
Bang Rico berjingkat cemas mendengar ucap Om Acep. Seketika sakit Bang Rico sirna terganti rasa khawatir.
"Dan.. sebentar..!!" Om Acep berusaha mencegah Bang Rico yang kelabakan mengencangkan ikat pinggangnya.
"Apa sih Cep.. ngomong yang jelas. Rico kalau sudah dengar Asya ada apa-apa sudah masa bodo dengan yang lain" tegur Bang Yudha.
Om Acep menormalkan nafasnya karena baru berlari jauh.
"Bebek di kandang Batalyon.. di lepaskan istri Danki sama Bu Rico. Bu Rico nggak bisa turun dari pohon karena di kejar soang"
"Ya Tuhan.." Bang Yudha menepuk dahinya dan akhirnya ikut berlari.
"Apalah wanita-wanita ini. Bikin ulah nggak kira-kira"
...
"Allahu Akbar dek..!!!!!!!!!! Kamu buat bagaimana ini sampai bebek sama soangnya lepas?????????" ubun-ubun Bang Riko berdenyut pusing melihat ratusan bebek dan puluhan soang Batalyon dari kandang ketahanan pangan berlarian kesana kemari lepas karena ulah Netta dan Asya.
"Asya mau lihat bebeknya, sudah Asya tutup tapi mereka nerobos keluar" jawab Asya.
"Sini turun..!!" Bang Rico mengulurkan tangannya.
Refleks Asya bersiap melompat dari atas pohon.
"Asyaaaa...!!!!!!!!!!" Bang Rico pun refleks membentak Asya.
"Haduuuuhh.. mati aku." rasanya Bang Rico hampir pingsan, laju nafasnya nyaris terhenti.
Para anggota remaja sibuk mengatur bebek agar mau masuk kembali ke dalam kandang.
"Sini Abang pegang sayang..!!! Ojo aneh-aneh cah ayu..!!" tangan Bang Rico sampai gemetar dingin takut Asya akan melompat.
Asya pun turun perlahan dan Bang Rico menangkapnya.
Jauh disana terlihat Bang Yudha juga tengah memarahi istrinya.
"Ada yang sakit nggak?" Bang Rico mengecek setiap jengkal tubuh Asya.
"Apa ada lecet? Perutnya gimana dek?????"
Asya tertegun melihat kecemasan Bang Rico padanya hingga melunturkan perasaan yang sempat hinggap padanya tadi. Tapi masih saja dirinya tidak puas. Khas seorang wanita yang punya keinginan menjadi satu-satunya dan segalanya. Rasa sakit sang Mama membuat hatinya mengambang tak tentu arah.
Asya bersandar mendekap Bang Rico.
"Kenapa nangis?? Perutnya sakit ya?" tanya Bang Rico melihat Asya terlihat sedih.
Asya mengangguk padahal tak terjadi apapun pada dirinya.
"Aduuuhh.." Bang Rico memejamkan matanya sejenak merasa ngeri dan takut terjadi sesuatu pada calon bayinya.
"Kalau sampai ada apa-apa sama anak ini, Abang nggak bisa maafin diri Abang sendiri"
"Kalau Asya Bang?"
__ADS_1
"Abang benar-benar mati bunuh diri" ucapnya serius.
"Asya nggak apa-apa Ric?" tanya Bang Winata.
"Perutnya sakit Bang, biar saya bawa ke rumah sakit dulu" Bang Rico menggendong Asya tapi Asya menolaknya.
"Asya pengen di sayang Abang aja" pinta Asya.
"Nggak bisa dek.. kamu harus di periksa"
"Please Bang..!!" Suara Asya penuh dengan permohonan.
"Apa mau di temani Netta?" tanya Bang Yudha
"Asya mau sama Abang.. hanya berdua saja" pinta Asya sudah mulai naik darah.
"Oke..oke.. biar sama saya saja Bang. Nggak usah bawa-bawa Netta." raut wajah Bang Rico seketika di mengerti oleh seniornya itu.
"Ya sudah, bicarakan pelan-pelan...!!"
