Second Lead Fate

Second Lead Fate
Seratus Delapan Belas


__ADS_3

Setelah kurang lebih melewati tujuh jam penerbangan L:ondon-Jakarta, Rea berlari dengan segenap kekuatannya. Pergi ke ruang dimana sahabatnya berada. Di ujung lorong, dia dapat melihat Ambar menunduk dan hatinya semakin tidak tenang.


"Mbar" katanya membuat perempuan berhijab itu mendongak. Wajah Ambar penuh dengan air mata, membuatnya takut.


"Re" kata Ambar lalu berdiri dan *******-***** tangannya sendiri.


"Feli"


"Barusan dokter masuk. Cuma suaminya yang boleh masuk"


"Sialan"


"Gimana ini Re? Feli ... lemah banget" cerita Ambar juga ketakutan.


Rea tidak bisa membayangkan perasaan Ambar sekarang. Bagaimanapun pasti sahabatnya itu merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi dengan Feli. Tapi ... seharusnya bukan Ambar yang patut disalahkan tapi laki-laki bodoh yang menjadi suami Feli. Bagaimana sebenarnya laki-laki itu memperlakukan Feli setelah menikah? Cara apa yang dilakukan laki-laki itu sampai membuat Feli menjadi seperti ini?


"Udah tenang Mbar. Aku dateng sama Danial. Katanya Danial bakal minta dokter dari Singapura untuk mengurus Feli"


"Beneran?"


"Iya. Kamu tenang dulu. Danial masih ada di depan lagi ngurus itu"


Saat Rea berbicara dengan Ambar pintu ruang rawat terbuka. Dokter dan suster keluar menunjukkan wajah putus asa saat melihat mereka berdua. Sebuah firasat buruk segera menyeruak di dalam hati Rea dan juga Ambar. Tidak mungkin.


"Orang tua Nyonya Felicya?"


"Mereka sedang pergi" jawab Ambar yang lebih tahu tentang hal itu.


"Anda berdua?"


"Kami sahabat dan saudara Feli meskipun tidak sedarah. Apa yang terjadi?"


"Kami sudah memberitahu Tuan Adhitama di dalam. Kelihatannya Nyonya Feli tidak akan dapat bertahan lagi. Beliau meminta semua keluarga untuk masuk dan mengucapkan salam perpisahan"


Ambar menjatuhkan pantatnya ke kursi dan Rea hanya bisa mematung di tempatnya berdiri.


"Apa? Kenapa? Tidak. Ada dokter yang lebih ahli akan datang kesini. Dia pasti akan menyembuhkan Feli" sangkal Rea.


"Mohon maaf. Kami sudah melakukan segalanya yang kemungkinan semua dokter lakukan dalam situasi seperti ini. Tapi tubuh Nyonya Feli terlalu lemah"

__ADS_1


Rea tidak sabar mendengar penjelasan dokter dan segera masuk ke dalam kamar rawat sahabatnya. Ambar dengan sigap mengikutinya di belakang. Dan saat Rea melihat Adhi hanya bisa berdiri di ujung ranjang Feli, Rea mengamuk. Dia memukul wajah Adhi dan menghajar laki-laki itu dengan segenap kekuatannya.


Para dokter dan perawat yang tadi diluar ruangan segera masuk kembali untuk menahannya.


"Anda sebaiknya pergi dari kamar ini"


"Laki-laki itu yang seharusnya pergi. Dia ... dialah penyebab semua ini terjadi" teriaknya lalu dipaksa keluar dari kamar Feli.


"Jangan tahan aku. jangan tahan!!!"


"Rea" kata Ambar membuatnya sedikit tenang. Kenapa? Kenapa semua ini terjai? Seharusnya dia tidak membuat Ambar menjalankan rencana untuk menyatukan pasangan ini. Seharusnya dia diam saja dan melihat Feli menikah dengan Danial. Mungkin saja Feli akan mencintai Danial seiring berjalannya waktu. Tidak terbaring lemah di atas ranjang seperti itu


"Aku mau ketemu Feli. Aku ... " Rea tidak bisa berkata apa-apa lagi dan segera masuk membawa Ambar ke dalam kamar Feli.


"Re" sapa Feli dengan suaranya yang lemah. Ambar menghapus semua air matanya dan berusaha tampil ceria di depan Feli.


"Iya Fel. Aku dateng. Kamu ... gak apa-apa?" Rea merasa sangat bodoh bertanya seperti itu. Tapi dia tidak tahu lagi harus bertanya atau berkata apa. Wajah Feli memutih seperti tidak ada setetes darahpun yang mengalir disana.


"Kita bertiga lagi" kata Feli lalu berusaha menggapai Ambar.


Sekarang memang mereka bertiga lagi. Tapi dalam keadaan seperti ini, Rea juga tidak menginginkannya.


