Second Lead Fate

Second Lead Fate
Seratus Delapan


__ADS_3

Menikah? Wanita itu menikah?


Adhi merasa kalau hal itu tidak mungkin terjadi. Tapi anak buahnya yang bodoh itu terlihat begitu kesal sampai meninggalkan pekerjaannya begitu saja demi memeriksa kebenaran tentang wanita itu. Dengan siapa? Tidak mungkin wanita itu mendapatkan laki-laki semudah itu. Apalagi dengan sifatnya yang sekeras batu. Tapi ... apabila laki-laki itu memiliki kepercayaan yang sama dengan Ambar, semuanya pasti mungkin terjadi. Tiba-tiba saja Adhi merasa lemah. Jantungnya yang selalu berdegup kencang karena mendengar nama wanita itu, kini melemah. Dia seakan tidak bisa melangkahkan kaki ke dalam mobil untuk bekerja.


Apa yang sudah dilakukannya? Apa yang dilakukannya disini? Dia menikah. Dia menikah dengan perempuan yang tidak dicintainya lagi. Lalu, wanita itu? Apakah ini artinya mereka memang tidak ditakdirkan untuk satu sama lain? Padahal Adhi berencana membuat hidup wanita itu serasa seperti di neraka dan akhirnya bertekuk lutut di depannya. Dan sekarang? Apa yang bisa dia lakukan lagi? Tidak ada. Dia hanya bisa meratapi keputusannya.


"Sayang, kamu masih disini?"


Adhi tidak mendengar pertanyaan Feli dan masuk ke dalam mobil. Supir membawanya ke perusahaan tanpa kehadiran Kenzo. Di perusahaan dia melakukan pekerjaan yang biasa dia lakukan selama dua bulan ini. Memastikan perusahaan ayah istrinya berjalan semestinya dan tidak lagi merugi seperti tahun-tahun sebelumnya. Dia juga harus memastikan dua mertuanya tidak menghalangi usahanya untuk melakukan itu.


"Anda salah" kata bayangan wanita yang tiba-tiba muncul di sebelahnya. Wanita itu kini memakai hijabnya dan terlihat sangat cantik. Kapan Adhi pernah melihat wanita itu secantik ini? Tidak pernah.


"Kenapa? Anda salah" Wanita itu menunjuk ke berkas yang sedang ditandatanganinya. Adhi memeriksa dan memang melakukan kesalahan.


Dia melihat bayangan wanita itu kini sedang melihat keluar jendela ruangannya.


"Disini cantik sekali, Anda pasti akan betah. Saya ... harus pergi. Anda tidak boleh menghadirkan saya disini lagi. karena saya ... sudah menikah"


Perlahan bayangan wanita itu menghilang. Meninggalkan Adhi yang kemudian melempar semua berkas di mejanya.


"Tidak!!" teriak Adhi membuat sekretaris ayah Feli datang ke ruangannya.


"Tuan, kenapa?"


"Jangan masuk!! Keluar!!"


Adhi melepaskan dasi yang mengikat lehernya dan merasa sangat putus asa. Dia duduk di kursi menghadap ke tempat bayangan Ambar tadi berdiri dan memegang kepalanya.

__ADS_1


"Seharusnya tidak begini. Seharusnya tidak begini" ratapnya terus menerus, membiarkan dirinya semakin tenggelam dalam rasa menyesal.


Sekitar tiga puluh menit kemudian dia keluar dari ruangan dan perusahaan. Banyak orang yang menanyakan tujuan kepergiannya, tapi Adhi tidak ingin menjawab apapun. Dia membawa mobil sendiri dan pergi ke kafe di pinggir pantai. Memesan beberapa botol alkohol dan mengisi perutnya yang kosong dengan air keras itu. Dalam beberapa jam, Adhi menjadi sangat mabuk dan tidak dapat mengangkat tangannya sendiri. Dia masih ingin minum untuk melupakan setiap kenangan yang wanita itu tinggalkan di kepalanya. Tapi tangan dan tubuhnya terasa sangat lemah.


"Tuan. Tuan. Apa Anda pingsan?" tanya pegawai kafe yang datang ke mejanya. Adhi tidak pingsan, juga tidak tidur. matanya terbuka lebar, tapi dia tidak ingin beranjak sedikitpun dari posisinya.


"Apa Anda ingin pulang? Dimana rumah Anda?"


"Aku masih ingin minum" jawabnya lemah.


