
Bang Rico sama sekali tidak berani meninggalkan Asya sendirian. Apalagi saat Asya memeluk pinggangnya dengan erat. Segala cara sudah di lakukannya agar Asya cepat pulih kembali.
"Asya lelah sekali, tidak ada tempat Asya mengadu. Asya tidak bisa percaya Papa, tidak bisa membebani Mama.. penderitaan Mama sudah terlalu berat." gumam Asya. Bibirnya membiru dan terus menggigil.
Tak ada yang bisa Bang Rico jawab dari pernyataan Asya, percuma saja memberi pengertian pada orang yang tengah sakau setengah sadar. Bang Rico beringsut mendekap Asya.
"Sakit ya dek? Abang disini..!! Kita akan berjuang bersama melewati semua ini. Abang janji akan membuatmu sembuh"
***
Hingga menjelang pagi Bang Rico terjaga, menangisi Asya yang sesekali masih meracau mengungkapkan segala rasa yang ada di hatinya. Baru ia tau saat ini kalau Asya wanita yang tidak memiliki kepercayaan diri juga krisis kepercayaan pada orang lain terutama laki-laki hingga ia harus menambah obat-obatan terlarang agar bisa 'lebih berani' menjalani hidup. Asya tidak bisa menjadi dirinya sendiri karena selalu mengalami ketakutan.
Maaf ya dek, Abang memberimu pengalaman buruk dan semakin membuatmu takut. Bisakah kamu memaafkan Abang dan kita mulai semuanya dari awal?.
...
"Iiihh Abang.. kenapa peluk Asya??? Mau cari kesempatan ya????" pekik Asya melengking di telinga Bang Rico.
"Allahu Akbar.. nggak pakai teriak khan bisa dek..!! Suaramu sudah melebihi pasar pagi" tegur Bang Rico.
"Asya tanya.. kenapa Abang peluk Asya?? Asya nggak mau pelukan..!!!!" pekik Asya.
"Kamu yang minta peluk, sekarang salahkan Abang. Aneh kamu ini" jawab Bang Rico berkilah.
"Oya?? Asya yang peluk??" tanya nya lirih mengingat kejadian semalam tapi semua tidak mudah untuk nya mengingat.
"Asya mau mandi.. Mau sekolah"
Saat Asya berdiri, kakinya tersangkut selimut dan akhirnya menindih Bang Rico dengan kuat.
"Aaawwhh.. " Refleks Bang Rico mendekap Asya sekuatnya. Kedua mata itu saling menatap. Denyut nadi keduanya seakan beradu cepat dan saling bisa mendengar rasa gugup masing-masing.
Tak ada yang saling menyadari kini posisi Asya perlahan ada di bawah dalam kungkungan Bang Rico. Kedua bibir saling bertautan mengungkapkan perasaan paling jujur di antara mereka, terlihat keduanya begitu terlena dalam rasa. Asya terpejam dan terhanyut membuat Bang Rico semakin berani karena tidak ada penolakan dari sang istri. Bang Rico menggenggam erat tangan Asya hingga ia pun ikut terhanyut. Tangan lincah itu sungguh terampil mencari titik
Tiba-tiba mata Asya terbuka. Wajah Bang Rico begitu dekat dengannya.
"Asya mau mandi" ucapnya sambil mendorong Bang Rico. Ia menjauh dan berjalan membuka pintu kamar.
Sungguh Bang Rico tertegun menggenapkan nyawa yang masih berkelana entah kemana. Keduanya saling menatap, ada sedikit rasa canggung diantara keduanya.
"Iya, nanti Abang antar" Bang Rico memalingkan wajahnya tak sanggup memandang sang istri yang terasa begitu mengusik batinnya.
Sempruull.. sampai kapan begini terus. Kenapa aku sekecewa ini Asya menolak ku.
...
Asya meraih tangan Bang Rico dan mencium punggung tangan nya. Mata Bang Rico berkedip heran melihat kali pertama Asya mencium punggung tangannya.
__ADS_1
"Asya berangkat Bang. Assalamualaikum"
Tuhanku.. kena sambar petir dimana istriku ini. Jadi kalem begini. Aku khan jadi bingung menata hatiku.
Refleks Bang Rico mengecup kening Asya.
"Wa'alaikumsalam.. hati-hati. Kalau ada apa-apa cepat hubungi Abang" kata Bang Rico.
