Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
105. SP 2. 8. Terserah padamu.


__ADS_3

"Jihan khan cuma tanya pa."


"Pertanyaan mu itu.. haduuuuhh.. mau pecah kepala Papa mikirnya" Papa Garin mengusap wajahnya dengan gusar.


"Kamu keluar Jihan. Papa mau bicara berdua sama Bang Rico..!!"


Akhirnya Jihan pun melangkah keluar.


"Ndhuk.. nggak ada seorang ayah yang ingin menjerumuskan anak-anaknya. Percayalah semua ini karena Papa sayang kamu" kata Papa Garin menghentikan langkah Jihan.


"Iya Pa." Jihan pun keluar.


...


Bang Rico melepas peci di kepala. Ia mengusap wajahnya. Air mata berlinang membasahi pipi. Dadanya terasa begitu sesak dan sangat sesak.


"Alhamdulillah.. " ucap syukur terlepas dari bibirnya. Sembab masih terlihat di wajahnya. Tubuhnya terasa lemas.


"Sholat dulu broo..!!" ajak Bang Yudha kemudian mengarahkan Bang Rico memakai pecinya lagi.


"Kamu itu benar-benar yakin khan?"


"Insya Allah yakin lahir batin. Jihan juga sudah dengar sendiri" kata Bang Rico.


Bang Yudha menepuk bahu Bang Rico.


...


"Kamu bawa barang apa saja? Gabung disini.. biar nanti anggota Abang yang ambil ke rumah kost mu"


"Sedikit kok Bang.." jawab Jihan.


"Duduk disini.. Abang mau bicara..!!" ajak Bang Rico, ia menepuk sofa di sampingnya.


Jihan duduk di samping Bang Rico.


"Maaf.. Abang jadi melibatkan mu dalam masalah Abang........"


"Jihan tau.. Abang sangat mencemaskan tumbuh kembang Gazha, Abang meminta Jihan ada disini juga demi Gazha. Tenang saja Bang, Jihan mengerti.. Jihan ikhlas melakukan semua ini demi Gazha." ucap Jihan begitu tulus.


"Terima kasih banyak Jihan. Abang hutang budi sama kamu" kata Bang Rico.


Jihan tersenyum getir kemudian menarik nafas. Senyum itu berubah menjadi keceriaan.


"Jihan anggap ini hutang yang besar. Bayar ya Bang..!!"


"Apapun yang kamu minta, akan Abang kabulkan" jawab Bang Rico sungguh-sungguh.


"Hmm.. maukah kamu menemui mamanya Gazha?"


"Oke Bang" jawab Jihan tetap tersenyum manis.


...

__ADS_1


Bang Rico mengusap nama indah di pusara almarhumah Asya. Tak ada yang tau bagaimana usaha Bang Rico menyembunyikan sakitnya perasaan di balik kacamata hitamnya.


Sayang.. Abang kenalkan Jihan di hadapanmu. Jangan marah ya dek.. Abang mohon ijin membawanya. Kamu tidak marah khan kalau putramu sangat dekat dengan Jihan? Sayang.. tidak pernah ada niat Abang untuk menggantikan posisimu di hati Abang.. tapi hidup ini harus terus berjalan. Namamu akan tetap ada di lubuk hati Abang yang terdalam.


Sayang.. maaf tidak akan Abang sebut lagi namamu dalam lisan, biar dalam do'a saja Abang mengungkapkan sayang padamu. Kamu tetap bidadari pertama di hati Abang.. tentunya yang terindah. Kini ikhlaskan Abang menjaga bidadari yang terakhir.. yang Insya Allah akan Abang niatkan ibadah di dunia hingga akhirat nanti. Mudah-mudahan Abang sanggup membawa kalian berdua hingga surgaNya.


Disana.. Jihan juga menahan perasaannya, tak terbayang ia bisa menyentuh pusara seorang wanita hebat.. wanita yang sudah melahirkan putra yang telah mempertemukan dirinya dengan pria yang begitu luar biasa.


Mbak Asya.. Jihan tak tau apakah keputusan ini benar atau salah.. tapi Jihan menerima Abang hanya demi Gazha mu, tapi.. jika mungkin nanti ada rasa yang tidak kuasa Jihan tolak.. Jihan mohon maaf ya mbak.


Badan Jihan gemetar, ia sampai menyangga tubuhnya berpegangan pada makam Asya.


"Kamu nggak apa-apa dek?" refleks Bang Rico menahan tubuh Jihan karena panik.


"Nggak apa-apa Bang" Jihan menolak tangan Bang Rico dan Ayah Gazha pun bisa mengerti.


"Ayo pulang saja. Kamu sudah kelihatan capek" ajak Bang Rico yang membuka jalan agar Jihan berjalan di hadapannya lebih dulu.


***


Mata Bang Rico melotot melihat banyaknya barang Jihan.


"Katamu hanya sedikit, ini malah melebihi banyaknya barang Abang" protes Bang Rico.


"Memangnya kenapa sih Bang. Ini khan barang perempuan." jawab Jihan.


"Kamu bawa apa saja sih dek?" tanya Bang Rico.


"Ini kebutuhan Gazha. Susu, camilan, barang dapur, kebutuhan rumah tangga" jawab Jihan.


