
Seakan mimpi di pagi hari, Adhi masih menggenggam ponselnya untuk beberapa saat sebelum bisa duduk lagi di kursinya. Ambar menerima lamarannya. Bukan. Ambar menerimanya untuk datang melamar. Mengejutkan dan hampir tidak dapat dipercaya. Tapi, pasti wanita itu tidak tahu kalau dia yang akan datang Sabtu ini. Bagaimana kalau ternyata Ambar kecewa dan membatalkan semuanya? Apa Adhi masih memiliki muka untuk tetap maju dan mendesak wanita itu menikah dengannya? Mendesak Ambar menikah dengannya? Kenapa tiba-tiba Adhi merasa senang dengan kata-kata itu? Dia tidak boleh senang dulu. Sabtu ini masih tiga hari lagi dan banyak yang harus dia lakukan.
Adhi kembali ke Singapura sesuai jadwal dan bekerja seperti biasa sampai hari Jumat datang dengan begitu cepat.
"Apa Anda akan bekerja besok Tuan?" tanya manajer hotel yang berpengalaman lebih dari dua puluh tahun itu.
"Tidak"
"Apa Anda akan pergi?"
"Iya. Aku akan ke Jakarta"
"Apa ada urusan yang harus Anda selesaikan disana?"
"Iya. Aku akan mencari istri" katanya lalu segera pulang untuk bersiap-siap. Dia tidak ingin tampak kelelahan saat bertemu Ambar besok pagi. Dia tahu pasti manajer hotel yang baru dikenalnya selama kurang lebih delapan bulan itu akan melaporkan semuanya ke pemilik hotel sebelumnya. Tapi Adhi tidak peduli. Yang ada di dalam pikirannya sekarang hanyalah Ambar.
Sabtu pagi, Adhi berada di depan cermin dan merasa tidak yakin dengan penampilannya. Dia berganti jas beberapa kali dan merasa tidak pantas memakai satu pun. Wajahnya juga kini tidak terlihat seperti dulu. Alkohol memang berakibat buruk untuk kesehatan dan juga kulitnya. Tapi, dia sudah membersihkan jenggot dan kumis sebanyak dua kali pagi ini. Dia juga mengubah gaya rambut sebanyak lima kali.
"Ya Allah" katanya lalu menekan dadanya yang berdebar begitu kencang. Dia gugup. Sangat gugup. Semoga saja semua berjalan lancar dan Ambar menerima lamarannya.
Dengan keyakinan itu, akhirnya Adhi berangkat ke rumah Ambar. Sendiri dan tidak membawa apapun.
Adhi sampai di depan gang yang dikenalnya dan membawa masuk mobilnya sampai di halaman rumah Ambar. Ini jam delapan tepat, dia tidak terlambat. Masih merasa gugup, Adhi keluar dari mobil dan melihat rumah Ambar yang sedikit berhias. Ada dua buket bunga yang ada di depan pintu, juga ayah Ambar yang tampak rapi dengan setelan khas muslimnya.
"Kamu datang sendiri?" tanya ayah Ambar segera setelah melihatnya.
Apa dia salah karena datang sendiri? Bukankah ini hanya acara melamar? Apa dia butuh orang lain untuk datang? Adhi tidak berani datang mendekjati ayah Ambar dan hanya berdiri sambil melihat ke kanan dan kiri seperti orang bingung.
"Assalamualaikum" sapanya dulu setelah bisa berjalan mendekat ke ayah Ambar.
"Wallaikum salam. Kamu sendiri saja?"
"Apa saya butuh orang lain saat melamar?"
Ayah Ambar tampak terkejut dengan pertanyaannya lalu menganggukkan kepala berulang kali.
"Silahkan masuk!"
Adhi akhirnya masuk ke dalam rumah Ambar. Setelah dua tahun lamanya, dia akhirnya masuk ke dalam rumah wanita yang dicintainya itu. Ada bau masakan Indonesia yang tercium di hidungnya. Dan di depannya tertata rapi beberapa makanan atau orang Indonesia menyebutnya kue. Bunga juga ada di empat sudu ruangan, membuat suasana rumah Ambar tampak berbeda dengan bayangannya.
"Saya sepertinya melakukan kesalahan dengan datang sendiri kemari" kata Adhi pada ayah Ambar.
__ADS_1
"Tidak. Aku yang lupa dengan perbedaan budaya"
"Perbedaan budaya?"
"Aku akan memanggil Ambar. Kau tunggu saja disini!"
"Baik"
Tak lama, ada suara langkah kaki dari tangga yang terlihat dari ruangan tempat Adhi duduk. Dia berdiri saat melihat seorang wanita dengan gaun biru yang melambai tertiup angin dan juga penutup kepala berwarna senada berjalan turun dari tangga itu. Wajah Ambar terlihat berbeda dari saat dia mengamati malam itu. Cantik sekali. Sangat cantik. Apa benar wanita itu Ambar? tanyanya dalam hati. Dan saat wanita itu berhenti di tengah tangga karena melihatnya. Pertanyaan Adhi terjawab. Kini wajah Ambar berubah seperti heran. Wanita itu pasti terkejut karena melihatnya.
"Kenapa?" tanya Ambar tanpa mengalihkan pandangan dari Adhi.
Seandainya Adhi bisa menjawab, dia akan mengatakan kalau semua ini adalah jalan yang ingin diambilnya. Tapi belum sempat Adhi menjawab, Ambar turun seperti berlari dan mendekat ke arah Adhi. Begitu dekat sampai Adhi bisa mencium aroma yang dirindukannya selama ini.