"Info latihan Abang jadi maju besok. Abang harus berangkat nanti siang, jadi siang nanti kamu di jemput Sobri. Minggu depan Abang pulang. Asya berani khan nggak ada Abang di rumah? Nanti Abang siapkan apapun yang Asya butuhkan. Pesan Abang.. jaga diri, jaga kesehatan dan jangan bertingkah. Abang jauh dek." Ada rasa cemas dan tidak tega yang muncul dari dalam lubuk hati Bang Rico.
Asya mengangguk kemudian berbalik dan hendak membuka pintu mobil. Tapi saat tangannya hendak membuka pintu, Asya kembali berbalik dan memeluk Bang Rico.
Cukup kaget Bang Rico melihat reaksi Asya tapi rasa tidak tega itu muncul kembali. Bang Rico pun membalas pelukan Asya. Samar Bang Rico mendengar suara sesenggukan kecil dari Asya.
"Peluk Asya sebentar donk Bang..!!" Asya mengarahkan tangan Bang Rico untuk mengusapnya.
"Apa masih sakit?" tanya Bang Rico.
Asya menggeleng pelan.
"Rasanya nggak sakit kalau Abang usap"
Seketika luluh hati Bang Rico, tangan itu ringan mengusap Asya disana sini. Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu dan akhirnya Asya bangkit dan meninggalkan Bang Rico tanpa kata.
Ya Allah.. kenapa kali ini aku tidak bisa mengendalikan perasaanku. Berat sekali rasanya meninggalkan Asya.
"Selamat siang. Ijin Abang..........."
-_-_-_-_-
"Kamu nggak di jemput Pak Rico?" tanya Wardoyo.
"Abang lagi latihan luar" jawab Asya malas.
"Oohh.. begitulah tentara, terutama pasukan. Kamu yang sabar ya Sya" kata Wardoyo memberi semangat.
Asya mengangguk. Ia baru menyadari, tanpa Bang Rico segalanya terasa sepi.
"Kamu sudah persiapan ujian dengan matang?" tanya Wardoyo berbasa basi mengalihkan perhatian Asya.
"Sudah, Abang yang kasih semua materi" jawab Asya dengan pikiran yang tidak fokus.
"Baguslah. Suamimu itu perhatian. Do'akan aku setelah lulus bisa menyusul seperti suamimu. Pangkat apapun tidak masalah, yang penting aku kerja"
Asya terdiam sejenak. Harus ia sadari dirinya sudah harus mulai menjadi dewasa. Jika dirinya tidak memaksa untuk memecah pola pikir, maka selamanya ia tidak akan pernah menjadi dewasa.
"Iya War"
__ADS_1
:
"Ijin Bu. Kita langsung pulang?" tanya Om Sobri.
"Pulang saja Om. Abang pasti cemas kalau saya di luar" jawab Asya lebih tenang dan jauh lebih dewasa.
"Baik Bu" Om Sobri sedikit mencuri pandang melihat sekilas istri komandan. Asya terpejam dan bersandar memeluk tasnya.
:
"Oya, apa Asya baik-baik saja?" tanya Bang Rico.
"Aman Dan. Hanya terlihat tidak semangat saja" jawab Om Sobri.
"Oke, terima kasih banyak infonya. Tolong pantau istri saya ya..!!" perintah Bang Rico.
"Siap Dan."
~
Bang Rico menghabiskan sebatang rokok dengan cepat. Pikirannya sungguh tidak fokus. Berkelebat Asya dan Asya saja dalam hatinya.
"Kopi Ric..!!" tegur Bang Yudha membawakan segelas kopi.
"Terima kasih Bang"
"Mikir apa kamu? Asya aman di asrama" kata Bang Yudha.
"Ada yang aneh sama Asya selain obat-obatan itu Bang. Sejak tadi kutinggal, Asya manja sekali sampai saya nggak tega meninggalkan dia"
"Telepon lah, apa gunanya telepon mu itu"
"Laahh.. bisa Geer Asya Bang" jawab Bang Yudha.
"Kamu itu suaminya.. kalau bukan kamu yang memberinya perhatian.. siapa lagi Ric.. Apa harus Abang yang memberinya perhatian?" tegur Bang Yudha.
"Abang nih. Ya jelas saya lah Bang. Saya hanya ingin sedikit memberi pelajaran sama Asya. Ada sesuatu yang harus dia mengerti" jawab Bang Rico.
"Ya sudah.. kamu lebih paham rumah tanggamu. Yang jelas kamu harus pastikan semua dalam keadaan Aman."
"Siap..!!!"
.
.
.
__ADS_1
.