Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
104. SP 2. 7. Yakin di antara keraguan.


__ADS_3

"Kamu masih tidak percaya anakmu butuh sosok ibu?" tanya Papa Wira.


"Saya sangat paham pa, tapi kalau di paksakan.. saya hanya akan menyakiti hati Jihan karena hati saya masih untuk Asya.. saya tidak tega, tidak sanggup kalau harus melihat Jihan menangis karena kecerobohan saya." jawab Bang Rico.


"Saya juga tidak bermaksud tinggi hati atau terlalu percaya diri menyodorkan putri saya yang tidak mungkin menarik di matamu atau minus dalam hatimu.." kata Dan Garin.


"Suatu saat kamu akan paham jika memiliki anak perempuan. Ayah hanya hanya mengusahakan yang terbaik bagi putrinya meskipun takdir.. tetap Allah yang memutuskan." Dan Garin pun meninggalkan tempat.


Bang Rico merasa tidak enak, tapi sungguh semua ini begitu memporak-porandakan hatinya. Ia juga penasaran mengapa keduanya sangat ingin dirinya dan Jihan bersama.


"Jihan kenapa?" Tanya Bang Rico menghentikan langkah Dan Garin.


"Yang jelas, Jihan pun tidak ingin menyakiti hati siapapun karena mengingat masa lalunya" jawab Dan Garin kemudian melanjutkan langkahnya.


Bang Rico duduk dengan kasar.


"Astagfirullah.." ucapnya sembari mengusap dada.


Papa Wira menepuk bahu Bang Rico.


"Papa tinggal Ric. Mudah-mudahan hatimu tidak panas lagi"


...


Sayang.. apa kamu marah jika Abang memberikan Gazha seorang ibu. Bukan untuk menggantikan dirimu di hati Abang, tapi di dunia ini banyak hal yang tidak sanggup Abang hadapi.


Bang Rico menengadah, mata terpejam tak kuasa menahan lelehan air mata. Tangannya mengepal kuat menahan rasa rindu dan beban di dada.


tok..tok..tok..


Tak lama terdengar suara Bang Tino mengetuk pintu ruang kerja Bang Rico.


"Selamat siang.. Letda Tino ijin menghadap" ucapnya resmi.


"Masuk..!!" Bang Rico menarik nafas dan berusaha bersikap normal seperti tidak terjadi apapun.


"Opo Tin?" tanya Bang Rico.


"Ijin.. ada radiogram.. Abang geser ke Kalimantan" jawab Bang Tino.


Bang Rico mendesah gelisah merasakan hidupnya semakin berat saja. Ia melihat kalender meja. Berarti dua minggu lagi skep turun. Total di bulan depan dirinya harus pindah ke Kalimantan.


Rasa panas tiba-tiba menyelimuti tubuhnya. Bang Rico membuka kancing seragamnya.


"Arahkan beberapa anggota.. Saya minta tolong untuk bantu saya packing barang..!!"


"Siap Bang.. segera..!!"


...


"Tante Jihan ikut nggak Yah?" tanya Gazha.


"Nggak lah Bang. Abang saja yang ikut ayah" jawab Bang Rico.


"Kalau Tante Jihan nggak ikut, Gazha juga nggak mau ikut" Gazha berlari pulang ke rumah Bang Pandu.


braaakk..


Bang Rico menendang pintu kamar.


"Kenapa tidak ada yang mau mengerti perasaanku?? Kenapa aku harus di hadapkan pada pilihan sulit seperti ini????" ucapnya kasar.

__ADS_1


"Huuusshhh... apa sih Ric, jangan begitu..!! banyak anggotamu" tegur Bang Pandu kemudian menarik lengan Bang Rico.


"Duduk dulu, ngopi.. kita ngobrol bareng" ajak Bang Pandu.


...


Gazha tidur sesenggukan, badannya demam. Bang Rico sudah mengompresnya tapi demamnya belum juga turun. Dada Bang Rico sesak merasa gagal menjadi seorang ayah.


"Ayah harus kalah atau mengalah nak? Kamu satu-satunya harta yang Ayah punya" gumam Bang Rico.


"Lihat anakmu dek, dia sangat merindukan mu, dia butuh kamu.. sekuat apapun aku memberinya cinta, tidak ada yang bisa menggantikan sayang seorang ibu" Bang Rico meringkuk, mengusap kaki Gazha. Ingin sekali matanya terpejam.. tapi ia sangat takut kehilangan.


***


Tiga hari berlalu.


Gazha masih saja demam dan mau tidak mau.. Bang Rico membawanya ke rumah sakit tentara.


...


"Harus di rawat ya pak, Hb nya turun." kata dokter.


Bang Rico pun pasrah Gazha mendapat perawatan di rumah sakit.


:


"Mamaaaaa..!!!!" Gazha terus mengigau, menangis dan berteriak.


"Iya sayang.. ini sama Ayah dulu ya" bujuk Bang Rico, tapi sampai lehernya sakit pun.. Gazha tak kunjung diam.


"Mamaaaaa.. Mamaa Jihaaan" suara tangis Gazha begitu pilu sampai akhirnya Bang Rico benar-benar mengalah. Ia mengambil ponselnya.


