
Adhi membuka mata saat mendengar ada nama wanita itu disebut. Dia segera keluar dari kamar dan menemui Feli yang sedang menghubungi seseorang. Sepertinya Feli menghubungi wanita itu dan tanpa sadar dia mengulurkan tangan untuk merebut ponsel kekasihnya.
"Ahh. sayang. Kenapa?"
Adhi menempelkan ponsel di telinganya tapi hanya dapat mendengar bunyi telepon terputus. Dia melihat Feli lalu menyerahkan ponsel itu kembali.
"Maaf. Aku pikir kau menghubungi .. "
"Siapa? Danial? Tidak mungkin. Aku tidak akan melakukan hal itu"
Adhi tidak pernah berpikir kalau Feli akan menghubungi Danial. Dia hanya ... ingin mendengar suara ... Sadar telah membuat Feli bingung, Adhi memeluk kekasihnya itu.
Dia berharap aroma tubuh Feli yang manis akan mengusir semua perasaaan tak menentunya.
"Besok"
"Kita akan pulang ke Indonesia, aku akan menyiapkan semuanya hari ini. Juga mengantar ibu berbelanja"
"Aku ... "
"Sebaiknya kau beristirahat. Beberapa hari ini pasti melelahkan untukmu"
Adhi bersyukur, memiliki kekasih yang mengerti dirinya. Dia harus bersyukur memiliki kekasih seperti Feli yang tidak lama lagi akan segera menjadi istrinya. Harus
"Baiklah. Tapi nanti malam aku akan pergi ke klub"
"Iya. Aku mengerti. Apakah aku harus menyiapkan sarapan untukmu?"
"Tidak perlu. Aku ingin tidur lagi"
"Baiklah"
Adhi kembali ke ranjang dan merebahkan tubuhnya. Menutup matanya dengan lengan lalu membayangkan apa yang dikatakan oleh Danial kemarin. Membayangkan Ambar berdiri di bawah kucuran hujan dan menangis. Selama ini Adhi tidak pernah melihat wanita itu menangis. Ambar selalu berusaha untuk menyembunyikan tangisnya dengan amarah atau ucapan lucu. Bagaimana wajah Am,bar saat menangis? Apa pipinya akan berwarna kemerahan? Adhi begitu sibuk membayangkan wanita itu sampai tertidur kembali. Sepertinya ini adalah tidur terlamanya setelah sepuluh tahun.
Kriinggg. Kringgg
Adhi terpaksa bangun karena mendengar dering ponsel yang mengganggu.
"Apa?"
__ADS_1
"Bos. Ini Kenzo"
"Apa?"
"Semua berkas tentang aset Bos sudah selesai saya kumpulkan. Kalaupun dijual semuanya, kemungkinan Anda akan mendapatkan uang sekitar 50 triliun rupiah. Saya juga sudah menghubungi beberapa orang yang bernminat untuk membeli aset Bos"
"Batalkan!"
"Apa Bos?"
"Batalkan semua. Aku tidak akan menjual apapun"
"Apa? Kenapa?"
"Lakukan saja perintahku!"
"Tau gitu saya jemput ayah saya di Rutan tadi pagi Bos. gak usah ngerepotin Ambar"
Mendengar nama wanita itu, Adhi segera duduk di atas ranjangnya. Ambar, bagaimana keadaan wanita itu sekarang? Adhi ingin sekali bertanya tapi ... untuk apa dia melakukan itu? Dia akan segera menikah Minggu ini.
"Kau berisik" katanya lalu menutup telepon dari anak buahnya.
Apa sebenarnya yang terjadi padanya?Kenapa dia menjadi goyah karena ucapan Danial? Lagipula, Ambar tidak menyukainya. Wanita itu hanya membantunya untuk mendapatkan Feli. Itu saja. pasti Ambar juga tidak menangis hanya karena dia pergi untuk merebut Feli. Dan yang lebih penting. meskipun wanita itu menyukainya, apa hubungannya dengan Adhi? Adhi mencintai Feli. Tidak mungkin baginya menyukai wanita lain sebesar dia mencintai Feli. Adhi lalu bangun dari ranjangnya dan memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Dia harus tampil prima di hari bahagianya dengan Feli nanti.
"Saya sudah bilang kalau Anda harus ke dokter"
Adhi kembali mendengar suara wanita itu disampingnya. Dia tidak berani menoleh dan memilih untuk menyalakan mobilnya.
