
"Ha?"
Adhi menarik senyumnya yang sempat mengembang karena merasa berlebihan. Seharusnya dia tidak bicara seperti itu atau wanita ini akan salah paham dengannya.
"Bos udah pernah liat saya waktu gendut kan? Enam tahun lalu. Itu Anda bilang cantik?"
Adhi mencoba mengingat-ingat wanita yang bertemu dengannya di tempat parkir dan hampir menendang Kenzo. Wanita yang terlihat sangat kuat dan tidak mudah dihembuskan oleh angin.
"Aku ingat"
"Nah, saya dulu berjerawat sampai disini, terus dari kepala sampai kaki besarnya sama. gak ada lekuk sama sekali"
Iya, benar. Adhi tersenyum lagi mengingat wanita yang tidur nyenyak dan menggeser penutup kepala sampai menutupi sebagian besar wajahnya.
"Belum lagi gaya berjalan saya seperti preman. Duh rasanya gak mungkin itu dibilang cantik"
Adhi kira wanita ini akan gembira dan tersipu karena pujiannya. Ternyata dia salah. Ambar memang berbeda dari wanita-wanita lain yang dikenalnya. Kepribadiannya sangat santai meskipun berhadapan dengan sesuatu yang genting.
"Iya, kau juga hampir saja menendang pelangganku"
"Oh, yang kakek-kakek mesum itu?"
"Iya"
"Cih, saya masih jijik waktu mengingatnya"
Adhi tersenyum lagi. Tidak tahu berapa kali dia tersenyum hari ini. Tapi dia tidak menyesal telah mengikuti Ambar ke tempat ini.
"Dia belum terlalu tua"
"Apa? Tapi rambutnya sudh banyak yang putih"
"Dia menghadapi hidup yang keras untuk dapat sampai di tempatnya. karena itu rambutnya"
"Apa semua orang yang mengalami hidup keras akan memiliki rambut putih seperti itu?"
"Mungkin"
Wanita itu kemudian seperti ingin memeriksa rambutnya yang berada di balik penutup kepala. Tapi dibatalkan, karena ada Adhi disana.
"Wah saya gak tau. harusnya saya gak menilai seseorang terlalu cepat"
Pembicaraan mereka berlangsung lama sekali. Adhi menikmati setiap detik mereka bersama. Pelayan restoran harus mengusir mereka agar bisa berhenti membuka restoran untuk makan malam.
"Wah udah malem banget" kata Ambar lalu melihat jam tangannya. Wanita itu ternyata memiliki pergelangan tangan yang kecil dan terlihat rapuh.
__ADS_1
"Iya"
"Kalau begitu saya kembali ke kamar dulu"
"Kau tidur di kamar berapa?" tanya Adhi tanpa bermaksud apa-apa.
"Memangnya kenapa?"
"Tidak, aku hanya bertanya"
"Saya tidak akan bilang. karena Anda mulai menakutkan sekarang"
"Apa?"
"Anda sangat menakutkan"
"Apa maksudmu?"
"Bertemu di hotel yang sama. makan bersama. Saya yakin semua itu bukanlah kebetulan"
"Aku bukan laki-laki yang akan mengikuti seorang wanita sepertimu"
"Benarkah?"
"Saya tidak menuduh"
"Kenapa aku merasa seperti dituduh?"
Adhi berjalan mendekat ke arah wanita itu dan jarak antara mereka semakin berkurang. Tercium aroma bunga lembut dari tubuh wanita itu, sangat harum dan menenangkan. Tapi, Ambar melangkah mundur dan berbalik. Wanita itu seperti sedang berlari dengan sekuat tenaganya dan menghilang dibalik jalan setapak yang dibuat hotel untuk menuju kamar. Adhi kehilangan jejak wanita itu hanya dalam sekejap mata.
Ambar segera masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamarnya. Kok bisa cowok itu ada disini? Kebetulan? gak mungkin. Apa cowok itu mengikuti Ambar? Untuk apa? Apa karena kejadian tadi? Apa cowok itu sadar kalau Ambar menegang karena sentuhannya? Tidak mungkin. Dia memakai gaun dengan banyak tekstur kain yang berbeda dan kulit lengan pasti sangatlah tebal. Belum lagi jas yang dipakai cowok itu. Tidak mungkin apa yang tubuh Ambar tunjukkan dapat diketahui oleh cowok itu. Apa terasa? Ambar bingung sekali sekarang. Apa dia akan bertemu lagi dengan cowok itu besok? Lalu, apa yang harus dia lakukan? Oh, Ambar terpikirkan sesuatu yang bagus. Dia bisa pulang sekarang. Menyetir ke jakarta malam-malam begini hanya butuh dua jam tiga puluh menit untuk sampai. Tapi ... apa dia akan mengorbankan liburannya hanya demi cowok itu? Liburan yang baru dia rasakan setelah hampir lima tahun.
