
Papa Sanca sampai menangis karena sudah menikahkan putrinya dengan Bang Vian. Gadis kecil yang ia nantikan hadirnya dulu.. kini telah menjadi seorang istri. Ada rasa tidak rela tapi dirinya harus mengikhlaskan.
Si cantik Aira memeluk Papa Sanca.
"Papa jangan nangis.. Aira bahagia kok. Ini juga keputusan Aira sendiri" kata Aira.
Bang El pun tak bisa membendung rasa sedihnya. Tapi ia begitu gengsi pada adik perempuannya itu.
"Abang sedih?" tanya Aira.
"Buat apa sedih. Hal menyusahkan dalam hidup Abang sekarang sudah sirna. Abang bebas jungkir balik tanpa kau ganggu." jawab Bang El tanpa memperhatikan wajah adik perempuan satu-satunya.
Aira melepaskan genggaman tangan Bang Vian lalu mendekati Bang El. Ia meraih tangan Bang El lalu mencium punggung tangannya kemudian memeluk Abangnya itu.
"Aira tau, Aira adik yang sangat menyebalkan.. tapi Aira sayang sama Abang. Sekarang Aira sudah jadi istri orang.. apa nanti masih bisa Aira memeluk Abang seperti ini?"
Saat itu juga Bang El memeluk Aira juga. Matanya basah berlinang air mata. Batinnya juga sedih, tersiksa menyaksikan sang adik menikah.
Aira bersandar di dada Bang El.
"Maaf.. Aira melangkahi Abang. Abang jangan marah ya" ucapnya lagi.
Bang El mengecup kening Aira.
"Asal kamu bahagia.. apapun itu Abang ikhlaskan. Pelukan ini selamanya juga akan menjadi milikmu. Kelak kamu juga bisa mencari Abang jika suamimu memperlakukan kamu dengan tidak pantas, ada Abangmu yang akan selalu memasang badan untukmu"
Saat mendengar itu, kesedihan Aira berlipat-lipat. Abang yang dulu selalu bertengkar dan berdebat dengannya ternyata begitu mencintainya bahkan rela melakukan apapun untuknya. Aira lemas sampai Bang El harus mengangkat nya dan duduk di sofa.
Ingin rasanya Bang Vian menolong istrinya, tapi apa daya.. kondisinya masih belum pulih. Menggerakkan badan saja masih harus di bantu.
"Aira nggak apa-apa khan El?" tanya Bang Vian cemas.
"Aman Bang, biasa anak ini suka drama. Kalau sudah begini maunya camilan Bang. Kasih saja cilok.. nanti juga diem sendiri" jawab Bang El.
"Nanti Abang belikan satu gerobak, kalau perlu.. yang jual juga Abang angkut" kata Bang Vian meredakan suasana.
Aira tersenyum geli mendengar ucapan Bang Vian.
"Malam ini kita tidur di rumah sakit. PAM pengantin baru. Takutnya ada yang pengen cari kesempatan" sindir Papa Sanca.
"Cari kesempatan bagaimana Dan. Rudalnya saja masih perbaikan" jawab Bang Vian tanpa sungkan.
Seketika mata Papa Sanca membulat. Pikirannya melayang tak sanggup membayangkan hal yang tidak-tidak.
__ADS_1
"El.. cepat panggil dokter..!! Minta dokternya kasih obat bius ke Vian lagi, biar dia nggak macam-macam"
"Siaaapp..!!" Bang El menarik senyum usil melihat wajah cemas Bang Vian. Ia tau saat ini statusnya lebih tinggi meskipun dirinya adalah junior Bang Vian tapi dalam keluarga tetap dirinya adalah kakak ipar.
...
Jihan duduk bersandar di sofa. Kegiatan seharian ini membuatnya sangat lelah. Mulai urusan kuliah, urusan kantor hingga perwakilan penutupan acara di kompi.
Baru beberapa saat duduk, perutnya terasa kencang dan sulit bergerak. Ia hanya bisa meringis kesakitan tanpa bisa banyak bersuara.
Tak lama pintu rumah terbuka. Bang Rico pulang bersama Gazha.
"Mama sakit yah" kata Gazha.
Bang Rico pun menoleh dan memperhatikan gerak gerik Jihan dan ternyata benar, istrinya itu sedang menahan sakit.
"Kamu kenapa dek?" tanya Bang Rico cemas dan langsung menghampiri Jihan.
"Nggak tau Bang, perut Jihan nggak nyaman." jawab Jihan yang langsung berjalan pelan meninggalkan Bang Rico yang baru saja menghampirinya.
~
Bang Rico masih asyik bermain bersama Gazha sampai akhirnya terdengar suara dari arah kamar mandi.
Lirih Bang Rico mendengar suara itu.
"Sebentar ya Bang, Abang main sendiri dulu. Mama panggil ayah tuh"
Gazha mengangguk dan asyik sendiri bermain dengan mainan barunya.
~
"Astagfirullah.. kok bisa begini dek?" mata Bang Rico membulat melihat noda di pakaian Jihan.
"Nggak tau Bang, perut Jihan nyeri.. tau-tau begini" jawab Jihan.
"Sejak kapan begini?" tanya Bang Rico.
"Sejak pulang kegiatan tadi" jawab Jihan lagi.
Bang Rico segera mengangkat Jihan ke dalam kamar untuk berbaring. Ia cemas akan terjadi sesuatu pada calon bayinya.
"Bang.. tolong belikan obat di apotik. Jihan takut ini tanda-tanda keguguran" kata Jihan.
__ADS_1
"Nggak akan terjadi sesuatu sama anak kita. Jangan berpikir aneh-aneh" ucap Bang Rico lebih padahal dirinya cemas luar biasa.
"Abang beli obatnya sekarang. Apa nama obatnya?" Bang Rico mengambil ponsel untuk mencatat nama obat yang di butuhkan.
-_-_-_-_-
Hari hampir malam tapi Bang Rico masih belum bisa menemukan obatnya juga. Rasa cemas Bang Rico semakin menjadi. Hatinya mulai gelisah ketakutan jika harus kehilangan bayi untuk kesekian kalinya.
"Ya Allah.. sudah berapa apotek yang kudatangi tapi tak ada satupun yang memiliki obatnya." gumam Bang Rico.
Tak lama ada panggilan telepon dari Jihan. Bang Rico segera mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum.. gimana dek?"
"Wa'alaikumsalam.. Abang lama sekali. Cepat pulang ya" pinta Jihan.
"Ya Allah.. Apa semakin parah? Abang pulang sekarang juga" Bang Rico segera mematikan panggilan teleponnya dan langsung menyalakan motornya kemudian menarik gas dengan kecepatan tinggi.
Perasaan was-was cemas tak bisa di hindari sampai berkali-kali dirinya hampir menabrak apapun yang ada di jalanan.
"Jihan.. sayang.. sabar ya dek"
:
Beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya Bang Rico sampai juga di rumah. Saat ia tiba.. suasana terlihat sangat ramai.
"Jihan.. Ya Allah Jihaaaaann..!!!!!!!" Bang Rico panik dan segera memarkir motornya kemudian berlari kencang, membuka pintu masuk ke dalam rumah.
braaaaaakkk...
gggrrrjjjkkk
Entah bagaimana awalnya.. Papa Garin tersiram dua gelas es teh yang sedang di pegangnya.
"Ya Tuhan Ricooooo.. ada apa sih datang-datang seperti orang kebakaran?????" bentak Papa Garin setengah basah kuyup.
"Ma_aap Pa" Bang Rico ternganga melihat mertuanya.
.
.
.
__ADS_1
.