"Fel. Maafin aku"


"Kenapa? kenapa kamu menyerah? Harusnya kamu ... gak menyerah"


Lama Rea menanti jawaban Feli tapi tidak mendengar apapun. Ambar melihat ke arahnya dan bersama mereka menyadari ada yang salah. Tangan Feli memang masih hangat tapi sahabat mereka hanya bisa diam dan menutup mata. Tidak mungkin. Tidak mungkin. Ambar maju dan mulai memanggil nama Feli berulang kali. Tapi tidak ada tanggapan sama sekali. Ambar lalu pergi meninggalkan Rea yang hanya bisa terpaku di dekat ranjang Feli. Menatap tubuh Feli berangsur menjadi lebih dingin dari sebelumnya.


Ambar menyadari sesuatu. Kehangatan yang ada di ujung jari Feli perlahan memudar. Jari-jemari yang digenggamnya itu perlahan melemah lalu tak bergerak sama sekali. Dia melepas pegangan tangannya dan mulai memanggil nama sahabatnya.


"Fel. Feli. Feli" Berulang kali dia memanggil tapi tidak ada tanggapan dari Feli sama sekali. Sahabatnya itu hanya diam dan Ambar menggelengkan kepala. Dokter, hanya satu kata itu yang terlintas i kepalanya. Dia segera keluar dari kamar Feli, meninggalkan Rea dan berlari sekuat tenaga ke ruang perawat.


"Dokter. Panggil dokter. Feli. Pasien. Feli"


Para perawat segera bergerak menuju ruang Feli dan menyisakan Ambar yang masih tersengal-sengal napasnya sendiri.


Dia tidak masuk ke dalam kamar karena takut mengganggu kerja dokter dan perawat tapi tidak berhenti menguntai doa agar apa yang ada dalam pikirannya tidak terjadi. Tidak boleh. Feli tidak boleh. kalau tidak dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Dia akan merasa bersalah sampai selamanya kalau itu sampai terjadi. Tapi ... tak lama dia mendengar suara jeritan Rea, memanggil nama Feli. Tidak. Ambar berjalan masuk ke dalam kamar dan melihat Rea menangis memeluk tubuh Feli.


"Maafkan kami Tuan. Nyonya ... meninggal"

__ADS_1


Samar Ambar mendengar yang dikabarkan dokter di telinganya. Tapi dia tidak ingin mempercayai semuanya. Dia berakhir tidak melakukan apa-apa dan hanya bisa diam di tempatnya berdiri. Menyaksikan betapa sedih lengkingan suara Rea memanggil Feli.


"Mbar. Ini" kata Kenzo lalu menyodorkan segelas air putih padanya. Acara pemakaman Feli telah selesai diadakan dan Abar kini duduk diluar rumah sahabatnya itu. Dia tidak berani masuk ke dalam karena seakan Feli tidak akan menyukai ide itu.


"Makasih"


"Kamu pulang hari ini ke Jakarta?"


"Iya Ken"


"Ya. Kamu sebaiknya pulang dan istirahat"


"Hm" jawab Ambar.


Kenzo lalu meninggalkannya untuk masuk ke dalam rumah. Mengurus tamu yang datang, menggantikan Bos-nya yang babak belur dipukuli oleh Danial kemarin. Tidak tahu bagaimana keadaan cowok itu, Ambar tidak peduli lagi.


"Ambar" panggil Rea yang juga keluar dari rumah Feli dan suaminya.


"Re"


"Aku balik ke London siang ini"


"Aku juga ke Jakarta"


Ada rasa canggung yang belum pernah terjadi diantara keduanya. Mungkin itu karena rasa bersalah berlebihan yang ada dalam diri Ambar.


"Kamu gak salah Mbar. Yang salah Adhi. Semua salah laki-laki bodoh itu"


"Re ... aku gak bisa ... "


"Feli udah pergi. Jangan sampai kamu juga ninggalin aku" kata Rea lalu menangis. Membuat Ambar sadar kalau salah satu sahabatnya masih ada disini, dihadapannya.


"Re. Aku ... gak ingin kayak gitu. Tapi ... "


"Iya aku ngerti. Kita butuh waktu"


"Banyak waktu"


"Janji kalo kita bakal kontak lagi nanti" kata Rea seakan menuntut. Ambar tidak bisa menjanjikan apapun karena masih merasa menjadi orang yang jahat yang menyebabkan sahabatnya sendiri meninggal karena kesedihan mendalam.

__ADS_1


"Janji"


Keudanya selesai membuat janji dan berpisah dalam waktu bersamaan. persahabatan yang mereka jalin bertiga ternyata bisa mencapai akhir juga. Kini Ambar hanya bisa pulang, menelan semua rasa bersalahnya. Dan berharap bisa bertemu dengan Rea suatu hari nanti tanpa ada perasaan menyiksa seperti sekarang. Semoga saja itu bisa dia lakukan. Semoga.


__ADS_2