Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
64. Kabar menyakitkan.


__ADS_3

Skip bagi yang tidak sanggup membacanya..!!


🌹🌹🌹


Sore hari berita buruk tiba di Batalyon. Bang Winata pulang membawa wajah lesu.


"Kenapa lesu begitu Pa?" tanya Anya istri Bang Winata sambil menganggukkan minuman pada suaminya yang berwajah pucat.


"Ada kabar duka ma, ada anggota yang tertembak, juga ada yang gugur" jawab Bang Winata akhirnya tidak bisa membendung tetes air mata.


Anya bisa menangkap kesedihan di mata Bang Winata.


Siapa yang tertembak.. dan siapa yang gugur Bang?" tanya Anya lagi.


"Maa.. " tiba-tiba Bang Winata terisak.


"Sabar pa..!!" Anya mengusap punggung Bang Winata.


***


Batalyon sedang berduka dan memasang bendera setengah tiang.


Danyon berdiri di atas podium. Seluruh istri anggota sudah ikut menangis terisak dalam enam bulan penantian.. dalam cemas, rindu dan berbagai rasa tak tertahan. Awalnya memang berita ini sengaja di simpan, tapi asrama adalah tembok yang berbicara.. hanya saja tidak ada yang tau siapa yang kembali pulang membawa nama demi negara dan siapa yang terluka dalam medan juang.


Para istri prajurit yang merasa sedang di tinggalkan.. duduk dengan cemas menanti siapa kiranya putra bangsa yang telah gugur dan apakah yang sedang terluka masih bisa di selamatkan.


Asya pun tak lepas dari tangis, ia berjalan lemas di bantu Anya dan Netta yang juga ikut bersedih dalam keadaan ini. Tak lama Nafa pun datang. Nafa dan Asya berpelukan. Kali ini Nafa terlihat tenang di sana. Papa Wira memintanya ikut dan bergabung bersama para istri prajurit yang lain.


"Apa kabar Mbak Asya?" tanya Nafa dengan mata berkaca-kaca.


Keduanya berpelukan tapi entah kenapa keduanya tak bisa menahan tangis.


Tak lama suara sirine memasuki gerbang utama Batalyon dan berhenti di depan aula diikuti beberapa truk di belakangnya.


~


Kaki Asya terasa berat, ia gemetar melangkah saat peti jenazah tertutup bendera memasuki ruang aula.

__ADS_1


"Abaaaaang..!!!!!!!!" refleks teriakan Asya yang begitu pilu mengagetkan semua orang yang berada disana.


"Asya ikut Abang..!!!!" teriaknya lagi.


Beberapa anggota berusaha menenangkan Asya namun semua tampak sia-sia. Asya memberontak hingga nafasnya terasa sesak. Tak lama ia memegangi perutnya yang terasa menegang hebat.


"Bu Rico.. tenang ya Bu.. Pak Rico......."


"Aarrgghh.." Asya semakin meremas perutnya kemudian memberontak dan berniat berlari mendekati peti jenazah.


"Abaaaaang..!!!!" Asya terlepas dari penjagaan para anggota dan para istri anggota yang lain.


Saat Asya melangkah, ada seseorang yang menarik tangan Asya. Asya memberontak tak karuan tak bisa untuk di tenangkan.


"Adek.. Ini Abang.. Abang sudah pulang sayang" kata Bang Rico kemudian memeluk Asya dengan erat.


Asya menengadah dan memastikan dengan jelas siapa yang tengah memeluknya. Mata Asya melihat dengan jelas sosok wajah sang suami yang penuh dengan luka. Hanya ada seragam tersampir di kedua bahunya.


"Abaaang???"


"Iya ini Abang" jawab Bang Rico.


Bang Rico terbatuk sampai menggigit kecil bibirnya, disana Bang Yudha sudah ingin melarang Asya.. tapi Bang Rico mencegahnya.


