
Ayah Ambar tidak tahu apa yang terjadi pada putrinya. Ambar tiba-tiba jatuh di balik pintu setelah menerima tamu yang katanya calon suami Felisya. Dia pikir mereka membicarakan masalah pernikahan tapi sepertinya bukan. Karena sekarang putrinya itu mengerang dan didatangi oleh ibunya.
"Nak, kamu kenapa?"
"Sakit Bu. Sakit"
Sakit? Memangnya anaknya itu sakit apa? Kenapa sekarang malah menangis saat dipeluk ibunya?
"Sabar ya Nak. Sabar"
"Ambar gak mau lagi suka sama siapapun lagi Bu. Gak mau"
Suka? Jadi putrinya itu suka sama calon suami sahabatnya? Bule tadi? dasar anak gak tau diri. Ini sebabnya Ayah Ambar selalu memaksa anaknya itu untuk menikah. Sekarang sepertinya dia harus lebih keras lagi pada Ambar.
Belum sempat mendekat, tiba-tiba Ayah Ambar melihat tangan putrinya jatuh ke lantai
"Pak, tolong Pak. Ambar pingsan"
Ayah Ambar segera maju, memeriksa kebenaran tentang kondisi putrinya. Dan ternyata benar, Ambar pingsan. Segera saja dia mengangkat tubuh putrinya yang ringan itu ke kursi tamu.
"Kita ke dokter"
"Sebentar Pak. Tunggu Ambar sadar dulu" jawab istrinya lalu berlari mengambil minyak kayu putih untuk dioleskan ke bawah hidung Ambar. Tak lama putrinya tersadar tapi masih terlihat lemah.
"Kita ke dokter sekarang!" Tanpa menunggu persetujuan istrinya, Bapak Ambar segera membopong putrinya untuk masuk ke dalam mobil. Ambar belum pernah pingsan sampai lemas seperti ini. Meskipun putrinya itu tidak pernah mengeluh sakit, tapi sekarang dia merasa khawatir.
"Sudah Pak" kata ibunya yang menyusul setelah mengambil dompet dan beberapa pakaian Ambar.
Setelah perjalanan selama sepuluh menit akhirnya mereka sampai di rumah sakit dan Ambar segera masuk ke dalam Unit gawat Darurat.
"Mba Ambar hanya kecapekan dan dari tadi mengeluh sakit di dada. Tapi, kami tidak menemukan apa-apa. Setelah menerima infus, Mba Ambar boleh pulang" jelas dokter yang menangani Ambar. Bapak Ambar terpaksa menunggu diluar karena di dalam ruang Gawat Darurat sedang ramai pasien. lagipula, dia tidak pernah merasa nyaman berada di dekat orang sakit. Tak lama istrinya keluar dari ruang gawat Darurat dan menemaninya duduk.
"Ini semua karena Ambar belum nikah" katanya mengusik tentang masalah pernikahan lagi.
"Pak. Bapak kan sudah janji gak akan maksa Ambar masalah nikah lagi?"
"Daripada seperti ini???!!"
__ADS_1
Ayah Ambar marah. Dia baru tahu anaknya suka dengan calon suami orang. Bukan muslim juga.
"Ambar itu menutup semuanya rapat-rapat. Dia gak mau membagi apa-apa sama kita karena takut kita khawatir. Setahu ibu, laki-laki itu baik dan gak pernah macam-macam. Tapi Ambar juga pinter menjaga diri dan gak deket-deket sama laki-laki itu"
"Jadi kamu tahu? Itu alasannya kamu dukung Ambar gak nikah?"
"Pak. Nikah itu masalah hati. Sekarang Ambar memang suka sama laki-laki milik orang lain. tapi dia sudah ngerti konsekuensinya. Dia menjauh dan pergi. Ambar itu ngerti Pak. Kalo masalah Galih, dia itu khawatir sama masalah pendidikan. Galih kan lulusan S2, tapi Ambar cuma lulusan SMA. takutnya itu bikin masalah. Semua itu tidak pernah diceritakan Ambar sama kita, karena anak kita itu ngerti Pak. Ngerti kalau semua itu bakal; bikin kita terbebani"
Setelah mendengar penjelasan istrinya, ayah Ambar terdiam. Dia tidak pernah tahu kalau putrinya memiliki masalah seperti ini. Dia memang tidak bisa menyekolahkan Ambar ke jenjang yang lebih tinggi. Karena pekerjaannya yang saat itu sedang banyak kendala. Tapi putrinya tidak pernah mengeluh dan memilih untuk bekerja. Jadi dia pikir, semuanya baik-baik saja. Sekarang ayah Ambar merasa malu. malu karena tidak pernah tahu tentang putrinya yang sedang mengalami kesusahan.
