
Beberapa bulan telah berlalu. Sejak kejadian itu.. Bang Rico maupun Bang Yudha sedikit mengurangi aktivitas bersama. Tidak ada dendam dalam hati mereka, hanya saja.. mereka saling menjaga perasaan satu sama lain.
Asya sudah menerima surat kelulusan nya dan itu membuatnya sedikit lega. Kini ia lebih banyak berkutat dan fokus pada kegiatan di Batalyon.
"Nanti ada acara apa dek?" tanya Bang Rico pada Asya yang kini membawa perutnya yang semakin membesar.
"Persiapan acara gabungan saja Bang" jawab Asya kemudian duduk di samping Bang Rico. Asya mengatur nafasnya yang semakin hari kian membuatnya begah.
"Istirahat dulu sayang..!! Kamu sudah capek sekali itu. Sekali-kali ijin lah dari kegiatan." saran Bang Rico kemudian mengusap perut Asya. Ada tendangan lincah yang membuat Asya memercing, Bang Rico pun tersenyum melihatnya.
"Anak ayah.. tiga bulan lagi kita main ya Ndhuk..!!" Bang Rico menunduk mencium perut Asya.
Bahagia luar biasa saat beberapa waktu yang lalu, Bang Rico tau jenis kelamin buah hatinya adalah putri cantik yang begitu ia inginkan. Bahkan saat itu juga Bang Rico langsung mendesain kamar bernuansa pink ungu untuk sang putri.
"Iya ayah.." jawab Asya menirukan suara anak kecil.
tok..tok..tok..
Mendengar suara ketukan pintu, Bang Rico beranjak dan langsung membuka pintunya.
"Selamat pagi.."
"Ada apa Sob?" tanya Bang Rico mengeryit dahi karena tak biasanya Om Sobri menyambanginya saat hari masih pagi.
"Siap.. Ijin.. Danyon meminta Lettu Rico dan Lettu Yudha menghadap..!!"
"Oohh.. ya sudah.. saya pakai seragam dulu..!!"
...
"Oke Yudha.. saya terima surat keterangan pernikahanmu ini, dan saya pahami latar belakang istrimu. Data riwayat hidupnya ini akan saya pelajari nanti."
"Baik Bang.. saya ijin meninggalkan tempat..!!" kata Bang Yudha.
~
"Saya ingin bertanya sama kamu Rico..!!"
"Siap..!!"
"Saya ini bertanya sebagai Abangmu.. bukan musuhmu." Bang Indra menatap mata Bang Rico.
__ADS_1
"Siap Bang..!!"
"Dalam daftar riwayat hidupmu.. ada dua nama istri yang tercantum, akibatnya.. pernikahanmu di mata hukum militer pusat.. ilegal. Nama yang tercantum di Batalyon.. Naresha Irania tapi di pusat.. bernama Nafasha. Mana yang benar?" tanya Bang Indra.
"Siap.. Naresha Irania" jawab Bang Rico melemah, hatinya sungguh sakit mengetahui perjuangannya selama ini kembali gagal, entah siapa yang membuatnya jadi mati langkah seperti ini.
"Disini juga di laporkan.. istrimu seorang pecandu aktif dan hal menjadi periksa yang ketat di markas besar. Ada penjelasan mengenai hal ini?"
"Istri saya memang memakai barang itu, tapi sudah sangat berkurang karena saya sendiri yang mengawasinya Bang. Apalagi saat ini usia kandungannya sudah enam bulan.. tentu akan sangat berpengaruh pada tumbuh kembang calon anak kami kalau memang Asya masih seaktif itu mengkonsumsi obat-obatan terlarang" jawab Bang Rico.
"Baiklah.. saya percaya dengan keteranganmu ini Ric"
"Hmm.. Bang, Boleh saya tau siapa yang membuka kembali kasus istri saya?" tanya Bang Rico.
"Ini masih menjadi rahasia intel Rico"
"Ya sudah Bang.. saya mengerti. Mohon ijin.. saya mendahului."
Sungguh hati Bang Rico tak karuan melihat sang istri. Apalagi mengingat kandungan Asya yang semakin besar serta status anak mereka yang akan terlahir nanti.
Saat akan meninggalkan tempat, tak sengaja Bang Rico melihat nama orang tua Netta di meja komandan.
"Ijin Bang.. boleh saya lihat daftar riwayat hidup punya Netta?" tanya Bang Rico.
"Netta.."