"Abang jahaaatt..!!" terdengar suara isak tangis Asya lagi hingga tak lama Asya ambruk menimpa Bang Rico.


"Sayaang..!! Kamu kenapa dek??" Bang Rico panik melihat Asya yang terlihat begitu kesakitan.


"Abang.. tolong Asya.." ucap Asya seolah kehabisan tenaga.


Bang Rico melirik ke arah bawah dan melihat ada sesuatu membasahi kaki Asya.


"Astagfirullah.."


"Bang Win.. tolong aku Bang..!!" ucap panik Bang Rico.


Bang Winata kebingungan mana yang harus ia utamakan, tapi melihat adiknya hampir pingsan karena syok.. ia pun tak tega. Bang Winata berlari menghampiri Bang Rico.

__ADS_1


"Hati-hati dadamu Ric, jangan beraktifitas berat. Kamu masih bisa hidup saja sudah syukur" tegur keras Bang Winata saat Bang Rico mengangkat tubuh Asya.


"Nanti saja ngomelnya Bang. Anak ku dalam bahaya, sepertinya Asya kontraksi" jawab Bang Rico.


"Jangan ngawur kamu Ric. Usia kandungannya belum genap delapan bulan khan." kata Bang Winata.


Bang Rico tak lagi menjawabnya, ia meneruskan langkah menuju ambulans.


...


Disana Mama Dinda dan Papa Wira ikut dalam penyambutan resmi. Ada Isak tertahan dari si cantik Nafa, kini ia tau bahwa sang suami telah berpulang untuk selamanya. Nafa membawa bucket bunga yang sebenarnya ia persiapkan untuk menyambut kedatangan Bang Acep, tapi semua sudah terlambat.


Enam bulan dirinya membuka hati untuk bisa menerima kehadiran Bang Acep dalam hidupnya, begitu ia sudah memiliki rasa itu.. kini Bang Acep meninggalkan dirinya untuk selamanya.


Nafa berjalan mendekati peti jenazah, di usapnya peti tersebut, lalu menciumnya.


"Hai pahlawan.. akhirnya kamu pulang juga. Taukah Abang.. Nafa sangat rindu belai hangat dan canda tawa bersama Abang, terima kasih atas waktu yang pernah Abang berikan. Nafa sayang sama Abang. I Love you Pratu Acep Baharuddin" Nafa meletakan bucket bunga lalu mencium peti jenazah itu sekali lagi. Kini pangkat itu sudah setingkat lebih tinggi.


Di sana ada langkah kaki mendekati Nafa. Bang Pandu menyerahkan ponsel milik Bang Acep.


"Selamat siang.. ini ada ponsel milik Pratu Acep. Almarhum ingin istrinya mendengar kata hatinya tepat sebelum beliau menghembuskan nafas terakhir"


Nafa menerima ponsel itu, air matanya menetes.


"Sendu Nafasya Lembah Arumdalu.. Parasmu cantik.. secantik sang pemilik nama. Berkah bagi Abang bisa menikahi gadis secantik kamu, apalah daya Abang yang sudah berani memperistri putri perwira tinggi. Abang hanya butiran debu di balik kokohnya bebatuan. Tapi sungguh, Abang tulus menyayangimu. Abang harap.. kamu tidak malu menjadi istri seorang prajurit sepertiku dan hanya keberanian yang menjadi taruhannya.. tapi percayalah, Abang mendapatkan pangkat ini dengan perjuangan, keringat, tangis dan darah.. seperti Abang-abang mu yang luar biasa. Suatu kehormatan bisa berada di tengah mereka..........." suara itu sedikit terpotong seolah Bang Acep merasakan sakit yang luar biasa.


Bang Pandu mendekati Nafa.


"Masih kuat dek?" tanyanya cemas.


"Iya.. saya pasti kuat..!!" jawabnya lirih beriringan dengan air mata yang semakin deras.


"Fasya sayang.........." terdengar kembali suara Bang Acep.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2