
Bang Rico kembali menidurkan baby Gazha dan segera menuju ruang makan karena tau keadaan Asya saat ini pasti sedang tidak baik-baik saja.
"Sudah habis makannya?" tanya Bang Rico.
Ternyata Asya makan dengan sangat pelan. Bang Rico pun segera menyuapi istrinya.
"Abang minta maaf ya dek. Ini salah satu alasan Abang tidak menceritakan latar belakang keluarga sama kamu" kata Bang Rico.
"Ceritakan saja Bang. Asya nggak apa-apa"
Bang Rico menarik nafas panjang, kalau sudah begini jadinya.. mau tidak mau ia pun harus menceritakan semua.
"Papa adalah seorang pria dengan empat orang istri. Itu juga yang Abang tau. Bang Win dan Netta adalah anak dari istri pertama sedangkan Abang adalah anak dari istri kedua" Bang Rico mulai menceritakan duduk perkara latar belakang keluarga.
"Abang punya adik?" tanya Asya.
"Setau Abang tidak. Tapi tidak tau jika istri ke empat Papa sudah melahirkan anak. Istri ke tiga Papa tidak punya anak.. tapi dia kesayangan Papa" jawab Bang Rico.
"Papa menentang dan membenci Bang Winata juga Abang karena memilih membelot dan menjadi tentara."
"Kenapa Abang tidak jadi Mafia juga?" tanya Asya lagi.
"Karena tidak sesuai dengan hati Abang. Abang cinta dengan negara ini. Hingga Papa Wira menyelamatkan Abang saat Abang di kejar anak buah Papa dan akan di jadikan ketua Mafia yang baru"
"Maksudnya???"
"Abang di titipkan di barak setelah Abang dalam didikan Papa Wira karena Abang tidak ingin masuk dalam keluarga kalian, Abang di rawat Papa Wira, di sekolahkan di sekolah khusus, di beri uang saku layaknya anak sendiri, di arahkan dan di beri kasih sayang. Bahkan saat Abang berniat memiliki usaha di luar sana.. Papa Wira juga yang memberi modal karena Papa Subrata hanya akan memberi modal jika Abang mau mengikuti jejaknya" kata Bang Rico.
"Asya nggak nyangka kalau papa adalah orang di balik hidup Abang"
"Iya. Maka dari itu Abang tidak pernah mengenalmu. Yang Abang tau hanya adik laki-laki mu saja" jawab Bang Rico sambil terus menyuapi Asya.
"Kamu jangan pikirkan tentang Mama. Biar itu menjadi urusan Abang. Tugasmu hanya merawat anak kita dan mendidik anak kita. Hmm.. satu lagi yang paling penting.. kamu harus punya 'rasa memiliki' Abang. Gangguan di luar sana sangat besar. Abang tidak akan membuka pintu untuk wanita lain, tapi kamu juga harus punya pertahanan diri yang kuat. Apa putri seorang Wiranegara akan menjadi lemah saat barang miliknya di usik??"
__ADS_1
"Asya ngerti Bang"
Bang Rico mengacak rambut Asya.
"Pintar.. istri Sholehah nya Bang Rico"
-_-_-_-_-
Bang Pandu masih saja mengalami beberapa kali mual. Maklum.. kepala tertimpa nangka bukanlah hal yang ringan untuk dirasakan.
Disana Fasya merawat Bang Pandu dengan telaten karena dirinya juga Bang Pandu harus mengalami hal seperti ini, apalagi Bang Pandu menyelamatkan nyawanya dari ular cobra yang hendak mematuknya.
"Kamu pulang saja dek. Abangmu pasti marah kalau kamu terus disini" kata Bang Pandu kemudian kembali muntah.
"Fasya sudah bilang sama Bang Rico, sudah di ijinkan juga kok Bang" Fasya mengusap bibir Bang Pandu tanpa rasa geli sedikitpun.
"Abang makan ya..!!"
Fasya tak menunggu jawaban Bang Pandu, ia langsung menyuapi Bang Pandu dan pada akhirnya Bang Pandu menurut. Baru kali ini ia di perlakukan istimewa oleh seorang wanita.
Sejak dulu aku berusaha menjadikan wanita-wanita ku sebagai ratu ku, tapi sayang.. mereka tak pernah menganggap segala pengorbanan ku bahkan mereka sampai meninggalkan aku demi pria lain. Oohh Tuhan.. tapi kenapa hatiku tergerak dengan gadis ini.. gadis yang usianya masih sangat belia. Lalu bagaimana kalau aku jatuh hati padanya.
Tak lama Bang Rico masuk ke dalam kamar rawat Bang Pandu. Ia melihat Fasya sedang menyuapi Bang Pandu.
"Masih sakit Bang?" tegur Bang Rico.
"Lumayan puyeng Ric" jawab Bang Pandu.
"Penunggu pohon nangka itu geram sama Abang. Kalau Abang nggak niat macam-macam.. nggak mungkin Abang ketiban nangka" kata Bang Rico.
Bang Pandu melirik Bang Rico. Jelas sekali wajah itu tidak bisa berbohong kalau memang ada sesuatu di balik tragedi buah nangka.
"Kamu tolong belikan Abang air minum. Tenggorokan Abang kering nih" Bang Rico mengeluarkan selembar uang warna merah kemudian meminta mangkok yang ada di tangan Fasya.
__ADS_1
"Beli di seberang jalan. Disini air mineralnya rasanya nggak enak" kata Bang Rico.
"Iya Bang" Fasya menyerahkan mangkok tersebut pada Bang Rico.
~
Untuk beberapa saat tak ada suara dari Bang Rico maupun Bang Pandu sampai Bang Rico membuka suara.
"Hormatilah harga diri Fasya Bang. Paling tidak.. sampai masa iddahnya selesai. Apa Abang tidak kasihan kalau dia mendapat tekanan mental dari pihak luar?" tegur Bang Rico.
"Saya tau Abang menaruh hati sama Fasya" ucap Bang Rico langsung tegas pada pokok persoalan.
"Apa Abang salah, jika punya hati untuk Fasya?" tanya Bang Pandu.
"Nggak Bang, kita tidak bisa melawan perasaan apapun yang hadir dalam hati kita termasuk kepada siapa hati kita berlabuh" jawab Bang Rico.
"Abang tidak main-main soal perasaan"
"Fasya menikah dengan almarhum Acep karena salah paham. Saat ini pun Fasya masih terlalu muda untuk berpikir masalah percintaan" kata Bang Rico tak tega memikirkan nasib Fasya.
"Kamu mampu, kenapa saya tidak"
"Kalau memang itu pertanyaan Abang. Saya disini hanya sebagai Abang ipar. Saya tidak berhak menentukan. Jika memang ada niat baik dari Abang.. setelah masa Iddah Fasya selesai.. lamarlah dan mintalah Fasya Pada Papa Wira secara baik-baik dan terhormat..!!" pesan Bang Rico.
"Baiklah.. Abang akan penuhi semuanya. Niat Abang untuk meluruskan ibadah. Abang ada hati tidak untuk main-main" jawab Bang Pandu.
.
.
.
.
__ADS_1