"Ada Bang, tapi Jihan nggak mau Gazha sampai kesulitan adaptasi karena nggak ada makanan yang dia suka, kalau ada bahan khan minimal Jihan bisa buat" ucap Jihan yakin.


"Kamu bisa masak?" tanya Bang Rico dengan wajah takjub.


"Nggak" jawab Jihan singkat, padat dan jelas.


...


"Jihan.. begitu kamu sudah menginjakan kaki di Kalimantan.. kamu sudah milik Rico. Papa dan Mama sudah angkat tangan karena ini keputusanmu. Bahkan sejak satu bulan yang lalu.. kamu sudah menjadi hak nya Abang Rico." kata Mama Esa mengingatkan Jihan.


Yaa.. Jihan sudah paham kalau harus menjadi pengasuh bahkan budak Bang Rico sekalipun.


"Jihan paham Ma.. Pa.. ini memang sudah menjadi keputusan Jihan" jawab Jihan dengan tegar.


"Ya sudah, bersiaplah.. Bang Rico mau jemput" kata Papa Garin mulai belajar mengikhlaskan putrinya.


...


Jihan menginjakan kaki di asrama tempat tinggal Bang Rico. Ia menarik nafas dalam lalu berusaha tersenyum.


"Abang pastikan di rumah baru nanti, tidak akan ada foto Asya" ucap Bang Rico saat Jihan menatap foto Asya cukup lama.


"Tidak apa kalau Abang mau memajang foto Mbak Asya. Jangan menghilangkan cerita bahwa Mbak Asya adalah ibunya Gazha." Jawab Jihan.

__ADS_1


Bang Rico pun tersenyum, tapi ia pahami.. hati wanita tidak seluas dan selapang ucapannya.


Mana tega Abang menyakiti hati wanita yang sudah bersedia menyisakan waktu dan tenaga bahkan merelakan dirinya untuk menjaga Anak semata wayang Abang. Tak tau bagaimana Abang harus membalas kebaikanmu.


"Cepat istirahat.. besok pagi kita berangkat..!!" Bang Rico mengalihkan pembicaraan.


***


Mama Esa sudah bisa lebih tegar melepas putrinya tapi tidak dengan Papa Garin.


"Jangan nangis. Bulu matamu rusak" kata Papa Garin tak kuasa menahan tangis.


"Iya Pa, Jihan nggak apa-apa kok. Kalau bulu mata Jihan rusak.. tinggal minta ganti sama Abang" jawab Jihan memeluk Papa Garin tapi ia masih sempat melihat wajahnya dari kaca kecil, benar saja.. bulu mata Jihan sudah terbuka.


"Aaaaaaaaa" pekik Jihan mengagetkan semua tak terkecuali Bang Rico.


Bang Rico refleks berlari menghampiri Jihan.


"Ya ampun.. ada apa dek. Kenapa teriak begitu?" tanya Bang Rico panik.


"Ambilkan tas kecil Jihan Bang..!!!!" Jihan menutup mata. Bang Rico menarik Jihan dan mengarahkan untuk duduk. Kepanikan itu juga mengagetkan Dan Garin dan Papa Jihan itu sampai menghubungi bagian dinas kesehatan di bandara.


~


"Astagfirullah, kenapa ini ubur-ubur kamu taruh sembarangan di tas????" bisik Bang Rico dan langsung memasukan sesuatu ke dalam kantong celana seragam sebelah kanan saat menemukan benda tak lazim dari tas Jihan.


"Yang mana dek?? warna apa?" tanya Bang Rico yang sudah membongkar tas Jihan. Sekali lagi ia menemukan benda yang membuat pikirannya menerawang kemudian memasukan benda tersebut ke kantong celana sebelah kiri.


"Lain kali jangan letakan bungkus nagasari di tas. Ngawur kamu ini..!!" tegur Bang Rico lagi.


"Cepat Bang, keburu pesawatnya datang" kata Jihan.


Tak lama Gazha datang dan mengambil sesuatu dari tas itu.


"Ini yah, mata Mama Jihan mau lepas" ucapnya tak lagi memanggil Jihan dengan panggilan 'Tante Jihan'.


"Haaahh.. lem bulu mata???" tanya Bang Rico bingung. Gazha tertawa melihat ekspresi wajah Ayahnya.


"Iiihh Abang..!! Cepat pakaikan. Jihan malu kalau bulu matanya lepas." jawab Jihan.


"Ya Tuhan.. kenapa nggak bilang dari tadi sih dek" mau tidak mau Bang Rico berdiri di depan Jihan sambil membuka kaki, badannya sedikit membungkuk dan dengan telaten memperbaiki bulu mata dan make up Jihan. Tanpa di sadari.. posisi seperti ini membuatnya jadi tak karuan.


Papa Garin sampai melongo melihat pemandangan itu. Tak lama ada yang menegurnya.


"Ijin Komandan.. siapa yang sakit" tanya seorang petugas kesehatan.


Mendengar itu, Papa Garin sempat kelabakan.. tapi bukan Papa Garin namanya jika tidak bisa ngeles.


"Aduuuhh.. perut saya yang sakit" ucapnya sambil memegangi perutnya daripada ia malu karena sudah salah sangka mengira Jihan sakit.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2