...
Bang Rico memijat kaki Asya, ia menyiapkan mental menghadapi wajah siap perang Asya.
"Sebenarnya ada apa kamu sama Netta ada di kandang bebek?"
"Ya ada urusan dengan mantanmu..!!"
"Huusshh.. Nggak boleh bilang begitu sama suami. Nggak baik, nggak sopan dek" tegur Bang Rico sambil menyentil bibir Asya.
Asya memalingkan wajahnya yang mendung.
"Begitu cantik kah Mbak Netta? Sampai foto saja masih Abang simpan"
"Mana??"
"Itu di tong sampah"
"Ya ampun, bisa bedakan di buang sama di simpan nggak sih dek" jawab Bang Rico.
"Kalau Abang niat buang, langsung buang di tempat pembuangan, ini masih Abang simpan di dalam rumah." kata Asya yang ternyata sudah melihat foto mantan pacar suaminya itu.
"Lailaha Illallah.. Ya sudah, Abang memang salah. Abang minta maaf..!!" Bang Rico mengalah daripada harus berdebat dengan sang istri.
"Nanti Abang buang jauh, atau kamu yang bakar juga nggak apa-apa"
"Janji??"
"Janji sayang. Tapi jangan marah lagi. Kasihan si dedek." ucap Bang Rico penuh permohonan.
"Sekarang cerita sama Abang. Ada apa kamu sama Netta?"
"Abang mau belain Mbak Netta????"
__ADS_1
"Astagfirullah hal adzim.. Abang itu mikir kamu dek, buat apa Abang pikir Netta?"
"Sekarang cerita sama Abang. Ada apa?"
"Ini bukan urusan Abang"
Bang Rico mengusap dadanya menghadapi rasa cemburunya Nyonya Rico.
"Bagaimana ini bukan urusan Abang. Kamu melepaskan ratusan bebek dan Abang di sosor soang. Kalau kantor tanya.. jelas semua sudah sebut merk.. ini istri Letda Rico yang berulah"
Asya memalingkan wajahnya.
"Awalnya Asya gemas lihat Mbak Netta. Pantas saja Abang suka, dia cantik sekali"
"Terus??"
"Mbak Netta lembut dan keibuan. Mbak Netta yang menyadarkan Abang dari masa kelam. Apa jasa Asya dalam kehidupan Abang" tanya Asya dengan nada kesal.
Meskipun Asya tidak menyebutkan secara terperinci apa yang di lakukannya dengan Netta tadi, tapi dirinya bisa memastikan ada pembicaraan antar wanita yang membuat suasana jadi mencekam seperti ini.
"Ini..!!" Bang Rico mengusap perut Asya.
"Ada buah cinta Abang disini. Keikhlasan mu ini amat sangat berharga dan tidak bisa di ganti dengan apapun juga"
"Pria akan selalu bermulut manis kalau ada maunya"
Mata Bang Rico terpejam. Hatinya gemas sekali menghadapi Asya, tapi mau bagaimana pun juga Asya tidak salah. Sejak awal memang dirinya belum jujur pada Asya tentang mantan-mantannya.
"Papa salah ma..!! Maaf ya ma" ucapnya menghindari perdebatan.
"Permintaan maaf di tolak"
"Allahu Akbar.. hiiihh..." Bang Rico mengacak rambutnya.
"Tuh khan, Abang nggak ikhlas minta maaf"
"Ya Gustii.. salah lagi" ucapnya menggerutu pelan.
"Maa.. dinner cantik yuk..!!" ajak Bang Rico melunakan hati Asya.
Asya tak menjawab, tapi langsung berdiri dan membuka lemari pakaian.
"Mau kemana dek?" tanya Bang Rico.
"Kata Abang makan malam?"
"Ini masih bedug Dhuhur, makan malam masih lama to sayang. Makan siang aja baru mulai" jawab Bang Rico.
"Cckk.. Lama-lama Abang sikat juga nih" Bang Rico menutup pintu kamar dan menguncinya rapat.
.
.
__ADS_1
.
.