Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
59. Untuk sebuah perjuangan.


__ADS_3

Papa Wira bersandar mendengar ucapan Pak Ustadz tentang putrinya Nafa. Disana ada Mama Dinda juga Om Acep.


"Kami harus mengeluarkan putri bapak Sendu Nafasya Lembah Arumdalu. Karena Fasya.. sudah berzina.. melanggar aturan di pesantren ini. Jadi saya.. kami semua ini memutuskan untuk mengembalikan Fasya pada pemiliknya." kata Pak Uztadz.


"Nafa nggak berzina Pa. Ini salah paham" Nafa membela diri.


"Dalam pesantren ini.. berduaan, bahkan sampai berpelukan antara laki-laki dan perempuan.. itu sama saja dengan berzina." Jawab Pak Ustadz.


"Saya salah, tapi demi Allah saya tidak berbuat apapun sama Nafa.. maaf.. maksud saya Fasya" jawab Om Acep.


"Sesuai perjanjian dan peraturan yang ada. Fasya harus menikah.. atau di hukum sesuai peraturan pesantren. Maaf, saat di temukan, Fasya membuka jilbab dan ada satu ruangan kecil bersama Pak Acep"


Papa Wira sudah hampir pingsan mendengarnya. Bagaimana pun juga ia akan melindungi putri kesayangannya.


"Nikahkan saja..!!" ucap Papa Wira.


"Papaa..!!" Mama Dinda menggoyang lengan Papa Wira.


"Nikahkan..!! Saya yang tanggung resikonya." ucap Papa Wira dengan tegas.


"Setelah ini.. kembalilah kamu pada sekolahmu dan baik-baik jalani hidupmu di luar sana" pesan Papa Wira.


...


"Papaaaaa.. Papaaaaaaaaa... Nafa nggak mau nikah pa, Nafa masih mau sekolah" teriak Nafa.


"Papa tau sayang. Ini untuk menyelamatkan harga dirimu. Kalau Papa memaksa membawamu keluar.. itu tidak baik nak. Papa menitipkan kamu di sini baik-baik dan Papa juga akan membawamu baik-baik. Papa harap sudah ada bekal untuk mu menjalani hidup."


"Nafa sudah mengerti Pa. Nafa nggak akan berbuat hal bodoh lagi." kata Nafa sesenggukan.


"Acep.. kamu siap menjalani apa yang seperti saya katakan tadi? Dengan semua konsekuensi yang harus kamu tanggung?" tanya Papa Wira pada Om Acep.


"Insya Allah saya siap Pak" jawab Om Acep.


...


Nafa berjalan berat meninggalkan pesantren. Disana Om Acep selalu menggandeng tangan Nafa.


"Maafin Abang ya dek"


Nafa menunduk, sesekali masih mengusap air matanya.


"Iya Bang, nggak apa-apa. Nafa ikhlas" jawab Nafa.


:

__ADS_1


Di dalam mobil, Bang Acep memercing kesakitan. Ia memegangi perutnya yang tergores pisau karena melerai dua orang bocah tanggung yang sedang berkelahi.


"Kita ke rumah sakit ya Bang..!!" ajak Nafa.


Bang Acep tersenyum kemudian mengusap dagu Nafa.


"Apapun mau mu dek" jawab Bang Acep kemudian membetulkan jilbab Nafa.


"Abang berterima kasih karena jilbabmu menyelamatkan nyawa Abang.. dan karena jilbab ini.. kita di persatukan. Abang memang bukan pria yang sempurna, tapi Abang akan berusaha keras untuk membuatmu bahagia. Mudah-mudahan kamu tidak malu punya suami hanya berpangkat tamtama"


Nafa tersenyum kecil.


"Pangkat tidak di bawa mati Bang. Nafa bahagia dengan apa adanya Abang. Jangan berkecil hati, Nafa yang menikah dengan Abang.. bukan Papa" Jawab Nafa.


Papa Wira hanya bisa menghela nafas panjang sambil menyetir mobil.