"Kenapa Anda disini?" tanya Ambar lagi.
.
.
.
"Sudah siap Nak?" tanya ibunya yang sudah hampir sepuluh kali datang ke kamar Ambar pagi ini.
"Belum Bu"
Ambar memakai hijabnya dan mulai mengamati penampilannya di depan cermin. Tidak terlalu jelek untuk acara lamaran.
"Duhh cantiknya anak ibu" kata ibu yang tiba-tiba hadir di belakangnya. Wajah gembira itu kembali membuat tekanan besar untuk Ambar. Inilah yang memang diinginkan oleh kedua orang tuanya. Ambar akhirnya kaan segera menikah. Menikah dengan orang yang bahkan tidak dikenalnya. Apa dia akan baik-baik saja? Tidak tahu. Yang penting dia tidak membuat ayah dan ibunya sedih lagi.
"Apa Ambar boleh ke bawah sekarang? Tadi kayaknya ada suara mobil dateng"
"Iya. Tapi ... kamu bener udah siap?'
Kenapa ibunya bertanya tentang hal ini lagi? Disaat sudah seperti ini?
"Udah Bu"
"Ya udah. Ayo ke bawah"
Ibunya menggenggam tangan Ambar begitu erat saat keluar kamar dan bersiap turun di tangga. Pasti memastikan dia tidak kabur dan mengingkari ucapannya sendiri. Perlahan turun dan Ambar mulai melihat kaki dari laki-laki yang datang melamarnya. Hanya satu kaki, itu berarti hanya ada satu orang yang datang. Wah, aneh juga untuk orang Indonesia datang melamar sendiri. Apa laki-laki itu tidak memiliki keluarga?
__ADS_1
Dan setelah melihat siapa sebenarnya yang datang untuk melemar, Ambar menghentikan langkahnya.
"Apa ini?" tanyanya lalu melihat ke arah ayah dan ibunya.
"Iya Nak. Laki-laki itu yang datang untuk melamar"
Ambar tidak percaya ini terjadi? bagaimana mungkin ini terjadi? Tunggu ... bukankah ayahnya mengatakan kalau laki-laki yang akan melamarnya seorang muslim? Cowok itu bukan muslim. Atau cowok itu berubah keyakinan? Sejak kapan? Tidak ... tidak. Bukan itu yang seharusnya dia tanyakan. Kenapa cowok itu datang kemari dan melamarnya? Apa ini sebuah lelucon? Apa ini? Kenapa begini?
"Apa ibu tahu itu siapa?" tanya Ambar lagi ke ibunya.
"Iya. Bapak dan ibu kenal"
"Terus kenapa?"
"Ayo turun dulu. Kita bicarakan di bawah"
"Gak. Ini gak mungkin"
Sungguh. Ambar tidak pernah berpikir hal ini akan terjadi. Dia memang melihat sosok cowok itu beberapa hari lalu tapi tidak pernah berpikir akan terjadi sesuatu seperti ini? melamar? Apa cowok itu sudah gila? Apa yang dipikirkannya?
Ambar tidak tahan dengan beban yang ada di pikirannya dan segera melangkah turun dari tangga. Begitu cepat dia berjalan dan sudah ada di depan cowok itu. Menatap dan memastikan bahwa laki-laki yang ada di depannya adalah benar Adhitama Elvan Syahreza. Mantan suami dari Felisya. Laki-laki yang menyia-nyiakan temannya sampai meninggal. Laki-laki yang membuatnya merasa bersalah sampai tidak bisa melanjutkan hidup dengan baik.
"Kenapa?" tanyanya tidak dijawab.
Cowok itu hanya bisa menatapnya balik. Jantung Ambar berdetak begitu kencang dan dia ingin lari dari situasi seperti ini. Tapi wajah bahagia ayah dan ibunya tadi berhasil menahan kepergiannya.
"Kenapa Anda disini?" tanyanya lagi pada cowok yang dibenci dan dicintainya secara bersamaan itu.
"Aku datang untuk melamarmu" jawab cowok itu begitu mantap di depannya. Ambar mundur satu langkah dan tidak percaya mendengar suara itu lagi. Tidak ... dia tidak percaya cowok itu akan berkata seperti itu dengan tenangnya.
"Tidak. Tidak. Ini tidak terjadi. Tidak. Pak, Bu, ini gak terjadi kan?" tanyanya pada ayah yang manampilkan wajah pasrah.
"Aku Adhitama Elvan Syahreza datang hari ini untuk bertanya padamu Ambar Ramadhani"
Ambar menoleh dan melihat cowok itu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah kotak yang di dalamnya terdapat cincin dengan hiasan berkilau melingkar.
"Apa kau mau menikah denganku?"
Gila. Apa benar dia mendengar sebuah lamaran sekarang? Dari cowok itu? Ambar merasa ingin mencabut telinganya sendiri dan membatalkan semua yang didengarnya.
"Apa saya sudah gila mau menerima lamaran Anda?" jawabnya membuat suasana semakin tegang. Kini ayah dan ibunya memiliki raut wajah kecewa dan sedih. Dia tidak bermaksud untuk itu, tapi ini keterlaluan. Tidak. Tidak mungkin dia mau menerima lamaran cowok itu. Tidak mungkin.
__ADS_1