"Laki-laki itu? Bule itu?"
"Calon suaminya Feli. Ambar pernah cerita kalo suka sama laki-laki dan sepertinya bener bule itu"
"Bukan muslim"
"Iya. Tapi Ambar ngerti dan menjauh. Dia sudah tahu kalau semua itu gak mungkin"
Masalah hati dan perasaan perempuan. Meskipun sudah menikah selama puluhan tahun dengan istrinya, ayah Ambar tetap tidak akan pernah mengerti masalah perasaan perempuan. Jadi, lebih baik dia diam dan mengamati saja.
"Ambar gimana?"
Ayah Ambar terpaksa menyetujui saran istrinya. Lebih baik dia tidak bicara tentang masalah ini lagi. lagipula, Ambar memang tidak pernah sekalipun mengecewakannya.
"Yang penting keadaan Ambar sekarang"
"Iya"
Kedua suami istri itu melihat ke arah pintu ruang Gawat Darurat dan menguntai sebuah doa agar putri mereka baik-baik saja. Agar mereka diberi kesempatan untuk melihat putrinya itu bahagia dengan hidupnya.
Adhi pulang ke rumahnya dan berbaring di atas ranjang. Dia menutup matanya, berusaha menghapus apa yang baru saja dialaminya. Rasa malu yang teramat sangat, terjadi karena kebodohan yang dilakukannya. Sungguh, baru kali ini dia merasa kecewa karena apa didapatnya berbeda dengan harapan. Bagaimana bisa wanita itu mengatakan tidak menyukainya dengan sangat jelas? Padahal dia ... . Tidak, dia yang salah. Dialah yang menyukai Ambar dan berharap wanita itu juga mencintainya.
"Bos. Bos"
Adhi mendengar suara anak buahnya yang menyebalkan. Kenzo, anak bodoh itulah yang membuatnya seperti ini. Semuanya karena perkataan anak bodoh itu.
"Bos, ternyata Anda disini? Tunangan Anda menghubungi saya dan menyuruh membantu Anda bersiap untuk ke Bali"
__ADS_1
Oh, iya. Feli. Dia akan menikah dengan Feli besok pagi. Adhi bangun dari tidurnya dan mulai bersiap.
"Kosongkan jadwalku hari ini, aku ingin cepat pergi ke Bali"
"Baik Bos. Tapi ... katanya saya harus memeriksa kaki Anda juga. Memangnya kaki Bos kenapa?"
Adhi menurunkan pandangan dan mencoba untuk menggerakkan kakinya. Masih terasa sakit.
"Tidak ada apa-apa"
"Baik Bos. Lalu rumah ini? Apa saya harus mempersiapkannya untuk Anda dan istri nanti?"
Rumah ini? Rumah yang menyimpan kenangan tentang wanita itu. Apa yang akan dilakukannya?
"Jual saja"
"Apa? Tapi Bos baru saja punya rumah ini bulan lalu. Masa' mau dijual?"
"Lakukan perintahku dan diamlah! Kau berisik"
Adhi memakai mantel yang baru lalu melihat bayangannya di cermin. Dia tidak tidur semalaman dan wajahnya hancur sekali.
"Apa Anda bertemu Ambar kemarin?"
Dia melihat bayangan Kenzo yang terpantul di dalam cermin, sepertinya anak bodoh itu ingin memeriksa sesuatu.
"Ya. Aku bertemu dengannya"
"Apa Anda ... "
"Apa? Aku akan menikah besok. Apa kau tidak tahu hal itu?"
"Jadi ... Anda tidak melakukan apa-apa dengan Ambar?"
"Wanita itu hanyalah angin yang lewat dan berlalu. Apa yang harus kulakukan dengan hal itu? Sebaiknya kau juga mencari wanita lain. Jangan terpaku pada wanita yang tidak menganggapmu pantas menjadi pasangannya"
"Tidak. Ambar bukan orang seperti itu. Dia menolak saya karena ... "
__ADS_1
"Kau urus saja urusanmu sendiri. Aku tidak peduli"
Kenzo kelihatannya masih ingin bicara tapi Adhi tidak mau mendengarnya lagi. Mulai sekarang dia tidak akan pernah ingin mendengar nama wanita itu lagi.