lima belas menit.. kamu sudah kembali lagi" Bang Rico terus mencoba mendinginkan hati Jihan.


"Terus kenapa kancing celana Abang lepas?????" tanya Jihan dengan nada marah, matanya membulat dan kesal.


"Ya Allah Gustii.. piye to dek. Ini khan gara-gara kamu tariknya kencang." Bang Rico menggeleng gemas.


"Abang juga lihat donk.. ini kancing baju Jihan juga lepas gara-gara Abang" tunjuk Jihan pada kancing bajunya.


"Iyaa maaf, kamu juga perkaranya ganggu Abang. Kamu berani sekali ngerjain pelatih. Nggak takut kena hukuman??" Bang Rico mencubit gemas dagu Jihan.


"Boleh saja, asal hukumannya seperti tadi" jawab Jihan tersenyum malu.


"Idiiiihh.. maunya Bu Rico. Kemarin saja nolak sampai ngambek. Sudah minta denda.. masih mau minta aneh-aneh" goda Bang Rico.


"Ya sudah.. Jihan malas aahh sama Abang"


Jihan melenggang pergi tapi Bang Rico menangkapnya bagai adegan film ind*a.


"Kamu nggak perlu takut.. apa yang kamu minta, pasti akan Abang kabulkan semampu Abang. Tapi ada syaratnya"


"Kok pakai syarat?"


"Abang minta anak perempuan............" pinta Bang Rico, belum juga dirinya selesai bicara.. Tiba-tiba wajah Jihan berubah menjadi mendung, ia melepas pelukan Bang Rico dan berlari keluar.


"Dek.. Jihaaaan..!!!!!!" Bang Rico pun berlari keluar mengikuti Jihan.


"Kenapa Bang?" Bang Vian bingung karena melihat Jihan berlari kencang.


"Handle semua..!! Abang ada urusan..!!" jawab Bang Rico.


Baru saja Bang Vian berjalan menuju ruangannya sendiri, terdengar suara keributan dari arah lapangan.


"Ada apa lagi sih??? Perasaan daritadi peserta Diklatnya ribut melulu dah" gerutu Bang Vian.


...


"Squat jam kalian berdua..!!!!!!!" perintah Bang Vian pada Aira dan Dina.

__ADS_1


"Perempuan macam apa kalian berdua ini, kenapa bisa sampai ribut??"


"Siap salah pelatih.. Dina duluan" jawab Aira sambil menyeka hidungnya yang berdarah.


Merasa darah tak kunjung mengucur dari hidung Aira, Bang Vian sedikit mendekap Aira kemudian memiting kepala Aira.


"Di sumpal dulu dek.. bukan di usap saja..!!" dengan sabar Bang Vian menolong Aira.


Pemandangan itu semakin membuat Dina gerah saja.


"Maaf Pak Vian.. apa Aira ini istri bapak? Karena tadi ternyata.. Jihan adalah istri Pak Rico" tanya Dina penasaran.


"Iya, sekarang cepat kembali ke tempatmu dan jangan mengulang kesalahan yang sama.. atau kamu saya kembalikan di tempat pendidikan mu sekarang juga..!!" ancam Bang Vian.


Akhirnya Dina memilih pergi dan tidak melanjutkan semua keributan ini daripada ia harus celaka sendiri.


...


Bang Rico terengah-engah mencari Jihan, ia sangat cepat karena Jihan terus berlari kencang.


Kenapa kamu semarah itu dek.. Abang belum selesai bicara.


Kakinya kembali berjalan mencari keberadaan Jihan sampai ia melihat Jihan duduk di atas ayunan taman di samping kolam ikan. Bang Rico segera menghampiri Jihan dan ikut duduk di ayunan tersebut meskipun kedua kakinya harus menapak karena itu adalah ayunan anak-anak.


"Kenapa pergi.. Abang belum selesai bicara" kata Bang Rico yang kini duduk berhadapan dengan Jihan.


"Abang turun aahh.. sempit" usir ketus Jihan.


"Itu yang Abang cari" jawab Bang Rico santai.


"Abang kira bagus tanya begitu. Bagaimana kalau ternyata anak ini laki-laki????" tanya Jihan.


"Abang nikahi kamu baik-baik, kalau ternyata Abang dapat anak laki-laki lagi ya... Abang tanam saham lagi. Nggak susah kok" Bang Rico mengambil rokoknya tapi Jihan melarangnya.


"Kalau ada Jihan.. menjauh lah sedikit. Pengen anak kita sehat khan?"


Bang Rico kembali memasukan rokoknya.


"Siap Bu..!!"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2