"Assalamualaikum.. Jihan" sapa Bang Rico membuang rasa gengsinya.


Bang Rico tersenyum getir.


"Ini Abang.. bisa merepotkan sedikit? Apa kamu bisa ke rumah sakit? Gazha di rawat, dia.... cari kamu"


...


Bang Rico mengintip dari jendela meninggalkan Jihan dan Gazha hanya berdua saja di kamar rawat. Terlihat Gazha sudah mau makan, sangat bahagia dan itu membuat dada Bang Rico kian sesak saja.


"Apa kamu sudah punya keputusan?" tanya Bang Pandu yang sekalian mengantar makan malam Bang Rico sekalian menjenguk keponakannya.


Bang Rico duduk, wajahnya menerawang tidak pasti.


"Saya belum tau Bang, semua pilihan berat untuk saya" jawab Bang Rico.


Tak lama Jihan keluar dari kamar Gazha.


"Abang mau pindah tugas?"


"Iya, apa Gazha cerita?" tanya Bang Rico.


Jihan hanya bisa mengangguk.


"Gazha bilang apa?" Bang Rico mulai cemas.


"Gazha sedih Abang mau pindah" wajah Jihan pun tak bisa menutupi apa yang ada dalam hati.


"Abang mau lihat Gazha dulu" pamit Bang Pandu tidak ingin mengganggu perbincangan Jihan dan Bang Rico.

__ADS_1


~


"Kalau Abang pergi.. kamu sedih atau tidak?" tanya Bang Rico.


Jihan tak tau harus berkata apa. Pertemuan dirinya dan Bang Rico begitu singkat. Ia juga tidak ingin salah menjawab pertanyaan yang mungkin bermaksud lain.


"Tidak Bang.. Jihan bukan siapa-siapa Abang" jawab Jihan tegas.


"Jihan.. mau kah kamu berpura-pura menyayangi Gazha? Saya akan membayar mu untuk itu"


"Apa hati bisa di paksa untuk pura-pura sayang?" tanya Jihan yang sebenarnya jengkel dengan ucapan Bang Rico.


"Apa sayang bisa kita pupuk tanpa ada cinta" tanya Jihan lagi.


"Allah Maha Penyayang. Tidak ada yang bisa menolak cinta untuk hamba Nya yang tawakal" jawab Bang Rico.


"Kalau memang berat.. Abang tidak memaksa"


"Tidak perlu pura-pura, Jihan sayang sama Gazha" jawab Jihan kemudian meninggalkan Bang Rico.


***


"Lettu Enrico. Mohon ijin menghadap"


"Ada masalah apa Ric?" tanya Dan Garin.


"Ijin.. bolehkah saya membawa Jihan ke Kalimantan?"


"Gila kamu..!! Apa kata orang nanti. Saya tidak ijinkan kamu bawa Jihan" tolak Dan Garin.


"Saya memohon demi putra saya.. Gazha" kata Bang Rico.


"Kamu mau jadikan Jihan pengasuh? Jihan masih harus selesaikan kuliahnya. Jihan saya kuliahkan bukan untuk jadi pengasuh putramu" Dan Garin sengaja menjawab sengit juga meninggikan volume suaranya.


Bang Rico melepas baretnya kemudian menekuk kakinya, berlutut di hadapan Dan Garin.. menepis dan membuang harga dirinya.


"Saya mohon Dan"


"Tidak.. besar sekali nyalimu mau bawa anak perawan orang, bagi saya.. putri saya sangat berharga meskipun Jihan tidak ada artinya bagi diri mu" tolak Dan Garin sekali lagi.


Bang Rico merangkak.. tangannya gemetar. Belum sampai ia mengungkapkan perasaan.. Jihan membuka pintu ruangan Dan markas yang di pinjam Dan Garin untuk menyelesaikan tugas.


"Jihan bersedia ikut Abang ke Kalimantan"


"Apa-apaan kamu ini. Perempuan kok mau saja di bawa laki-laki. Meskipun kamu itu buruk.. kamu harus punya iman" bentak Papa Garin.


"Saya lamar putri Komandan.. saya nggak akan lari dan jika saya melanggar kepercayaan komandan.. saya bersedia menerima hukuman apapun dari komandan" pinta Bang Rico berusaha mencari jalan keluar dari negosiasi yang alot.


"Enak saja. Nggak.. nggak ada lamar-lamaran. Perempuan yang di nikahi saja masih bisa nangis karena laki-laki, apalagi lamaran karena terpaksa. Keluar kamu sekarang.. saya sibuk..!!" Dan Garin melihat kedua tangan di depan dada, wajahnya terlihat sangar.. sekali lagi Dan Garin menjawab dengan sengaja.


"Ehmm.. berarti kalau Jihan sudah nggak perawan boleh ikut Abang khan pa?" tanya Jihan dengan wajah lugunya.


"Opo Jihaaan.. Coba ngomong sekali lagi???" suara Dan Garin meninggi, taringnya seakan tumbuh tiba-tiba.


Astagfirullah.. Jihan ini bicara apa sih?? Aku coba bicara baik-baik kenapa bibirnya asal ceplos saja.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2