"Tidak ... tidak ... tidak!!!" teriak Ambar di dalam kamar. Dia tidak akan pernah mengorbankan appaun demi cowok itu. Cowok itu adalah urusan Feli dan Kenzo, bukan dirinya. karena berpikir seperti itu, Ambar menjadi tenang. Dia juga bisa tidur setelah jam menunjukkan pukul dua belas malam pas. Dia tidak tahu cowok yang baru saja dia pikirkan sedang duduk di depan kamarnya.
Matahari menyapa Ambar saat dia sedang enak-enaknya tidur. Dia segera bangun dan sholat subuh sebelum kembali lagi ke kasur. Tapi dia tidak bisa tidur lagi karena ponselnya terus berbunyi. Dia mengangkat telepon dan terkejut karena ada seseorang yang berteriak kencang disana.
"Ambaaaaarrrr!!!"
Ambar dduduk di kasurnya dan melihat wajah Rea dan Feli ada di ponselnya.
"Oh, kalian. Apa?"
"Kamu dimana? Itu bukan kamarmu"
__ADS_1
"Aku di Bandung" Ambar menggosok mata dengan tangan kanannya lalu mencoba membuka mata lebih lebar.
"Kamu ada klien disana Mbar?" tanya Feli dengan suara yang halus.
"Gak Fel. Aku kemarin kondangan ke temen kursus yang ada disini. Terus aku gak kepingin langsung pulang dan nginep di hotel"
"Oooo gitu" jawab kedua sahabat yang sedang bersama di London itu. Tunggu. Di London sekarang bukannya sedang tengah malam?
"Ada apa kalian telepon?"
"Gak, ini Feli kan kemarin udh tampil jadi Nyonya keluarga Syahreza. Dan sekarang ternyata keluarga Syahreza mau ngadain acara Bridal Shower buat Feli"
Ambar merasa sedikit tidak nyaman saat Rea menyebutkan nama keluarga itu. Dia baru saja bertemu dengan salah satu anggota keluarga Syahreza disini, di tempat ini. Mereka bicara panjang lebar sampai waktu berlalu dengan cepat kemarin malam.
"Wah, asti acaranya gedhe-gedhean ya?" seru Ambar sedikit tidak merasa senang.
"Acaranya bakal diadain di London. Jadi ... kami minta kamu diundang kesini"
Ambar terkejut sekali lagi. Dia diundang ke London? Apa telinganya mendengar dengan benar?
"Apa?"
"Kami eh aku minta undangan satu untuk sahabat kami yang ada di Indonesia. Dan ternyata Danial mengabulkannya"
"Aku ... ke London? Kalian serius?"
Seandainya benar, maka ini adalah pertama kalinya Ambar pergi keluar negeri.
"Iya, Mbar. Danial juga mengirimkan tiket pulang pergi untukmu" jawab Feli dengan serius.
"Nanti kamu tinggal aja di rumahku. Kita bisa sama-sama seperti dulu lagi. Paling gak selama seminggu"
Senang? Tentu saja Ambar senang. Dia bahkan bisa bersorak kencang di tempat ini kalau tidak sadar bahwa kamar yang sedang dipakainya tidur adalah hotel.
"Beneran? kapan?" tanya Ambar.
"Dua minggu sebelum pernikahan. Feli kan pengen nikah di Bali. Jadi seminggu sebelum pernikahan kita semua pulang ke Indo dan merayakan hari Feli menjadi Nyonya keluarga Syahreza"
"Oke .. oke. Aku oke"
"Baik kalo gitu. Kita mau tidur dulu. Feli juga udah dijemput sama Danial tuh. Bye Mbar. nanti kita kabari lagi"
"Ya ... iya"
Ambar masih memegang ponselnya yang kini menampilkan layar gelap. Dia tidak percaya. Dia akan pergi ke negara lain dan semua sudah ditanggung. Betapa beruntungnya dia. Tapi ... sepertinya ada yang terlupa olehnya. Sesuatu yang mengganjal di hatinya.
__ADS_1