"Mungkin baru kali ini dalam sejarah, perwira menyupiri tamtama." tegur sayang Papa Wira pada menantunya.


"Siap salah Komandan" jawab Bang Acep.


~"~"~


"Enak juga ya dek mendoan nya?" tanya Bang Rico.


"Ya makan lagi donk. Tambah lagi dek.. untuk persiapan tempat bobok nya si kecil" kata Bang Rico sambil menggoda Asya.


Asya mengangguk dan terus mengunyah tempe mendoan yang tersisa sedangkan Bang Rico menyudahi acara makannya dan memilih merokok sambil memantau info di ponselnya karena dirinya tidak begitu hobby ngemil seperti Asya.


"Bang.. bothok tawonnya ada khan?" tanya Asya.


"Masih di carikan. Kalau nggak persiapan mana bisa dapat cepat dek.. memangnya sulapan?" jawab Bang Rico.


"Kok Abang marah?? Asya khan cuma tanya" kata Asya yang mulai menitikan air mata.


"Ya Tuhankuuu.. ada apa kamu ini, sebentar senang sebentar nangis" Bang Rico menghapus air mata Asya.


"Sebentar ya, Abang mau pastikan lagi biar kalau tawonnya sudah ready.. Abang minta tolong bibinya Netta buat masak bothoknya"


Akhirnya Asya sedikit tenang. Bang Rico mengecup kening Asya dengan lembut.


Kamu kenapa sayang? Apa kamu tergantung dengan obat itu lagi? Tapi Abang sudah pastikan kalau nggak ada barang setan itu lagi di rumah kita. Lantas apa?? Kenapa kamu begini?.


...


Bang Rico terburu-buru kembali ke Batalyon karena sebenarnya acara untuk persiapan terjun itu belum usai.

__ADS_1


"Kenapa baru datang?" tegur Bang Winata.


"Asya rewel banget Bang.. melebihi rewelnya Lingga." jawab Bang Rico.


"Beri pengertian donk Ric, terjun payung itu dari ketinggian.. nggak loncat dari pohon toge" tegur keras Bang Rico pada adiknya sekali lagi. Sejak tau Bang Rico adalah adiknya.. Bang Winata sedikit lebih memperhatikan adiknya itu.


"Siap salah Bang..!!"


"Sudah.. ini tadi juga karena Asya lagi pengen bothok tawon. Dia jadi sedikit mengulur waktu. Jangan di bahas lagi..!! Ayo mulai persiapannya. Lagian Asya suka kok. Yang penting para istri sehat.. adem ayem juga hati kita" kata Bang Yudha menengahi.


-_-_-_-_-_-


Sekitar jam sembilan malam Bang Rico pulang dari kantor dan melihat Asya sedang makan dengan lahapnya dan tidak seperti biasanya Asya tidak menunggunya untuk makan malam.


"Lapar ya?" Bang Rico mengusap rambut panjang Asya.


Asya mengangguk merasa tidak enak.


"Nggak apa-apa. Abang malah senang kalau kamu makan lahap begini. Kalau kamu tunggu Abang pulang, kadang bisa pulang lebih malam lagi."


Bang Rico sedikit mengeryit melihat Asya makan bothok tawon dengan selera yang cukup tinggi.


"Enak ya?" tanya Bang Rico.


"Enak kok Bang. Abang mau coba?" tanya Asya.


"Nggak, Abang nggak begitu suka. Kamu masak nggak dek?" tanya Bang Rico lagi.


"Masak.. itu masak air panas buat Abang mandi" jawab Asya dengan lugunya.


"Yawes, Abang mau beli nasi goreng. Kamu mau?" Bang Rico menawari Asya tanpa berdebat.


"Mau.."


Bang Rico menggeleng dengan senyum tampannya.


"Perut tipis begitu tapi muat beban satu ransel. Luar biasa" gumam Bang Rico sambil meminta anak buahnya membelikan dua bungkus nasi goreng via ponselnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2