"Anda sudah minum terlalu banyak Tuan. Sebaiknya Anda pulang dan tidur"


"Siapa kau berani memerintahku? Aku adalah putra kedua keluarga Sayhreza yang berpengaruh di Inggris"


"Dimana rumah Anda Tuan? Apa saya harus menghubungi seseorang?"


"Tapi Tuan"


Adhi mengeluarkan kartu kreditnya dan melemparkannya pada pegawai kafe.


"Diam dan bawakan aku minuman lagi!!"


Keinginannya terpenuhi tak begitu lama, dan Adhi mulai membasahi kerongkongannya lagi dengan minuman keras. Sampai malam hari dia akhirnya memanggil supir yang membawanya pulang. Di depan rumah, Feli menyambutnya dengan wajah khawatir. Dia tidak suka wajah itu. Dia membencinya. Dia suka wajah yang polos dan penuh ketenangan seperti Ambar.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa?"


"Diam!! AKu ingin tidur"

__ADS_1


"Baiklah"


Feli dan supir membawanya ke kamar lalu membaringkan tubuh lemah Adhi di ranjang. Dia menggulung tubuhnya sama seperti yang dilakukan Ambar waktu itu. Kepalanya terasa pusing tapi hatinya lebih sakit lagi.


"Kenapa? Kenapa?" rintihnya membuat semua orang tidak mengerti, terutama Feli.


Sekitar beberapa menit kemudian, muncul rasa mual di dalam perutnya. Dengan susah payah dia berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi perutnya. Selesai melakukan itu, dia kembali ke kamar dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di ranjang, dia melihat wajah yang ingin dia lihat. Wanita itu datang. Adhi berjalan dengan cepat menuju AMbar dan mulai membelai pipi wanita itu.


"Kau disini" katanya lalu mendapatkan senyum dari Ambar. Senyum yang dirindukannya.


Tanpa berpikir dua kali, Adhi segera menindih tubuh Ambar di atas ranjang. Dia mencium wanita itu tanpa jeda, seakan ingin menelan Ambar hidup-hidup. Dia merasakan sedikit kejanggalan saat mendengar ******* Ambar tapi tidak terlalu peduli. Dia akhirnya berhubungan dengan wanita yang dicintainya. Dan rasanya sangat luar biasa. Hanya saja, ternyata wanita itu tidak berdarah seperti selayaknya perawan. Apa karena semua wanita berbeda. Pasti karena Ambar berbeda. Tentu saja, dan Adhi tidak mempermasalahkannya. Sekali lagi karena terlalu bahagia dapat memeluk, menjadikannya satu dengan wanita yang sangat dicintainya.


Pagi harinya, Adhi terbangun dan merasakan pusing di kepalanya bertambah parah. Pasti karena semua minuman yang dia telan kemarin. Tapi semuanya setimpal karena dia telah memiliki ... . Wajah Adhi berubah keras saat melihat perempuan yang berbaring di sampingnya. Kenapa ... bukan Ambar?


"Sayang kau sudah bangun?"


Suara Feli membuatnya ketakutan. Tidak. Dia sangat yakin kemarin malam telah berhubungan dengan Ambar. Ambar ... wanita yang dirindukan dan dicintainya. Bukan ... . Apakah dia berkhayal lagi semalam? Tidak ... sepertinya tidak. Tapi ini? Apa yang sedang ada di depannya sekarang?"


"Kau ... kenapa disini?" tanya Adhi takut.


"Sayang, akhirnya kita menjadi suami istri yang sebenarnya"


Adhi terkejut. Dia segera berdiri dan memakai celananya dengan cepat. Tidak. Tidak mungkin. Ini salah. Dia benar-benar berhubungan dengan Ambar semalam, bukan ... . Adhi merasa perutnya sakit lagi dan pergi ke kamar mandi. Dan setelah mengeluarkan semua isi perutnya, dia menyadari sesuatu. Wanita itu ... tidak akan mungkin berada disini. Dan yang berhubungan dengannya kemarin, bukanlah Ambar, tapi ... .


"Bodoh!!" umpatnya pada diri sendiri lalu mulai menyalahkan diri sendiri karena terlalu banyak minum. Seharusnya dia menahan diri. Seharusnya dia ... silan. Seharusnya dia diam saja dan tidak melakukan apa-apa. Kini, dia membuat semuanya semakin rumit dan tidak akan bisa keluar dari tanggung jawabnya dengan mudah.


"Bodoh!!" umpatnya lagi dengan sepenuh hati.

__ADS_1


__ADS_2