"Untung saja tidak terlalu parah"
Kini dia mendengar suara isak dan memberanikan diri menoleh ke samping.
Disana dia melihat wanita itu ... menangis. Tetes air mata yang dilihatnya begitu nyata, dan Adhi mulai merasa dia sudah gila. Pipi dan hidung kemerahan, pundak yang bergetar dan tangan Ambar yang terus menyatu sekaan menahan kesedihan.
Adhi mengulurkan tangannya berusaha unuk menyapu air mata Ambar. Tentu saja dia tidak bisa melakukannya, karena apa yang dilihatnya hanyalah bayangan yang kemudian menghilang saat dia menyentuhnya. Kenapa dia membayangkan wanita itu lagi? Dia pasti terlalu banyak berpikir tentang Ambar. Dia harus mengisi otaknya dengan Feli. Adhi pergi menyusul kekasihnya dan membatalkan keinginannya untuk bekerja.
Sebelum itu dia menghubungi Kenzo. Sebagai atasan seharusnya dia tidak boleh memberikan perintah yang plin-plan.
"Halo"
__ADS_1
"Oh, Bos. Kenapa telpon malam-malam Bos? Apa saya harus jual aset sekarang?"
Adhi kini merasa bersalah pada anak buahnya. Dia telah menjadi atasan yang buruk beberapa hari ini.
"Aku akan menikah Minggu ini"
"Apa??? jadi cerita Ambar tentang Bos sama Feli itu benar?"
"Eh, ngapain kamu nyatut nama aku?" tanya seorang wanita yang suaranya pasti Adhi kenali.
"Ngapain sih Lu Mbar. Ikut aja"
"Wuih, jahat banget kamu Ken. Makanya jangan manggil-manggil nama orang kalo telpon. kan aku jadi Ge-er"
Adhi menajamkan pendengarannya dan mendengar semua perkataan wanita itu dengan baik. Perlahan hatinya menjadi tidak tenang kembali. Badannya terasa panas dan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Bagian bawah tubuhnya juga bangkit dan membuat celananya terasa sesak.
"Udah sana Loe" kata Kenzo mengusir Ambar.
"Idihhh. Ngapain sih kak"
"Apa? Mau ikut-ikut?"
Kali ini Adhi mendengar suara wanita lainnya, dia berpikir kalau itu adalah Rindu, adik Kenzo yang baru saja lulus Sekolah Menengah. Lalu, ada suara tawa yang menggelitik telinganya. Tawa itu ... pasti berasal dari Ambar.
"Ayo makan Mbar"
"Iya Budhe"
Ambar berada di rumah Kenzo, bertemu dengan seluruh keluarga anak buahnya itu. Untuk apa? Apa Ambar memang akan menikah dengan Kenzo? Hati Adhi menjadi penuh dengan amarah pada anak buahnya itu. Dia tidak bisa berpikir tentang hal lain dan terus saja merasa kesal.
"Bos, apa Bos masih disana?" tanya Kenzo tiba-tiba.
"Kenapa wanita itu disana?"
"Apa Bos? Bisa lebih keras?"
"KENAPA wanita itu disana???" teriak Adhi, menggema di dalam mobilnya.
"Oh, Ambar. Kan sekarang syukuran ayah saya keluar dari penjara Bos. Jadi ... Ambar kesini untuk bantu-bantu"
__ADS_1
Amarah Adhi yang tadi memuncak kini sedikit reda. Ternyata wanita itu ada di rumah anak buahnya bukan untuk alasan yang ada di pikirannya. Tapi ... kenapa dia tetap kesal? Dia tidak ingin wanita itu menemui Kenzo. Dia tidak ingin wanita iu berada di rumah laki-laki lain. Dia tidak ingin wanita itu disentuh laki-laki lain. Karena hanya dia yang boleh menyentuh Ambar. Hanya dia. Hanya .... .
Adhi terdiam. Pantas saja dia merasa tidak tenang selama beberapa hari ini. Ternyata dia melakukan kesalahan besar. Dia memiliki perasaan pada wanita itu. Bukan hanya suka tapi ... mungkin lebih dari itu. Dan sepertinya, rasa cintanya pada wanita itu lebih besar dibandingkan dengan perasaannya pada Feli, calon istri yang akan dinikahinya akhir Minggu ini.