Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
44. Terbiasa denganmu.


__ADS_3

"Masak nasi goreng????" Bang Yudha masih mengusap wajahnya, nyawanya belum juga genap.


"Tengah malam ini Ric, ayam aja masih ngiler. Push up dulu kamu.. Ini jamnya saya ngasah ilmu..!!!"


"Siap Bang..!!" Bang Rico akhirnya melaksanakan perintah Bang Yudha demi bumilnya yang tengah mengidam.


~


"Tolong saya Bang.. bumil lagi manja di rumah. Baru ini Asya mau makan" kata Bang Rico memelas.


"Bagaimana dek?" tanya Bang Yudha.


Netta bersandar duduk di sofa dengan lemas karena masih mengantuk.


"Buatin lah Bang, kalau anaknya Bang Rico ngileran.. Abang turut andil bersalah lho." jawab Netta.


"Sifat perempuan nih begini ini.. suka ngerjain laki" gerutu Bang Yudha.


"Yawes ayo ke dapur..!!"


"Bang.. Nasi kita khan utuh, lebihin masaknya ya..!! Netta mau"


Langkah Bang Yudha terhenti sejenak.


"Kamu mau nasi goreng dek? Tumben kamu pengen makan?"


:


"Pakai kencur nggak Bang?" tanya Bang Rico mulai lupa bagaimana cara memasak nasi goreng saking paniknya.


"Pakai.. semua bumbu di pakai" jawab Bang Yudha serius.


"Mana sawinya?"


"Ini Bang..!!" dengan cekatan Bang Rico menyambar daun kunyit di atas meja.


~


Bak chef handal Bang Yudha dan Bang Rico mengadakan kolaborasi memasak tengah malam dan membuat seisi dapur bagai tersambar petir.


"Naaahh.. ini dia.. nasi goreng mortir buatan duo garong. Hahaha.." Bang Yudha mengangkat piring yang sudah di hias cantik khusus untuk dua kesayangan.. Asya dan Netta.


"Mantaaapp Bang.. langsung saya bawa pulang ya..!! Asya pasti sudah menunggu. Terima kasih banyak senior" kata Bang Rico.


"Hmm.. Sama-sama. Ya sudah sana.. Abang juga mau antar nasi gorengnya untuk Netta"


~


Di tempat berbeda.. Asya dan Netta menatap piring yang sudah terhidang nasi goreng buatan bapak-bapak.


"Waahh.. kelihatannya enak Bang" Asya langsung menyendok nasi kemudian memakannya.

__ADS_1


"Hmm.. beneran enak nih. Abang harus coba" Asya kemudian menyuapi Bang Rico.


Mata Bang Rico terbelalak merasakan cita rasa yang selama ini belum pernah mampir ke mulutnya.


"Enak khan Bang?" tanya Asya memastikan.


Bang Rico manggut-manggut sambil tersenyum memaksa.


Jene opo to iki.


~


"Kok begini rasanya Bang? Ini bukan sawi.. daun kunyit ini Bang" Netta kesal sekali sampai cemberut.


"Masa sih? Itu Rico yang siapkan" jawab Bang Yudha berkilah padahal dirinya sendiri yang mengeluarkan daun kunyit itu dari dalam kulkas.


"Kenapa juga ada rasa kencur, kebanyakan lagi" protes Netta.


"Aaaahh.. Abang belikan nasi goreng..!! Netta lapar Bang" rengek Netta.


"Ya ampun.. ini mau pagi.. Mana ada pedagang nasi goreng" kata Bang Yudha bingung.


"Pokoknyaaaa......"


"Oke berangkat..!!" tanpa Banyak bicara Bang Yudha menyambar jaket dan kunci motornya.


...


"Bagaimana nasi gorengnya?" tanya Bang Yudha karena Bang Rico tidak mengatakan apapun.


"Asya suka sekali Bang" tapi wajah Bang Rico mengatakan sebaliknya.


"Kalau suka kenapa wajahmu begitu?"


"Itu benar-benar nasi goreng mortir, nasi goreng celaka yang pernah saya makan Bang. Rasanya hancur banget" jawab jujur Bang Rico.


"Naaahhh.. Netta sampai ngamuk. Ternyata itu bukan daun sawi bro.. tapi daun kunyit" Bang Yudha jadi lemas karena Netta menolak masakannya tapi masih sedikit terhibur karena bumilnya Rico menyukainya.


"Ngomong-ngomong.. Asya kok bisa suka ya?" tanya Bang Yudha.


"Namanya ibu hamil ngidam Bang, lidahnya terbalik.. pare yang pahit saja bisa jadi manis"


"Benar juga kamu Ric"


"Ijin.." Om Sobri menghadap kedua perwira membuyarkan percakapan random mereka.


"Apa?"


"Ijin Dan.. di acara kenaikan pangkat.. Komandan minta setting dan acara panggung hiburan.. Danki di minta rapat dengan Danki yang lain di ruang briefing" jawab Om Sobri.


...

__ADS_1


Bang Yudha dan Bang Rico terkikik membayangkan akan ada penyanyi seksi di atas panggung.


"Kalian bukan bujangan..!! Yang tau diri..!!!!" tegur Bang Winata.


"Kalau ada yang begini tuh ajak-ajak..!!"


"Wooo.. dasar, kalau yang begini aja nyautnya cepat..!!" gerutu Bang Yudha.


Ketiganya terkikik penuh aura biadab dan kemesuman.


***


Dua Minggu berlalu.


Asya melihat tubuhnya dalam pantulan cermin. Menuju tiga bulan usia kandungannya. Perutnya sudah sedikit terlihat.


"Katanya kalau hamil.. terasa ada yang menendang perut, tapi kenapa aku nggak merasakan apa-apa" gumam Asya.


Bang Rico tersenyum mendengar gumam kecil bumil cantiknya.


"Ya nanti donk, kalau sudah empat bulan atau lebih baru terasa. Si dedek masih kecil sekali di perut kamu. Makanya makan yang banyak biar bisa cepat merasakan tendangan si kecil" Bang Rico memeluk Asya dari belakang, tetes air dari rambutnya membasahi pipi Asya.


Asya terlihat gelisah salah tingkah apalagi Bang Rico masih menggunakan handuk yang melilit di pinggang suaminya.


"Kamu nggak kangen Abang belai manja?" bisik Bang Rico.


"Kangen"


"Kenapa nggak pernah 'minta', apa setiap kali Abang yang harus memulai?" tanya Bang Rico dengan suara yang sudah mulai berat.


Asya terdiam tapi ia begitu menikmati setiap sentuhan Bang Rico.


"Laki-laki ataupun perempuan yang sudah menikah.. sama saja dek. Sama-sama membutuhkan dan kamu berhak memintanya dari Abang."


Asya mendongak dan menatap mata Bang Rico. Wajah itu pun langsung di mengerti sang suami.


"Bagaimana nyonyaku?" tanya Bang Rico.


Asya tak menjawabnya, tapi ia beralih berbalik badan lalu mengalungkan kedua lengannya di belakang leher Bang Rico. Mata keduanya kembali saling menatap.


"Sekarang Asya benar-benar sangat menginginkan Abang. Bisa Abang selesaikan??"


"Sesuai permintaanmu sayang..!!" Bang Rico mengecup bibir Asya dengan lembut.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2