Tanpa pamit Bang Rico meninggalkan ruang Danyon. Danyon pun melihat lembaran data riwayat hidup Netta, tak ada yang aneh.
:
Bang Winata melangkah berat menuju ruangannya. Pikirannya berkelana kemana-mana memikirkan Netta padahal saat itu hari sedang hujan.
Tak jauh dari sana.. Ibu-ibu pengurus ranting baru keluar dari ruang rapat, begitu pula dengan Netta dan Asya. Netta melangkah menjauh sambil mengangkat panggilan telepon dari seseorang.
Tiba-tiba ada yang memeluk tubuh Netta dari belakang.. hangat dan begitu erat.. tanpa kata.
"Bang Rico.. lepas Bang..!!!" Netta merasa tidak nyaman saat Bang Rico memeluknya, tidak seperti dulu saat mereka masih memiliki hubungan.
"Lama sekali Abang menunggu saat seperti ini. Bertahun-tahun Netta dan sekarang Abang baru menyadarinya." jawab Bang Rico menitikan air mata.
Tanpa mereka sadari, Asya berdiri melihat keduanya saling menatap tapi yang paling menyakitkan adalah saat Netta menghindar.. Bang Rico tidak melepaskannya bahkan mengecup kening Netta. Di saat yang sama pula.. Bang Yudha yang berniat menjemput netta juga melihat pemandangan yang sama.
__ADS_1
"Ricooo...!!!!!!!! B******n, Kamu sudah janji untuk nggak dekati Netta..!!" Bang Yudha membuang payung di tangannya, ia pun tak peduli hujan mengguyur tubuhnya. Bang Yudha yang kalap langsung menghajar Bang Rico tanpa bisa menjelaskan sedikitpun.
"Abaaaaang.. sudah Bang..!!" Netta berusaha melerai keduanya.
Kaki Asya gemetar, pandangannya berbayang. Terbayang rasa sakit Mama Dinda saat Papa Wira tidak bisa melupakan mamanya hingga Mama Dinda sempat mengalami depresi karenanya, tapi jauh di dalam jiwanya.. ada hati yang tidak tega saat Bang Yudha menghajar ayah dari anak yang ada dalam kandungannya itu.
"Menjauh lah dari sini dek..!!" pinta Bang Rico yang masih belum menyadari keberadaan Asya.
Hati Asya semakin sakit karena Bang Rico begitu memperhatikan Netta daripada dirinya.
"Sebegitu besarkah cinta Abang untuk mbak Netta??" ucap Asya kemudian menyadarkan Bang Rico.
"Asyaa???"
Bang Yudha masih punya sedikit perasaan untuk membiarkan Bang Rico dan Asya untuk bicara berdua. Tangan kekarnya menarik tangan Netta agar berdiri sedikit menjauh.
"Asya tidak pernah berharap untuk Abang nikahi. Kalau Abang memang lebih menginginkan hidup dengan Mbak Netta.. silakan, Asya mundur" ucap tegas Asya. Wajahnya sudah pucat sembari memegangi perutnya.
"Asya sadar masih banyak kekurangan"
"Kamu ngomong apa dek?? Abang jelaskan dulu sayang..!!"
"Dan untuk Mbak Netta, entah apa yang terjadi dengan Mbak dan Abang dulu sampai Abang tak bisa menghilangkan bayangmu dalam hatinya..!!!!" pekik Asya.
"Kita bicara di rumah dek..!! Bajumu sudah basah...!!" bujuk Bang Rico.
"Asya benci Abang.. Asya sangat membenci Abang..!!!!!!! Jangan membelanya di depan Asya" Asya mulai kalap menyerang Bang Rico.
"Ya Allah Ya Rabb.. Abang nggak bela Netta sayang..!! Netta itu adiknya Abang"
Karena terlalu terbawa emosi, Asya seakan tidak mendengarnya lagi. Bang Yudha dan Netta ikut tercengang tapi saat Bang Rico menghindar, sebuah pukulan mengarah ke wajah Netta, dengan sigap.. refleks Bang Yudha menangkisnya hingga tanpa sengaja Asya tertampar tangan Bang Yudha yang jelas saja lebih bertenaga darinya. Asya pun terpelanting jauh.
"Astaga Asyaa..!!!!"
Tangan Bang Rico dan Bang Yudha berusaha menangkap Asya.. tapi tangan itu tak sanggup menggapainya.
.
.
.
__ADS_1
.